oleh

Etty bin Toyyib, Lolos dari Hukuman Mati tapi Positif Covid-19

SUMEKS.CO – Etty bin Toyyib lolos dari jeratan hukuman mati. Namun dia dikabarkan positif Covid-19. Kepastian itu diperoleh setelah pekerja migran Indonesia (PMI) asal Majalengka, Jawa Barat, tersebut mengikuti tes swab di wisma Atlet.

Kabar itu mengagetkan sejumlah pihak kaget. Terlebih, sejumlah pejabat yang ikut menjemput Etty di Bandara Soekarno Hatta pada Senin (6/7) lalu.

“Begitu mendapat kabar tersebut, saya langsung tes swab hari ini (kemarin, red),” ujar Kepala Badan perlindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI) Benny Rhamdani dihubungi, Sabtu (11/7).

Benny mengaku baru tahu informasi itu pada Jumat (10/7) sore. Etty memang sudah berada di Wisma atlet. Setiba di Jakarta, dia diboyong ke Wisma Atlet untuk menjalani protokol kesehatan dan menjalani isolasi selama 14 hari.

Di lokasi isolasi, serangkaian tes kesehatan dijalani, termasuk tes swab pada Selasa (7/7). “Pada tanggal 9 Juli, hasilnya keluar. Ternyata positif,” papar Benny.

Esokan harinya, Etty langsung dipindahkan ke rumah sakit (Rs) Darurat Covid-19 yang berada satu kompleks dengan tempat isolasi.

Benny sendiri belum mengetahui kondisi terbaru Etty. Apakah ada gejala yang muncul atau tidak. Yang jelas, saat penjemputan Etty terlihat biasa saja.

Dia kemudian menyampaikan kabar tersebut kepada Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Ida Fauziyah. Para pejabat diminta segera melakukan rapid test ataupun swab untuk mengetahui kondisi kesehatan.

Selain itu, Benny juga kaget dan bertanya-tanya soal bagaimana Etty terpapar. Pasalnya, ketentuannya, bagi siapa pun yang hendak ke luar negeri ataupun masuk ke dalam negeri wajib tes Covid-19 terlebih dahulu. “Saya tidak tahu kapannya. Apakah positif dari Saudi atau bagaimana. Tapi kalau daru Saudi, harusnya tidak boleh naik pesawat kan,” tutur Benny.

Namun, imbuh dia, hal itu akan menjadi wewenang dari gugus tugas penanganan Covid-19 untuk menelusurinya. Termasuk tracing kasus. Diperkirkan, ada sekitar 127 orang tki lainnya yang berada satu pesawat dengan Etty dalam kepulangannya dari Saudi, Senin.

Etty lolos dari hukuman mati setelah membayar tebusan ke Pemerintah Arab Saudi sebanyak 4 juta riyal atau setara Rp 15,5 miliar rupiah.

Seperti diberitakan sebelumnya, Etty merupakan PMI yang berhasil selamat dari jearatan hukuman mati di Saudi. Dia sudah mendekam di penjara selama kurang lebih 18 tahun karena dianggap bersalah telah meracuni majikannya hingga tewas.

Dia berhasil bebas setelah pemerintah berhasil melakukan diplomasi dan pendekatan terhadap keluarga. Hingga akhirnya mendapat pemaafan dan wajib membayar diyat hingga Rp 15,5 miliar. Uang tebusan tersebut terkumpul dari beragam unsur masyarakat termasuk donatur, Pemprov Jawa Barat hingga Lembaga Amil Zakat, Infaq dan Shadaqah yang dikelola Nahdlatul Ulama.

Menteri Luar Negeri (Menlu) Retno Marsudi menyebut proses pembebasan Etty berlangsung sangat panjang. Berbagai langkah harus dilewati.

“Dari proses kekonsuleran, litigasi, sampai pemaafaan oleh pihak keluarga,” ujarnya.

