oleh

Empat Kali Dipanggil Bos Parno

Waktu itu, di awal tahun 2000. Di sela-sela menunggu antrean potong rambut di Jl Mayor Salim Batubara, Simpang Sekip saya melihat ada koran. Rupanya koran Sumeks. Di pojok salah satu halaman ada pengumuman penerimaan calon wartawan. Tetapi, bukan untuk Sumeks, melainkan calon wartawan Tabloid Monica. Manejemen Sumatera Eskpres (Sumeks) akan menerbitkan Tabloid Wanita yang diberi nama Monica.

Saya baru beberapa bulan menyelesaikan kuliah di Fakultas Pertanian Universitas Sriwijaya (Unsri). September 1999 saya diwisuda. Setelah tamat, saya bekerja serabutan. Apa saja saya kerjakan, yang penting halal. Maklum mau pulang kampung “malu” karena sudah menyandang status Sarjana Pertanian. Saya tetap saja berada di Palembang (ngekos). Yang jelas, saya bertekad harus bekerja. Yang paling lama, saya ikut proyek beberapa dosen Unsri. Baik proyek dari Bappenas maupun proyek dari luar negeri.

Begitu melihat pengumuman di koran Sumeks. Tanpa pikir panjang lagi saya melengkapi berkas dan mengirimkan lamaran ke kantor Sumeks, Jl Kol H Burlian (samping Punti Kayu) via PT Pos. Hampir setiap hari saya baca Sumeks. Kalau lagi ada uang saya beli. Atau jika lagi buntu (tidak ada uang) numpang dengan teman atau di tetangga sebelah untuk melihat apa ada panggilan tes. Soalnya, catatan di pengumuman tersebut, nama-nama yang dinyatakan lulus secara adiministrasi akan diumumkan kembali di Sumeks.

Benar saja. Pada Februari 2000, suatu pagi saya beli Sumeks. Saya bolak balik lembaran koran Sumeks yang masih lebar (9 kolom) belum seperti sekarang. Dan ternyata, ada nama saya diantara puluhan nama dalam pengumuman daftar pelamar calon wartawan Monica. Saya dinyatakan lulus administrasi dan harus mengikuti tahapan seleksi. Tahapannya, tes tertulis dan tes wawancara (interview). Walhasil, saya melewati semuanya dan dinyatakan diterima sebagai calon wartawan.

Mei 2000, saya mulai tugas sebagai wartawan pemula. Entah kenapa. Kebijakan Pemimpin Redaksi (Pemred) ketika itu, Mas Ali Fauzie, saya dan satu lagi teman saya (M Julheri) batal sebagai wartawan Monica. Kami berdua gabung di redaksi Sumeks. Sebagai orang baru, saya harus ikut magang dulu dengan wartawan senior. Pertama kali tugas, saya disuruh nge-bid (tempat liputan) di Kantor Walikota Palembang. Ikut wartawan senior Hendra Alfani (ketika masih wartawan).

Selama enam bulan pertama saya menjadi wartawan Sumeks sudah beberapa kali pindah tempat liputan. Pernah di rumah sakit umum RSMH, Pengadilan Agama, dan terakhir Poltabes Kota Palembang. Pokoknya semua bidang harus bisa menulis beritanya. Mulai berita kriminal, politik, ekonomi, pendidikan, kebudayaan dan lainnya.

Panggilan Pertama, Panas Dingin

Pengalaman pertama yang menegangkan. Ketika saya diajak redaktur Seni dan Budaya (mas Teje—Tri Junaidi). Persis harinya saya tidak ingat. Juli Tahun 2000, salah satu perusahaan rokok di Palembang mengadakan pesta rakyat di lapangan PT Pusri dan mengundang artis dari Jakarta. Novia Kolopaking (istrinya seniman/budayawan Ainun Najib). Usai liputan saya dan Mas Teje langsung pulang ke kantor untuk mengetik hasil liputan.

Saya bergegas mengetik berita. Belum separuh hasil ketikan, Boss Parno (Suparno Wonokromo) memanggil saya. “Dik sini. Ini sudah malam, kamu ceritakan saja hasil liputannya.” Rupanya Boss Parno lagi menyiapkan tulisan Boks (cerita features)—cerita human interest di halaman 1 bagian bawah. Tulisan ini adalah salah satu andalan Sumeks dan ciri khas Jawa Pos ketika itu.

