oleh

Dulang Rupiah dari Budi Daya Kurma di Indonesia

-Ekbis, Unik-2 views

SUMEKS.CO-Bisnis bibit kurma, berkebun Kurma mulai marak di tanah air. Ya itu barangkali beberapa penelitian dan uji coba tanam di berbagai daerah sudah bisa dilihat dan dirasakan. Meski rasa tak sama dengan buah kurma yang  impor.

Penelitian selama 4 tahun lebih di Pondok Pesantren Pari Ulu, Kediri, Jawa Timur, Indonesia misalnya   telah membuahkan hasil.  Dari 14 jenis kurma yang dibudidayakan, 3 diantaranya telah berbuah.

Kurma dengan jenis Ajwa, Ruzeis, dan Madinah. “Perawatannya itu harus telaten dari memberikan air, hingga menjauhkan dari hama,” kata Santri Ponpes Usman Efendi.

Hingga saat ini, kurma hasil budidaya ponpes binaan Mustain Anshori belum dijualbelikan karena masih dalam proses penelitian. Setelah terbukti bisa dikembangkan oleh petani di Indonesia, baru akan dijual dengan harapan dapat dibudidayakan secara massal.

Pengasuh Ponpes KH. Mustain Anshori telah melakukan penelitian  dan  membudidayakan 14 jenis kurma di Kediri Jenis-jenis kurma yang ia budidayakan diberi nama Kurma Nusantara. Ia menjelaskan, penelitian sudah dilakukan dalam beberapa tahap.

Pertama, kurma yang dibudidayakan bisa berbuah dalam kurun waktu 4 tahun lebih sejak benih mulai ditanam. Sedangkan dalam eksperimen tahap dua, kurma bisa berbuah dalam kurun waktu dua tahun.

Lain halnya dengan Salah satu pembudidaya pohon kurma  Soeparlan (67), waga Desa Truneng, Kabupaten Magetan, Jawa Timur. Di lahan seluas 1,2 hektar miliknya, lulusan sekolah pertanian Yogyakarta tahun 1970 tersebut menanaminya dengan pohon kurma sebanyak 270 pohon.

“Tertariknya dari Youtube, di mana petani di Thailand itu bisa menghasilkan 1,4 miliar dari lahan 1 hektar setelah pohon kurma sebanyak 150 pohon berusia 5 hingga 6 tahun,” ujarnya.

Soeparlan mulai menanami kebunnya dengan kurma pada akhir tahun 2015, dengan bibit awal sebanyak 60 batang yang didatangkan dari laboratorium pengembangan kurma di Inggris. Pilihan Soeparlan membeli bibit di Inggris dibandingkan Arab Saudi karena pertimbangan waktu. “Kalau dari Arab butuh waktu 3 bulan baru sampai, kalau dari Inggris hanya 2 bulan sudah sampai,” katanya.

Kurma di tanah Aceh

Bagaimana di tanah Sumatera? Lahan tandus lagi gersang di kawasan Blang Bintang, Aceh Besar, Provinsi Aceh juga berhasil dirubah menjadi produktif dan hingga kini sudah ditamani sebanyak 7.000 batang kurma impor dari Inggris.

“Bibit kurma ini semuanya diimpor dari Inggris dan hingga sekarang sudah ditanami sebanyak 7.000 batang kurma,” kata pelopor kebun Kurma Barbate, Mahdi di Kawasan Blang Bintang, Aceh Besar.

Pada prinsipnya kita ingin menghidupkan tanah “mati” agar menghasilkan dan bermanfaat bagi segenap makhluk Allah SWT, sambung mantan Kepala Bank Indonesia (BI) Provinsi Aceh ini. Dan kini telah siap panen.

Sementara Sutrisno (56) warga Jalan Kawung, Kecamatan Ponorogo, juga  menekuni usaha jual bibit buah kurma. Jenis kurma yang ditanamnya sesuai dengan daerah tropis seperti Indonesia. Pensiunan Pegawai Negeri Sipil (PNS) ini lebih memilih fokus di usahanya dalam menjual berbagai bibit tanaman impor. Bapak dua orang anak ini menjelaskan, potensi usaha jual bibit kurma tidak hanya potensi ekonomi, tapi sesuai dengan tuntunan dalam agama Islam.

“Kurma mempunyai kelebihan dibandingkan buah yang lain, selain itu potensi ekonominya juga luar biasa,” jelasnya.

Ia bahkan rela membeli pohon kurma senilai Rp 16 juta dan menunggu masa tanam satu tahun untuk tahu bagaimana mengembangkan pohon kurma yang tepat di Ponorogo. “Sementara saya punya benih kurma Mehool, Barhee, Tunis dan Ajwa,” ujarnya.

Untuk buah kurma jenis Ajwa saja, per kilogramnya dijual dengan harga Rp 500 ribu. Satu bibitnya berusia 1 bulan dihargai Rp 500 ribu. Dengan potensi ekonomi seperti ini, Pak Tris, sapaan akrab Sutrisno, berharap masyarakat Ponorogo segera menyadari hal ini dan segera beralih usaha menjadi penjual bibit tanaman kurma.(li6/cendana/detik/radar/acehsatu)

 

Komentar

Berita Lainnya