oleh

Dulu Cari Sinyal Harus ke Pintu Langit, Sekarang Tanjung Keling Sudah Terhubung

PAGARALAM  – Endang (40) meraih gawai yang ada di kantong celananya, Jumat (18/9). Ketua RT 07 Dusun Tanjung Keling Kelurahan Burung Dinang Kecamatan Dempo Utara ini bermaksud  menghubungi Mustofa, Ketua RW. Gawai milik Endang berdering, tanda teleponnya tersambung dengan Mustofa.

“Kaba di mane?” tanya Endang kepada Tofa. “Aku dang di Muara Siban makini. Senampur agi aku ke sane,” jawab  Mustofa di seberang telpon.

Endang pun menarik nafas lega. Sebab dari atas bukit yang jadi kebun cabai itu di Dusun Tanjung Keling, ia sudah bisa menghubungi orang lewat telepon.

“Dulu, kalau mau menelpon kami harus ke Pintu Langit dulu,”ucap Endang. Sembari bicara demikian, ia menunjuk satu titik nun di sana.

Pintu Langit adalah nama sebuah air terjun yang berjarak sekira setengah kilo dari Tanjung Keling.

Belakangan kawasan Pintu Langit ramai. Lantaran jadi lokasi para siswa belajar jarak jauh dengan sistem daring.

Sebab hanya di sinilah sinyal telepon seluler lebih kuat. Disini pula dibangun pondok-pondokan khusus untuk siswa belajar daring.

Dusun Tanjung Keling memang sebelumnya tak memiliki sinyal samasekali. Kondisi ini menurut Endang, sudah puluhan tahun, persisnya sejak telpon seluler dipakai untuk komunikasi.

Maka, ketika warga di dusun lain sudah menikmati telpon dari jarak jauh, warga Tanjung Keling belum.

“Mungkin karena dusun ini dikelilingi bukit, jadi sinyal susah masuk,” ujar Tius, ketua RT 06, ketika ditemui di tempat yang sama.

Lurah Burung Dinang, Franses Jhoniko SE mengatakan, selama ini sering bingung untuk menyampaikan informasi kepada RT dan RW Dusun Tanjung Keling. Padahal informasi ini cukup penting untuk diketahui.

“Ketika ditelpon tak ada yang nyambung,”ucap Iko, ketika ditemui di kantornya.

Dua Antena

Pada mulanya adalah PT Picotel Nusantara, sebuah vendor Telkomsel. Pada Rabu (16/9), bersama Dinas Kominfo Pagaralam, Picotel memasang tiga alat yakni antena donor atau receiver, antena sektoral, dan repeater.

Ketiga alat inilah yang membuat sinyal Telkomsel, terpancar luas di Dusun Tanjung Keling. Sehingga Endang pun bisa mengontak orang-orang lewat gawainya tadi.

Pantauan dilapangan, antena receiver ditanam di puncak bukit dengan tiang  bambu. Antena ini menghadap langsung ke pemukiman Dusun Tanjung Keling. Berjarak sekira 20 meter, dipasang pula antena donor atau transitor juga dengan tiang bambu.

“Jangkauan sinyal ini antara 500-700 meter. Horizontal,”ujar Yuda, teknisi PT Picotel Nusantara.

Yuda menjelaskan, antena donor atau receiver berfungsi untuk menangkap sinyal Telkomsel yang dipancarkan dari menara Base Transceiver Station (BTS) di Dusun Talang Darat. Antena receiver lalu meneruskan sinyal ini ke repeater. Repeater adalah alat yang berbentuk persegi panjang yang berfungsi untuk mengolah sinyal.

“Setelah diolah di repeater, sinyal lalu diteruskan ke antena sektoral. Baru kemudian dipancarkan ke Dusun Tanjung Keling,” tutur Yuda.

Selain untuk telponan maupun SMS, Yuda mengatakan, sinyal telepon di Dusun Tanjung Keling sudah bisa digunakan berselancar di dunia maya. Youtube misalnya. “Sinyal di sini 4G dan 3G,”ucapnya.

Ketiga alat itu bisa beroperasi dengan tenaga listrik. Maka, sementara ini, listrik dialirkan dari rumah penduduk yang terdekat dari lokasi antena.

Ke depan, Endang berharap, ada KWh meter khusus untuk mengalir listrik ke antena receiver, repeater, dan transitor.

“Saya sudah bicara dengan Kominfo. Mereka akan mengusahakan tiang besi dan Kwh meter,” ucap Lurah Iko.

Endang dan Tius pun memastikan, pihaknya akan menjaga alat-alat penangkap sinyal ini.

Sebab alat inilah yang membuat mereka bisa menggunakan telepon seluler. Ia pun menyampaikan terimakasih kepada pihak terkait yang telah membantu pemasangan alat-alat ini. (ald)

Komentar

Berita Lainnya