Terus terang saya gugup. Boss Parno sambil mengetik dengan sebelas jari (telunjuk kiri dan kanan) terus nyerocos mengajukan pertanyaan. Beliau minta gambarkan suasana acaranya. Sekali-kali minta data hasil wawancara dengan sang artis. Berkeringat dingin saya. Meski hari mendekati pukul 24.00 WIB di ruang AC, badan saya panas dingin. Maklum, wartawan baru. Saya tidak menduga malam itu berita saya diedit langsung oleh Big Boss Sumeks—Boss Parno. Ya, begitulah, esoknya, ciamik sekali tulisannya. Liputan saya di halaman 1 dan ada nama saya di sana sebagai penulis….hem batin saya bangga.

Panggilan Kedua, Ditugaskan di Lubuklinggau

Oktober 2000, Boss Parno memanggil saya lagi. Kali ini khusus. Saya diminta menghadap di ruangannya. Melalui salah seorang redaktur, saya diminta menghadap ke ruangan Boss Parno di lantai dua. Ruangan yang bersebelahan dengan ruang rapat Sumeks saat ini. Batin saya terus bertanya. Dag dig dug. Salah apa gerangan saya?, hingga Boss besar memanggil. Dengan ucapan bismillah, saya temui Boss Parno di ruangannya.

“Dik Pur siap ditugaskan di Lubuklinggau,” kata Bos Parno. Saya diam sejenak. Lalu, saya jawab siap Boss. Tetapi kata saya ada syaratnya. Kening beliau sedikit mengerenyit. Apa? kata Boss Parno. “Saya minta difasilitasi kredit sepeda motor. Soalnya Boss, gaji saya kecil kalau tidak ada kendaraan maka gaji saya habis untuk ongkos angkot, karena kantor di Lubuklinggau berjauhan letaknya. Apalagi, di Lubuklinggau ada dua pemerintahan Kabupaten Musirawas dan Kota Adiministratif (Kotib) Lubuklinggau—waktu itu belum pemekaran menjadi Pemerintah Kota (Pemkot) otonom .

“Anda kan masih baru. Masih magang. Sebenarnya belum boleh kredit sepeda motor. Tapi, ya, sekarang ada uang berapa untuk DP (Down Payment),” jawab Bos Parno. Ternyata argumen saya masuk logika Boss Parno dan beliau mengabulkan permintaan saya. Saya minta waktu kepada Boss Parno untuk pulang ke kampung. Saya mau pamit dan izin kepada orang tua (Bapak) sembari ‘merasani’ Bapak agar meminjami uang untuk DP kredit sepeda motor di kantor. Waktu itu, saya menyanggupi DP Rp 1 juta kepada Boss Parno. “Kalau sudah ada uangnya langsung kamu setor ke keuangan,” pinta Boss Parno.

Saya membayar Rp 1 juta ke keuangan Sumeks (sebagai Down Payment-DP) sepeda motor Astrea Impressa. Sumeks memang banyak stok sepeda motor. Puluhan merek sepeda motor ternama yang didapat Sumeks setiap tahunnya. Hasil barteran atau kerjasama perusahaan otomotif yang memasang iklan.

Saya memang faham kondisi Kota Lubuklinggau dan Musirawas karena sudah pernah ke sana. Beberapa kali ke Lubuklinggau berkunjung ke rumah saudara di sana. Kenyataannya memang kantor Bupati dan Kantor Walikotib Lubuklinggau jaraknya tidak kurang dari 10 Km. Selain habis uang gaji buat ongkos, mobilitas saya akan terhambat dan liputan berita tidak efektif jika tidak ada kendaraan sendiri.

Tugas saya sebagai wartawan daerah sejak Januari 2001. Wilayah kerja liputan Kabupaetn Musirawas dan Kota Lubuklinggau (belum ada Kabupaten Musirawas Utara). Saya menggantikan posisi Kak Solihin yang ditugaskan Boss Parno mengelola koran Linggau Pos yang terbit per Maret 2000. Koran lokal kabupaten/kota yang pertama untuk di Sumatera Selatan.

Sebelumnya, Sumeks memang sudah menerbitkan koran dan tabloid. Tetapi masih terpusat di Kota Palembang dan ibukota provinsi lainnya. Sebut saja ketika itu, Palembang Pos dan Tabloid Monica di Kota Palembang. Kemudian, Babel Pos di Provinsi Bangka Belitung dan Radar Lampung di Lampung.

Saya tidak tahu dari mana penilaian Boss Parno hingga menugaskan saya ke Lubuklinggau. Apa faktor nasib atau faktor lainnya? Yang jelas waktu itu, saya tidak terlalu memikirkannya. Di benak saya, sama saja, di Palembang saya merantau. Begitu pun bertugas di Lubuklinggau juga merantau.

