oleh

Ekonomi 2019, Dahlan Iskan: Meskipun Sulit Tapi Ada Harapan

-Headline-749 views

JAMBI – Kondisi perekonomian Indonesia di 2019 diprediksi masih dikategorikan aman. Hanya saja pelaku ekonomi harus berjuang lebih kuat untuk mendapatkan keuntungan bisnis.

Namun masyarakat juga tidak boleh berharap dari sektor perkebunan seperti karet dan sawit.

Hal ini diungkapkan oleh, Dahlan Iskan dalam acara yang bertajuk Ekonomi Outlook 2019 yang digelar oleh Koran Harian Pagi Jambi Independent, di BW Luxury hotel, Sabtu (19/1) malam.

General Manager Jambi Independent, Munawir saat memberikan sambutan.

Acara yang dihadiri oleh pengusaha dan kepala daerah se-Provinsi Jambi serta unsur Forkopimda ini digelar untuk menakar apa saja hambatan dan peluang ekonomi di tahun 2019.

Disampaikan Dahlan Iskan bahwa, kondisi perekonomian Indonesia saat ini untuk makro ekonomi masih aman. Hal ini bisa dilihat dari APBN yang masih aman serta pajak dan pendapatan negara yang tercapai.


“Saat ini defisit APBN malah mengecil sehingga makro ekonomi cukup baik dan ini yang membuat kita lega. Ditambah inflasi yang rendah serta pertumbuhan ekonomi yang tumbuh 5,1 persen. Saya pikir pertumbuhan di 5,1 ini masih lumayan meskipun tidak besar,” ujarnya.

Namun, Dahlan memberikan catatan pada mikro ekonomi yang dinilai tidak bergerak dan masih sangat stagnan.

Hal tersebut bisa dilihat salah satunya dari investasi langsung ke Indonesia belum begitu baik.

“Banyak uang keluar seperti perusahaan asing yang labanya besar, namun dividen ditarik keluar negeri. Jadi saat ini kondisinya makro ekonomi baik. Ibarat manusia punya tangan.

Tangan bekerja dengan baik. Masalahnya ada di kaki. Kakinya kurang bergerak.

“Kedua kaki yang tidak bergerak ini yaitu, mikro ekonomi. Bisnis tidak bergerak. Perlu usaha yang kuat untuk lebih maju,” urainya. 

Lanjutnya, tahun 2019 ini merupakan tahun babi yang berarti kemakmuran. Tahun babi, tapi ada unsur api. Membawa kemakmuran untuk hal tertentu.

Siapa yang kerja keras, bersahabat, suka humor dia yang beruntung. “Meskipun sulit tapi ada harapan,” ujarnya.

Dijelaskannya bahwa, sepanjang 2019 kelapa sawit, belum bagus. Batubara turun. Sehingga perlu mencari peluang lain.

“Pedagang mobil mungkin tidak sebaik tahun lalu, kecuali ada langkah langkah tertentu yang diambil,” ujarnya.

Sedangkan untuk komoditi sawit, menurutnya ada harapan BBM bisa diolah dari sawit.

Namun untuk tahun ini kemungkinan belum bisa terwujud. “Kalau untuk tahun ini saya rasa belum bisa terwujud untuk BBM dari sawit tersebut. Jadi jangan berharap banyak dari sawit dan karet,” sarannya.

Lalu,apa yang harus dilakukan pengusaha? Menurutnya pengusaha maupun kepala daerah di Provinsi Jambi harus mampu memanfaatkan letak geografis Provinsi Jambi yang dihimpit  2 provinsi besar yakni, Riau dan Sumsel.

“Inilah yang harus dipikirkan. Apakah Jambi mampu menyedot atau bahkan justru tersedot oleh dua provinsi ini,” ujarnya.

Sementara itu, Bayu Martanto, Kepala Bank Indonesia (BI) Perwakilan Provinsi Jambi yang mengatakan bahwa, pertumbuhan ekonomi Indonesia maupun Provinsi Jambi yang masih tumbuh baik.

Pertumbuhan ekonomi di Provinsi Jambi, katanya,  4,6 hingga 5 persen. Untuk 2019 ini diprediksi tumbuh 4,7 hingga 5,1 persen.

Inflasi optimis masih di angka 3 persenan. Kalau di Nasional memang di atas 5 persen. Untuk kondisi ini kemungkinan harga bisa naik, karena perkiraan kami harga sawit dan karet naik.

“Memang ada kemungkinan mengecil volume permintaan sawit dan karet ini di 2019, karena imbas peran dagang Amerika dan Cina,” bebernya.

Dirinya berharap, ke depan agar perekonomian Jambi lebih kuat. Tentu dengan beberapa cara pertama Peremajaan dan penguatan sektor pertanian.

Kedua melakukan transformasi ekonomi, tidak selalu bergantung pada sektor alam. “Dan ketiga mencari sumber pertumbuhan ekonomi baru, bisa misal pariwisata,” bebernya saat memberi sambutan.

Sementara itu menurut Sri Argunaini, Staf Ahli bidang ekonomi, keuangan dan pembangunan Provinsi Jambi saat memberikan sambutan juga memberikan ke optimisannya terhadap ekonomi Provinsi Jambi ke depan.

“Untuk pertumbuhan ekonomi kita optimis bisa tumbuh, tentu dengan berbagai usaha yang berbasis ekonomi tekhnologi,” bebernya.

Acara juga diisi dengan tanya jawab dari kepala daerah dan pengusaha yang hadir. Seperti Walikota Jambi, Syarif Fasha yang mengaitkan ekonomi di 2019 dengan tahun politik yang membuat pelaku usaha masih wait and see.

“Banyak pelaku ekonomi yang menahan bisnis. Karena ini tahun politik. Kami pemerintah selalu menjamin para investor untuk berinvestasi di Kota Jambi,” bebernya.

Fasha juga menekankan pentingnya pemberitaan dari media massa yang memberi pengaruh yang besar kepada masyarakat.

Media juga memberikan peran dalam memberikan informasi kepada masyatakat. Masyarakat harus diyakinkan bahwa kondisi saat ini aman, sehingga investasi di Indonesia juga aman.

“Jangan ditakut-takuti dengan berita yang akhirnya membuat resah masyarakat dan ini tentunya berpengaruh terhadap investasi,” jelasnya.

Sementara Bupati Tebo, Sukandar juga mengeluhkan kondisi sebagian besar masyarakatnya yang merupakan petani sawit dan karet.

Sementara saat ini sawit dan karet tidak bisa lagi diharapkan untuk meningkatkan perekonomian masyarakat.

“Hampir 70 persen masyarakat saya di Tebo adalah petani sawit dan karet. Sementara harga kedua komoditi ini tidak bisa diandalkan. Kami juga sudah memberikan izin pembangunan pabrik untuk pengelola karet. Namun hingga saat ini izin tersebut masih terganjal di Kementerian. Inilah yang menjadi permasalahan kami saat ini,” ungkapnya.

Sementara itu, Ketua DPR REI Provinsi Jambi, Ramond Fauzan mengatakan bahwa, untuk sektor perumahan, tentunya saat ini Provinsi Jambi mendapatkan kesempatan untuk tumbuh di bidang properti.

“Apalagi Provinsi Jambi akan dilalui oleh jalur kereta api dan jalan tol yang tentunya akan menjadi kesempatan untuk bidang properti tumbuh,” bebernya. (viz/zen/jambiindependent)

 

Komentar

Berita Lainnya