oleh

Fadli Zon: Baru TNI yang Berani Sebut Separatis Teroris

JAKARTA – Aksi brutal kelompok bersenjata di Papua makin brutal beberapa waktu ke belakang. Bahkan, dalam sepekan ini, gerakan yang dimotori Organisasi Papua Merdeka (OPM) itu tercatat beberapa kali melakukan penyerangan.

Dalam beberapa penyerangan itu, dua prajurit TNI gugur dan satu nyawa warga sipil meninggal dunia. Selain itu, dua orang tukang ojeg juga menjadi sasaran serangan kelompok tersebut.

TNI, melalui akun Twitter resminya, menyebut mereka sebagai separatis teroris.

“Gerombolan Separatis Teroris Papua Makin Beringas Menjelang Sidang Umum PBB #separatis #kkb #papua #PapuaIndonesia.” tulis @Puspen_TNI, Sabtu (19/9).

Cuitan itu lantas ditanggapi anggota Komisi I DPR RI Fadli Zon yang mengapresiasi penyebutan tersebut. Sebab selama ini, kelompok yang terang-terangan melawan negara itu sama sekali tak pernah dianggap teroris.

Mantan wakil ketua DPR itu mengatakan, bahwa di negeri ini ada double standard dalam melihat teroris. Menurutnya, biasanya radikal teroris fundamentalis disematkan pada yang berbau Islam, sehingga menimbulkan Islamophobia.

“Kita double standard melihat teroris. Biasanya “radikal” “teroris” “fundamentalis” disematkan pada yang berbau “Islam” sehingga menimbulkan Islamophobia,” tulis @fadlizon, Minggu (20/9/2020).

Namun, teroris yang jelas-jelas menggunakan senjata dan kekerasan masih disebut kelompok kriminal bersenjata. Karena itu, Fadli mengapresiasi TNI yang berani menyebut separatis teroris terhadap kelompok kriminal bersenjata yang ada di Papua.

“Teroris yang jelas-jelas menggunakan senjata dan kekerasan masih disebut “kelompok kriminal bersenjata”,” sambungnya. Akan tetapi, sampai kini, baru TNI saja yang berani menyebut mereka sebagai teroris.

“Baru TNI yang berani sebut Separatis Teroris,” tandas Wakil Ketua Umum Partai Gerindra itu. Serangan yang dilakukan Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat-Organisasi Papua Merdeka (TPNPB-OPM) kembali meningkat.

Bahkan, mereka menyatakan akan meningkatkan intensitas serangan selama dua tahun ke depan. Target mereka adalah revolusi untuk memerdekakan Papua Barat.

“Karena pemerintah Indonesia belum penuhi tuntutan bangsa Papua, hak politik penentuan nasib sendiri,” ujar Juru Bicara TPNPB-OPM Sebby Sambom kepada Jawa Pos.

TPNPB-OPM juga memberikan ultimatum terhadap maskapai penerbangan di Papua. Ia menyatakan, maskapai yang membawa anggota TNI dan Polri di Papua akan diserang.

“Jadi, jangan pernah mau bawa TNI atau Polri,” tegasnya. (ruh/pojoksatu)

Komentar

Berita Lainnya