oleh

Filosofi dan Cerita di Balik Berbagai Motif Batik

-Opini-156 views
Selain berkonsentrasi pada koleksi, Museum Batik Yogyakarta juga mengembangkan klinik perawatan dan konservasi batik yang merekam jejak langkah proses batik dan ragam motifnya.

Ragam motif yang dimiliki oleh Museum Batik Yogyakarta adalah Jawa Tengahan (Yogyakarta dan Solo), pasisiran (Semarang, Demak, Pekalongan dan Kedungwuni, Cirebon dan Lasem), Madura, mBayat-Klaten, Kebumen, Kulon Progo, Imogiri, dan beberapa daerah lainnya.

Sejarah batik, kurang lebih seperti yang dilansir oleh Wikipedia, menjelaskan bagaimana rentang waktu dapat membuat corak dan motif batik menjadi berkembang. Batik selalu lekat dengan filosofi yang reflektif dalam dimensi keseharian manusia. Oleh karenanya, secanggih apapun teknologi tekstil saat ini, budaya batik tetap menjadi tak tergantikan.
Selain dibutuhkan ketrampilan dan ketekunan, pewarnaan alami menciptakan warna-warna yang unik dan khas pada tiap lembarnya, karena pada setiap proses pencelupan warna, komposisi warna dapat berubah seiring proses oksidasi dan kimia yang alamiah. Setiap pengrajin batik pun pada akhirnya akan mempunyai otentitasnya yang tidak dapat ditiru.
Batik di pulau Jawa dibagi menjadi dua, yakni:
a.  Batik Pedalaman, batik yang berkembang di daerah pedalaman, khususnya Yogyakarta dan Surakarta (Solo).Batik ini biasa disebut „batik keraton“ atau „batik klasik“. Motif dari batik pedalaman  adalah motif Jawa-Hindu, yakni ornamen-ornamen candi yang ada di daerah Yogyakarta dan Solo.
Warna-warna yang digunakan pun warna natural seperti cokelat, putih dan biru dengan bulatan filosofi dimana kehidupan orang Jawa sarat akan filsafat kebudayaan yang sangat kental. Pemilihan motif dan warna juga tidak sembarangan karna sarat akan makna filosofi tersendiri.
b.  Batik Pesisiran, batik yang berkembang di daerah pesisir di pulai Jawa, seperti Cirebon, Pekalongan dan Madura. Batik pesisiran banyak mendapat pengaruh budaya-budaya luar seperti Cina, India, dan Arab.
Dalam pewarnaaannya menggunakan warna-warna yang cerah seperti merah, hijau, biru dan kuning. Motif batik terinspirasi dari apa yang dilihat, seperti gambar kupu-kupu lengkap.

RAGAM MOTIF BATIK

1. Motif Parang  Parang berasal dari kata karang atau batu karang. Perengan menggambarkan sebuah garis menurun dari tinggi ke rendah secara diagonal serta memiliki kemiringan 45 derajat. Pola dasarnya adalah lilitan leter S.

Batik motif parang merupakan ragam hias larangan karena hanya raja dan kerabatnya yang diizinkan untuk memakainya. Besar kecilnya motif parang juga menyimbolkan status sosial pemakainya dalam lingkup  kerajaan.

Macam – macam Batik Parang:

Parang Rusak , motif ini tercipta ketika Panembahan Senopati sedang melakukan meditasi di Pantai Selatan. Beliau terinspirasi dari ombak besar yang terus menghantam karang hingga karang tersebut rusak. Bentuk dasar leter S di ambil dari ombak samudra yang menggambarkan semangat yang tak pernah padam. Hal tersebut mengandung petuah agar tidak pernah menyerah.

Jalinan S yang tidak pernah putus pada motif parang menggambarkan jalinan yang tidak pernah putus, baik dalam arti upaya memperbaiki diri, upaya memperjuangkan kesejahteraan maupun bentuk pertalian antar saudara. Motif parang rusak juga merupakan hadiah dari generasi ke generasi muda para bangsawan.
Selain itu, motif ini juga menjadi simbol agar anak melanjutkan perjuangan yang telah dirintis orang leluhurnya.
–  Garis lurus diagonal pada batik parang rusak melambangkan rasa hormat, keteladanan serta ketaatan pada nilai-nilai kebenaran.
–  Parang rusak biasa digunakan prajurit setelah perang, untuk memberitahu raja bahwa mereka telah menang perang.
   Parang Barong, berasal dari kata barong (singa). Kata barong berarti sesuatu yang besar, dan ini tercermin pada besarnya motif ukuran pada kain. Besar ukuran parang barong diatas 20 cm dan merupakan induk dari semua motif parang.
Parang barong diciptakan oleh Sultan Agung Hanyakrakusuma yang ingin mengekspresikan pengalaman jiwanya sebagai Raja dengan segala tugas kewajibannya dan kesadaran sebagai seorang manusia yang kecil dihadapan Sang Maha Pencipta.
Motif ini memiliki makna agar seorang Raja selalu hati-hati dalam bertindak, kebijaksanaan dalam gerak dan pengendalian diri dalam dinamika usaha yang terus menerus. Motif ini hanya digunakan oleh Raja pada saat ritual keagamaan dan meditasi
· Parang Kusumo, berasal dari kata kusumo yang artinya kembang. Digunakan oleh kalangan keturunan Raja bila berada didalam kraton. Motif ini mengandung makna hidup harus dilandasi oleh perjuangan untuk mencari keharuman lahir dan batin.
Bagi orang Jawa keharuman yang dimaksud adalah keharuman pribadinya tanpa meninggalkan norma-norma yang berlaku dan sopan santun agar dapat terhindar dari bencana lahir dan batin.
Parang Kusumo
 Parang Slobog, digunakan pada saat upacara kematian. Hal ini memiliki makna pengharapan agar arwah yang meninggal mendapatkan kemudahan dan kelancaran dalam perjalanan menghadap Kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, sedangkan keluarga yang ditinggalkan diberi kesabaran dalam menerima cobaan.
P
arang Slobog
·        Parang Klitik, melambangkan kelemah lembutan, prilaku halus dan bijaksana. Biasanya dipakai kalangan putri istana.
Parang Tuding, tuding berarti menunjuk. Motif ini memiliki makna bahwa orang yang memakai diharapkan dapat menunjukkkan hal-hal yang baik dan menimbulkan kebaikan. Biasa digunakan oleh orang tua. 
  Parang Curigo, curigo : keris

 Parang Centung, dipakai oleh perempuan pada acara pesta. Parang centung : sudah pandai ber-rias.

 Parang Peni

Parang Gendreh.

 

Ditulis oleh Lia Indriani, tenaga Edukator Museum Batik .  info@museumbatik.com

Komentar

Berita Lainnya