Belakangan, saya baru tahu jawabannya, ternyata atas ‘pesanan’ kak Solihin lah, Boss Parno meminta saya ke Lubuklinggau. Ketika Kak Solihin ke Palembang bertemu saya secara tak sengaja. Pagi-pagi sekali dia sudah di kantor Sumeks. Kak Solihin naik kereta api malam dari Lubuklinggau dan tiba di Palembang pagi/subuh. Dan memang saya sering ke kantor dulu untuk mengambil koran jatah redaksi sebelum berangkat liputan.

Saya mengecek tulisan yang terbit. Yang diedit redaktur dan mengamati mana yang kurang pas menurut redaktur. Waktu itulah ketemu Kak Solihin. Karena Bos Parno siang hari baru bisa ditemui, sementara hari masih pagi sekali, saya ajak dia ke kosan di kawasan Lorong Hanan Simpang Sekip. Selama di perjalanan dan di kosan itulah kami banyak cerita sambil makan mie rebus. He he, Maklum anak kos.

Panggilan Kedua, Diminta Membantu di Redaksi Linggau Pos

Saya lagi konsen mengetik berita. Tugas liputan dari redaktur daerah. Lagi mengejar deadline pengiriman. Tiba-tiba, M Yasin, wartawan fotografer Linggau Pos memanggil saya. “Dipanggil Bos Parno. Disuruh ke bawah,” ujar M Yasin setengah berbisik kepada saya. Sejak awal memang saya akrab dengan wartawan Linggau Pos. Ya, strategi lah. Saya kan sendiri. Takut ketinggalan isu menarik. Jadi karena satu grup, saya numpang saja mengetik berita di sana. Ada juga wartawan Sumeks senior tapi PNS—saya biasa memanggilnya Om Mansyur. Beliau wartawan kehormatan, karena “orang lama” di Sumeks.

Ada apa? Dalam benak saya berkecamuk beragam pertanyaan. Kesalahan apa gerangan yang saya perbuat hingga Boss Parno memanggil saya. Waktu itu, sore hari, entah bulan apa, yang jelas di Tahun 2002 (1 tahun lebih saya bertugas di Lubuklinggau), teman-teman wartawan-karyawan Linggau Pos termasuk unsur pimpinan sedang rapat bersama Bos Parno di lantai bawah. Kak Solihin (Pemimpin Perusahaan) dan Pak Wargo Purtanto (PU/Pemred) juga ada. Pokoknya lengkap.

“Dik Pur, Anda bantu teman-teman ya. Terserah mau diapakan koran ini, saya serahkan sepenuhnya kepada Dik Pur,” kata Boss Parno. Rupanya di jajaran manajemen keredaksian Linggau Pos ada perubahan. Pak Wargo—begitu saya memanggil Wargo Purtanto, wartawan senior dari Jambi, mendapat tugas baru membenahi bagian pemasaran sembari dipersiapkan kelak Linggau Pos mendatangkan mesin cetak sendiri.

Saya terdiam. Saya tidak bisa berkata banyak. Hanya saya laporan, bahwa saat itu sedang dalam persiapan berangkat ke Surabaya untuk magang di Jawa Pos. Menambah ilmu dan wawasan keredaksian. “Seminggu lalu, Pak Subki menelpon. Saya diminta siap-siap berangkat ke Surabaya. Jadi bagaimana Boss?” tanya saya.

Boss Parno minta keberangkatan saya ke Surabaya ditunda. Saya disuruh menghubungi Pak Subki, supaya mencari pengganti saya untuk berangkat pendidikan di Surabaya. “Bilang saja ke Dik Subki, cari penggantinya ya,” pesan Boss Parno. “Ya, Boss,” jawab saya.

Hari itu juga saya langsung bekerja dan rapat bersama rekan-rekan wartawan Linggau Pos. Rapat redaksi, merencanakan liputan. Linggau Pos masih terbit hitam putih. Cetaknya di Bengkulu-di Harian Rakyat Bengkulu. Tetapi, pengerjaan pracetaknya di Lubuklinggau. Petugas pracetak membawa halaman yang sudah dimonting (sudah print kertas kalkir dan ditempel di plastik). Di Bengkulu dicek sekali lagi untuk melihat ada yang salah atau tidak, setelahnya tinggal masuk mesin plat (plate maker) dan siap naik cetak.

Di tengah kekagetan yang belum tuntas, saya terus berfikir memperbaiki konten koran. Dalam benak ini, tetap tak percaya Boss Parno bakal meminta saya mengerjakan tugas yang selevel wewenang Pemimpin Redaksi. Sekali-kali muncul rasa tidak percaya diri (PD). Namun, mau apalagi. Ini perintah Boss Parno. Saya tak kuasa membantahnya. Pokoknya kerjakan, urusan hasilnya belakangan. Saya yakin Boss Parno punya alasan tersendiri untuk saya.

