oleh

Ekonomi Cina Melambat, RI Kena Dampaknya

-Edukasi, Ekbis-70 views

SUMEKS.CO-Perang dagang antara Cina dan Amerika Serikat (AS) berdampak pada perdagangan Indonesia. Ekonom memproyeksikan kondisi demikian akan berlangsung lima tahun ke depan pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Maaruf Amin.

Ekonom senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Andry Satrio Nugroho mengatakan, kondisi untuk mengantisipasi dampak perang dagang Cina dan AS yang tak kunjung berakhir bakal sangat berat. Hal itu karena komposisi mentri kabinet Indonesia Maju periode 2019-2024 masih belum dalam kondisi ideal.

Kenapa demikian? Karena bila melihat posisi strategi penopang industri Indonesia seperti Kementerian Perindustrian (Kemenperin) dan Kementerian Perdagangan (Kemendag) masih diisi dari kalangan partai.

“Idealnya posisi ini berasal dari profesional. Jika memang ingin dari partai, tentu perlu dipilih dengan latar belakang dan keahlian yang mumpuni. Pemilihan wamen yang idealnya dari kalangan profesional dan pejabat karir pun hanya sebagian yang dipenuhi,” ujar Andry kepada Fajar Indonesia Network (FIN), kemarin (27/10).

Lanjut Andry, bahwa tidak ada yang mengira perang dagang dengan AS mampu menekan pertumbuhan ekonomi pada kuartal ketiga Cina menjadi yang terendah selama 27 tahun. Perdagangan Cina sudah mengarah pada perlambatan. Pada September, pertumbuhan ekspor Cina menurun 3,2 persen, sementara impornya menurun hingga 8,5 persen dibanding tahun lalu. Tentunya, penurunan pertumbuhan ekspor terbesar terjadi dengan AS dengan penurunan sebesar 7,8 persen, dan impor menurun hingga sebesar 31,2 persen.

Jika ditelusuri lebih lanjut, kata Andry, pelemahan indikator perdagangan ini disebabkan oleh pengenaan tarif yang tinggi oleh AS terhadap komoditas impor dari Cina. Kondisi ini memaksa industri domestik Cina untuk mengencangkan ikat pinggang. Beberapa diantaranya memilih untuk relokasi pabrik serta basis produksinya ke beberapa negara sekitar seperti India, Vietnam, Thailand dan Malaysia demi tetap masuk ke pasar AS.

Cina juga mengalami inflasi sebesar 3 persen, tertinggi selama 7 tahun terakhir. Harga pangan menjadi penyumbang terbesar dari inflasi. Meningkatnya harga pangan didominasi oleh krisis daging babi yang disebabkan oleh flu babi Afrika menjangkit setengah dari populasi babi di China.  Selain pangan, kenaikan harga juga dialami oleh harga pakaian. Besarnya kenaikan harga tentu menekan permintaan domestik.

“Melambatnya perekonomian Cina bisa menjadi pertanda yang tidak cukup menggembirakan bagi perdagangan Indonesia,” kata Andry.

Alasannya, mitra dagang terbesar Indonesia adalah Cina dengan total perdagangan mencapai 45,9 miliar dolar AS sepanjang Januari hingga Agustus tahun ini. Cina juga menjadi negara tujuan ekspor terbesar asal Indonesia mencapai 17,2 miliar dolar AS. Komoditas yang diekspor pun juga memiliki kontribusi terbesar terhadap ekspor secara keseluruhan, sebut saja minyak sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO), batubara, besi dan baja, bijih tembaga dan produk dari kayu.

“Beberapa komoditas tersebut rentan mengalami pelemahan dalam lima tahun ini akibat melemahnya permintaan dari Cina,” ungkap dia.

Padahal, lanjut Andry, besarnya porsi perekonomian Indonesia ditopang oleh komoditas CPO. Jika terjadi penurunan permintaan dari pembeli terbesar seperti Cina, maka dipastikan perekonomian Indonesia akan melemah. Nah, untuk mencegah hal ini tentu perlu menjadi fokus lintas kementerian.

“Meski Pak Jokowi mengatakan perlu adanya upaya kerjasama dan meredam kampanye negatif sawit, tetapi juga Indonesia perlu mendorong sawit berkelanjutan di dalam negeri. Saya rasa upaya ini cukup banyak, ambil contoh bagaimana kita perlu peran lembaga keuangan dalam mendorong agar perusahaan sawit menerapkan prinsip NDPE (no deforestation, no peat, no exploitation). Jika terbukti melanggar, tidak diberikan pinjaman modal,” tutur dia.

Saat ini, komoditas batubara sudah terkena imbasnya. Saat ini harga batubara acuan anjlok, terendah dalam tiga tahun sebesar 64,8 ton. Selain dari turunnya permintaan Cina dan isu pengenaan kuota impor, permintaan dari Eropa dan Asia Timur juga terus menurun akibat pengalihan energi ke gas alam dan terbarukan.

“Tentu Kementerian ESDM dan Kemenperin perlu cermat untuk mulai melakukan sinergi dengan mencoba untuk mengolah batubara tersebut di dalam negeri. Saat ini sudah ada peluang gasifikasi, tetapi ke depan perlu ditemukan yang lain,” ucap dia.

Di sektor batubara juga menghadapi dilema mengenai perpanjangan kontrak yang akan berakhir lima tahun ke depan. Regulasi operasional pasca kontrak pun harus jelas. Tanpa ini, investasi di sektor tersebut akan hanya berlangsung pada jangka pendek saja.

Lalu kemudian industri besi dan baja yang menghadapi cukup banyak permasalahan saat ini yang mana tentu di dalam negeri masih ada peluang untuk ekspor meskipun kita tahu bahwa BUMN seperti Krakatau Steel merugi dan terlilit utang akibat melemahnya daya saing dan kekacauan mismanajemen perusahaan.

“Cost of production perlu ditekan, salah satu caranya adalah menggunakan teknologi blast furnance (taur tiup). Ini sudah dilakukan oleh Krakatau Steel, setelah penantian selama 10 tahun. Pekerjaan selanjutnya adalah restrukturisasi utang dan mengelola masuknya besi dan baja impor,” ujar dia.

Sementara Direktur Riset Center of Reform on Economics (Core) Indonesia, Piter Abdullah mengatakan, bahwa melemahnya pertumbuhan ekonomi Cina akan berdampak pada produk ekspor Indonesia. “Perlambatan ekonomi cina akan menurunkan permintaan terhadap produk ekspor indonesia” ujar Piter kepada Fajar Indonesia Network (FIN), kemarin (27/10).(din/fin)

Komentar

Berita Lainnya