oleh

Ekonomi dan Narkoba Faktor Utama Perceraian

MURATARA – Dampak ekonomi dan narkoba, dominasi kasus perceraian di wilayah Kabupaten Muratara. Hal ini diungkap secara langsung, Kepala KUA Kecamatan Rupit, Joni Hardi, yang menegaskan ada 15 kasus perceraian selama pandemi Covid-19.

“Saat Pandemi Covid-19 di 2020, banyak sekali kasus perceraian khususnya di kecamatan Rupit. Mayoritas saat ditanyai faktornya, cuma dua masalah ekonomi dan narkoba,” katanya, Selasa (23/2).

Dia mengaku, rata rata yang mengajukan perceraian mayoritas pihak istri. Karena mereka merasa di tengah pandemi mengalami krisis ekonomi maupun krisis kepercayaan terhadap suami.

“Istri banyak mengajukan gugatan perceraian dengan alasan mereka tidak dinafkahi dan suami mereka mengkonsumsi narkoba. Kondisi itu diperparah dengan Pandemi Covid, banyak warga yang tidak bekerja,” ujarnya.

Pihaknya menegaskan, hanya mencatat regitrasi kasus perceraian dan menasehati pasangan agar bisa memperbaiki kondisi internal keluarga mereka. Namun jika ada pasangan yang merasa tidak bisa lagi memperjuangkan kondisi keluarga, mereka di arahkan melanjutkan perkara itu ke Pengadilan Agama.

“Kami hanya mencatat saja, karena kasus rumah tangga yang sudah tidak bisa di pertahankan lagi dan maju di pengadilan. Rata rata akibat dampak narkoba itu, narkoba bisa menghancurkan rumah tangga itu benar,” tegasnya.

Joni Hardi, mengaku di awal 2021, belum ada lagi yang mengajukan permasalahan gugatan perceraian. Dan justru sebaliknya saat ini sudah banyak yang mendaftar untuk melangsungkan pernikahan. “Dari januari hingga Februari 2021, ada sekitar 57 pengajuan untuk melangsungkan pernikahan,” bebernya.

Sementara itu, Ketua Generasi Anti Narkoba Nasional (Gan) Muratara, Rudi Hartono membenarkan jika saat ini Narkoba khususnya di wilayah Muratara, beredar seperti kacang dan jajanan pasar.

“Narkoba itu sangat merusak, merusak mental maupunasa depan. Karena orang yang mengkonsumsi narkoba selalu alami halusinasi yang berlebihan dan menginginkan hidup yang sumpek dan praktis,” ucapnya.

Halusinasi berlebihan itu lama lama, akan merubah mental dan cara berpikir orang yang mengkonsumsi narkoba.  Sehingga bisa menjerumuskan ke dalam aksi kriminalitas, penganiayaan dalam rumah tangga dan lainnya.

“Sabu sabu dan extasy, saat ini seluruh desa sudah masuk. Harus ada gerakan nyata untuk memberantas narkoba itu,” tegasnya.(cj13)

Komentar

Berita Lainnya