Saya bekerja di belakang layar. Pekerjaan utama di Sumeks pun masih saya kerjakan. Saya tetap mengirim berita ke redaksi Sumeks lewat modem telkomnet itu. Tat tit tut…ngeng….begitu bunyi modemnya. Kadang sambungan terputus terpaksa mengirim ulang. Ha ha ha derita saya ketika itu. Ya, Linggau Pos waktu itu, tahun 2000-2004, masih ngotrak di Jl Yos Sudarso, Talang Jawa. Di sebuah ruko sederhana. Peralatannya pun masih serba sederhana sesuai teknologi era 18 tahun lalu.

Sesuai instruksi Boss Parno. Pokoknya mau diapakan koran Linggau Pos terserah saya. Beberapa bulan kemudian, ketika Boss Parno berkunjung lagi ke Lubuklinggau. Boss Parno rajin berkunjung ke anak perusahaan di daerah yang dipimpinnya. Rutenya, kadang Palembang-Jambi-Lubuklinggau-Bengkulu. Kadang dari Bengkulu langsung ke Jakarta. Atau sebaliknya, Bengkulu-Lubulinggau-Jambi dan Palembang mengendarai mobil BH 1 SW—Nissan Terano yang ngetop di eranya itu bersama Kak Tohir sopir dari kantor Sumeks.

Saya kembali mengutarakan pemikiran dan rencana terkait kualitas cetak. Dua tahun lebih Linggau Pos cetak hitam putih di Bengkulu, tapi belum menunjukkan peningkatan oplah koran dan kurang gregetnya di pasaran karena belum warna. Saya sampaikan ke Boss Parno agar Linggau Pos cetak warna dan itu saya minta cetak jarak jauh di Palembang. Kiblat saya ketika itu soal redaksi mencontoh habis koran Sumeks.

Alasan saya, pertama cetak di Bengkulu meski bisa warna, tetapi, secara kewilayahan beda provinsi, sehingga kalau ada isu menarik di Sumsel sulit untuk menyingkronkan atau melengkapi beritanya. Sementara kalau di Sumsel di Palembang, jika ada informasi berkaitan dengan Lubulinggau dan Musirawas bisa ditindaklanjuti atau meminta berita dari Palembang.

Usul pun dikabulkan Boss Parno. Linggau Pos cetak jarak jauh dan berwarna. Deadline pun dimajukan. Yang sebelumnya, wartawan masih bisa mengetik berita sampai waktu magrib, sejak cetak di Palembang tidak bisa lagi. Magrib, halaman dalam bentuk PDF (siap diprint kalkir) sudah harus dikirim via internet. Petugas pracetak yang khusus ditugaskan di Palembang, numpang di kantor Palembang Pos—lantai paling atas gedung Sumeks ketika itu. Cetak cepat karena ekspedisinya ikut Kereta Api Sindang Marga yang berangkat ke Lubuklinggau pukul 20.00 WIB.

Jadilah, Linggau Pos sebenarnya koran sore. Sebab, jika ada kejadian diatas pukul 18.00 WIB tidak bisa lagi diterbitkan. Ini kendala tersendiri. Dan menyiasatinya, jika ketinggalan momen, maka wartawan saya minta wawancara mendalam dan membuatnya berita boks (features), cerita di halaman 1 bagian bawah.

Panggilan Ketiga, Saya Minta Maaf
Saya memang numpang ngetik di ruang redaksi Linggau Pos. Itu bagian dari trik saya agar tidak ketinggalan isu berita yang lagi ngetren. Maklum saya sendirian, sementara wartawan Linggau Pos puluhan. Tidak ada jalan lain, saya harus mendekati mereka agar tidak ketinggalan isu berita. Sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui, sekali ikut nimbrung banyak berita yang didapatkan. Dan berita saya terbit di Sumeks sedikitnya tiga atau empat berita per harinya.

Suatu hari, salah tergelincir membuat kesalahan. Dan ini terjadi atas kealfaan saya. Mungkin karena beban kerja ekstra. Saya menangani redaksi Linggau Pos, tetapi tetap melaksanakan tugas sebagai wartawan Sumeks. Saya mengirim berita ke Sumeks, tetapi berita itu saya tidak ikut liputan melainkan dari teman sesama wartawan daerah.

