oleh

Fenomena Baru Visual Pop Culture

KEHIDUPAN sukses pasangan muda telah menjadi gagasan inspiratif bagi produksi tayangan televisi. Sejumlah program reality show telah menjadikan sukses hidup pasangan muda sebagai tontonan harian di sejumlah kanal televisi nasional. Sebut saja program-program tayangan seperti Keluarga Bosque di Trans TV, Bapau (Baim and Paula) di Trans7, Diary The Onsu di Trans TV, Janji Suci Raffi dan Gigi di Trans TV, serta Diary Asix yang menampilkan kehidupan pasangan Anang Hermansyah dan Ashanty beserta anak-anaknya di Trans7.

Rating program reality show di atas cenderung tinggi dan terus naik. Sebagai bukti, program Keluarga Bosque di Trans TV di bulan-bulan awal hanya disiarkan untuk weekend. Jadwal siaran seperti itu berjalan untuk beberapa bulan awal, khususnya di masa pandemi. Pemirsa bisa menyaksikan acara tersebut setiap pukul 18.00–19.00. Ditambahkannya jam tayang dari hanya dua hari di weekend menjadi tiga hari, meliputi Jumat, Sabtu, dan Minggu, menandakan bahwa rating tayangan itu cenderung bagus dan meningkat. Begitu pula Bapau, Diary The Onsu, serta Janji Suci Raffi dan Gigi.

Munculnya program-program tayangan yang menjual sukses hidup pasangan muda di atas adalah fenomena baru dalam visual pop culture di Indonesia. Mengapa fenomena tersebut mengemuka belakangan ini?

Saya melihat pandemi Covid-19 yang memberikan ruang privat momentum berlebih untuk mengalami aktualisasi kepada banyak individu masyarakat mengantarkan tayangan-tayangan berbasis keluarga seperti reality show di atas berkembang pesat. Alasannya sederhana. Program-program siaran televisi yang menyajikan keseharian dan kesibukan keluarga pasangan muda nan menggemaskan di atas dianggap memenuhi ekspektasi pemirsa yang harus menggunakan banyak waktu di rumah di masa pandemi.

Pemirsa pun bisa mendapat inspirasi dari isi tayangan yang mengumbar seputar kegiatan sehari-hari. Mulai pagi sampai malam hari. Mereka pun akhirnya bisa menyaksikan setiap momen dari keseruan, ketegangan, kesedihan, kelucuan, kehebohan, dan bahkan keluguan pada aktivitas sehari-hari para selebriti itu. Akhirnya mereka pun bisa mengisi kondisi soliter mereka di rumah di masa pandemi ini dengan hasil liputan kamera tentang kelucuan, keriangan, dan aktivitas harian lainnya dari keluarga kecil para selebriti yang menggemaskan.

Bersamaan dengan terpenuhinya ekspektasi untuk mendapatkan inspirasi sukses hidup di atas, naiknya marketability tayangan reality show di atas bertemu pada satu titik dengan kecenderungan psikososial publik belakangan yang sedang mengalami krisis keteladanan. Krisis semacam ini terutama terjadi pada anak muda yang tidak memiliki masa lalu yang panjang, sebagaimana kalangan orang tua.

Bagi anak muda, keteladanan harus diambil dan atau berasal dari kehidupan yang dekat dengan mereka. Situasi saat ini dan figur-figur publik yang muncul di era ini menjadi sumber keteladanan mereka. Membawa anak muda untuk bisa mengambil pelajaran keteladanan dari masa lalu tentu cenderung lebih sulit daripada meminta mereka segera mengambil keteladanan itu dari orang-orang yang dekat dengan kehidupan mereka.

Figur-figur pasangan muda yang sukses dalam karir berkeluarga dan profesionalnya menjadi sumber keteladanan bagi anak muda yang lebih luas. Kesuksesan pasangan muda selebriti, seperti Baim-Paula, Raffi-Nagita, serta Ruben-Sarwendah, dimaksud telah menginspirasi dan mengantarkan mereka menjadi figur publik yang dianggap oleh pemirsa, terutama kalangan muda pula, layak dijadikan teladan hidup. Baik tentang bagaimana sukses dalam kehidupan pribadi maupun kehidupan sosialnya. Bahkan, sebagai inspirasi lanjutan, sukses dalam kerja profesional dari pasangan-pasangan muda di atas ternyata bisa diraih dengan usaha keras dalam mengombinasikan sukses di ruang domestik dan publik.

Tentu sukses di ruang domestik-publik kalangan figur publik seperti direpresentasikan sejumlah pasangan selebriti muda usia di atas memberikan harapan baru bagi pemirsa lebih luas, dan anak muda lebih khusus, untuk menirunya, atau minimal membangun obsesi tentang masa depannya. Saat anak muda belum memiliki pengalaman yang kuat dalam menjalani kehidupan, tentu sukses multidimensional figur publik berusia muda, seperti para selebriti di atas, menginspirasi sekali mereka untuk menjadikannya sebagai teladan baik untuk ditiru dalam kehidupan riil mereka.

Lebih dari itu, munculnya program tayangan TV seperti di atas tampak untuk menjawab dan merespons kekecewaan di ruang publik oleh warga masyarakat luas atas masih buruknya wajah publik di panggung politik kekuasaan dan birokrasi di Indonesia. Kualitas kinerja politik para pemegang kewenangan publik cenderung masih buruk. Naiknya pendapatan ekonomi dan fasilitas yang diperoleh dari jabatan politik tidak serta-merta diikuti kinerja yang baik dari kekuasaan politik dan birokrasi itu.

Berita tertangkapnya pelaku korupsi dan penggelapan uang rakyat di berbagai media, mulai media visual hingga online, membuat tingkat kepercayaan publik terhadap pejabat negara dan politik pemerintahan kian menurun. Indeks kepercayaan mereka makin lama makin cenderung menurun.

Saat kondisi buruk penunaian jabatan publik di atas terus-menerus terjadi, kepercayaan publik terhadap pemegang kuasa politik pemerintahan juga cenderung kian menurun. Warga masyarakat pun lalu merasa tidak punya harapan lagi untuk mendapati kehidupan publik mereka yang makin baik. Hampir tidak ada harapan yang bisa dikembangkan untuk dimiliki warga masyarakat dalam situasi seperti itu.

Di ujung lain terdapat kehidupan yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan politik kekuasaan. Kehidupan itu justru berada di domain kehidupan privat, tapi populer. Pelakunya adalah pasangan anak muda yang terbukti sukses menapaki dunianya di panggung hiburan. Mulai pelawak, selebriti, YouTuber, hingga pemain film di kanal televisi.

Tumbuh dari kondisi nol dalam memasuki dunia panggung hiburan itu, mereka lalu dikenal sukses sekali. Mereka pun lalu secara mudah bisa mendatangkan uang. Dan mereka pun kini lalu menjadi trendsetter untuk sukses hidup bagi pasangan muda. Pandemi kian mempercepat mereka menjadi inspirasi dan sekaligus teladan baik untuk ditiru. (*)


*) Akh. Muzzaki, Guru besar dan dekan FISIP UIN Sunan Ampel Surabaya, ketua Dewan Pendidikan Jawa Timur

(jawapos)

Komentar

Berita Lainnya