Yang tercatat, perwakilan Indonesia di Jeddah melakukan pendekatan kepada keluarga korban dan pihak lainnya sebanyak 20 kali. Kemudian, akses kekonsuleran sebanyak 43 kali.

Diplomasi tingkat tinggi pun telah dilakukan secara langsung oleh Presiden Joko Widodo. Presiden bersurat sebanyak dua kali ke Raja Salman bin Abdul Aziz al-Saud. Yang kemudian dilanjutkan dengan pembahasan ditingkat menlu.

“Kementerian Luar Negeri Indonesia juga melakukan pendekatan kepada keluarga dan memfasilitasi reuni keluarga ke Saudi sebanyak tiga kali,” papar Retno.

Berkaca dari kasus itu, Retno berjanji akan memperkuat akses pencegahan. Selain itu, pemerintah akan semakin masif memberi pemahaman mengenai hukum dan aturan negara tujuan pekerjaan sejak masa rekrutmen.

Terpisah, Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Doni Monardo menjelaskan, sejak awal laporan hasil tes PCR Etty menunjukkan dia positif Covid-19. Hanya, memang ada kekeliruan saat Dia menanyakan kepada staf yang menangani pemeriksaan Etty. ’’Saya memang bertanya ke beberapa staf, dan staf yang pertama itu salah baca laporan,’’ terangnya saat dikonfirmasi kemarin.

Paginya, staf lainnya melapor kepada Doni bahwa Etty positif Covid-19. Penyampaian itu disertai laporan tertulis lengkap. ’’Jadi itu yang benar positif (Covid-19),’’ lanjut perwira TNI berpangkat Letnan Jenderal itu. saat ini, Etty terus menjalani perawatan di RS Darurat Covid-19 di Wisma Atlet Kemayoran Jakarta.

Terkait kejadian Etty, Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden Brian Sriprahastuti menjelaskan bahwa sebenarnya protocol untuk pejabat negara sudah ada. Sejak Covid-19 mulai muncul di Indonesia pada 2 Maret lalu, KSP sudah berinisiatif mengeluarkan protokol awal. Itu kemudian menjadi embrio dari protocol selanjutnya yang sekarang diberlakukan kepada masyarakat.

Saat itu setidaknya ada tujuh protokol yang dikeluarkan. “Salah satunya itu adalah protokol VVIP,’’ terangnya dalam diskusi virtual di salah satu radio kemarin. Dalam protokol itu sudah ada Batasan-batasan bagaimana pejabat negara menjalankan fungsinya dan berinteraksi dengan siapapun. Agar dirinya terlindungi sekaligus menjadi contoh bagi yang lain.

Namun, menurut Brian, semua Kembali ke individu masing-masing. ’’Seringkali masih banyak yang lupa,’’ lanjutnya. Menurut dia, itu adalah hal manusiawi. Karena itulah kontrol sosial menjadi penting agar selalu ada yang mengingatkan. Semua orang sedang berproses menghadapi sebuah pandemi yang belum pernah ada sebelumnya.

Tidak mudah mengubah perilaku masyarakat untuk menyesuaikan diri dengan kondisi pandemi. Dia mencontohkan gerakan cuci tangan menggunakan sabun. Brian pernah menangani project kampanye pembiasaan cuci tangan menggunakan sabun selama lima tahun. Nyatanya, upaya selama lima tahun itu juga belum 100 persen berhasil mengubah perilaku.

Karena itu, pekerjaan rumah utama saat ini adalah membuat perubahan perilaku dengan cepat. Melawan teori-teori yang sudah ada selama ini. ’’Banyak teori yang sudah ada, itu prosesnya (perubahan perilaku) panjang,’’ tambahnya. Harus ada revolusi perubahan perilaku karena saat ini sedang pandemi. (Zalzilatul Hikmia, Bayu Putra/JawaPos.com)

Komentar

Berita Lainnya