Pada dasarnya berita tersebut “aman”, jika tidak diedit. Berita yang saya kirim engle dan kalimat banyak dirubah dan dipotong sehingga makna menjadi bias. Narasumber merasa keberatan dan mengirim surat sanggahan ke redaksi dan dimuat oleh redaktur. Saya pun mendapat teguran keras. Puncaknya, saya dipanggil Boss Parno. Saya mengakui kesalahan dan meminta maaf berjanji tidak akan mengulangi lagi.

Selama menjadi wartawan, sekali itu saya membuat kesalahan. Boss Parno memaafkan dengan catatan saya tidak boleh mengulanginya lagi. Sejak kejadian itu, saya berjanji dalam hati tidak akan lagi menerima berita dari teman-teman wartawan lainnya. Dan hal itu menjadi pengalaman pahit bagi saya.

Panggilan Keempat, Ditawari Merintis Koran Baru di OKU Raya
Saya mengabdi di Linggau Pos hampir empat tahun (2002-2006). Dari kantor ngotrak di bilangan Jl Yos Sudarso Talang Jawa Kiri hingga memiliki kantor dan percetakan sendiri di Jl Yos Sudarso, Kelurahan Batu Urip Taba. Saya cukup senang dan bangga. Kemajuan Linggau Pos cukup pesat. Tagline Koran Lokal Pertama dan Terbesar di Bumi Silampari (Lubuklinggau) benar-benar terwujud.

Boss Parno memang bertangan dingin. Di Sumsel anak perusahaan di bawah naungannya terus berkembang. Kurun waktu 2000-2004 ada beberapa koran daerah yang diterbitkan. Di Kota Palembang ada Palembang Ekspres dan Radar Palembang. Kemudian, di Prabumulih ada Prabumulih Pos. Semangat kelokalan menggebu-gebu.

Pertengahan 2006 saya kembali dipanggil Boss Parno. Saya, Kak Solihin, Boss Parno dan Kak Tohir sopir Boss Parno ketika itu sambil makan malam berbincang ringan membahas perkembangan koran-koran daerah. Termasuk Boss Parno menceritakan perkembangan koran Prabumulih Pos yang begitu bagusnya.
Boss Parno mengungkapkan rencananya untuk mendirikan koran lagi di wilayah Kabupaten OKU Raya (OKU, OKU Timur dan OKU Selatan). Beliau secara tidak langsung menawarkan kepada saya memimpin koran baru tersebut. Cara Boss Parno meminta saya untuk hijrah ke OKU cukup bijak. Mungkin khawatir kalau saya tersinggung atau ciut nyali.

“Dik Pur, kita akan mendirikan koran di OKU. Disana akan ada tiga koran. OKU, OKU Timur dan OKU Selatan. Saya yakin daerah itu akan berkembang dan maju. Koran juga akan hidup. Kita lagi mencari orang untuk ditempatkan di sana. Ya, kalau ‘Dik Pur bersedia saya yakin akan maju. Tetapi, kalau Dik Pur lebih nyaman di sini tidak apa-apa. Kita tidak memaksa,” ujar Boss Parno.

Saya belum bisa menjawab waktu itu. “Minta waktu Boss,” kata saya. Sembari berembuk keluarga terutama dengan istri, saya mencari informasi dan lain sebagainya. Setelah mendapatkan data yang cukup mengenai daerah rintisan baru OKU Raya, beberapa bulan kemudian barulah saya jawab tantangan Boss Parno melalui SMS. Saat itu belum ada aplikasi lain, seperti Whatsap, Line, Twitter, apalagi BIP.

Dengan ucapan salam dan bismillah, saya katakan kepada Boss Parno bahwa saya siap menerima tugas baru merintis koran di Kabupaten OKU. SMS saya sama sekali tidak dijawab, melainkan hanya dibaca. Dan saya yakin itu sudah menjadi catatan tersendiri bagi Boss Parno. Tidak sampai tiga bulan, saya pun mulai persiapan. Survey lokasi, mencari gedung untuk dijadikan kantor. Yang paling lama saya pun harus magang belajar manajemen perusahaan di Prabumulih. Dan, go go go,,,, jadilah saat ini koran yang diberi nama OKU EKSPRES yang berdiri sejak April 2007. Dua tahun kemudian lahir OKU TIMUR POS dan setelahnya HARIAN OKU SELATAN.

Selamat jalan Boss Parno….kami bersaksi Bapak orang baik. Semoga semua amal ibadahmu diterima Allah SWT dan ditempatkan disisi-Nya yang layak. Terima kasih telah menularkan ilmu yang bermanfaat. (Purwad,i GM Oku Timur Pos)

Komentar

Berita Lainnya