oleh

Foto Jepretan Mas Parno Masih Kami Simpan jadi Kenangan.

Innalllahi wa innailahi roojiun. Itulah ucapan yang keluar dari mulut saya , saat beredar kabar di whatsapp grup, Mas Parno meninggal dunia. Hari itu, tanggal 9 Desember 2020. Hari masih pagi sayapun mengirim Al fatihah untuk Mas Parno.

Lalu saya teringat kebaikan kebaikan Mas Parno kepada kami dan kenangan selama menjadi wartawan di Koran Sumatera Ekspres (Sumeks) . Kalau mau ditulis, mungkin bisa berseri.  Jadi, saya hanya menceritakan sepenggalnya saja.

Tahun 2000 kami bersama rombongan Sumeks, terdiri dari wartawan, pemasaran dan iklan, melakukan studi banding ketiga negara. Malaysia, Singapura dan Thailand selama satu minggu. Di Malaysia kami berkunjung ke The News Straits Times Malaysia Berhad, koran berbahasa Inggris tertua di Malaysia. Kami juga ke Singapura dan Thailand.

Ada cerita lucu kala itu. Usai dari Koran The News Straits, kami diajak public wisata yang sangat terkenal, Menara Petronas. Di sana kami berfoto-foto. Sangat sulit mengambil gambar menara kembar itu secara utuh apalagi menggunakan kamera poket dan tidak tahu dimana posisi yang pas supaya menaranya bisa terlihat utuh.

Saya dan Wiwik bergantian memotret. Kamipun saling ‘mengancam’ supaya gambar menara jangan terpotong. Tiba-tiba datang Mas Parno mendekat.

Mas Parno ini bos yang sangat low profile, kami memberanikan diri minta tolong difoto berdua. Tampaknya, Mas Parno juga kasihan melihat kami kesulitan mengambil angle gambar yang bagus.

Treet treet treet , beberapa kali Mas Parno memfoto kami. Setelah kembali ke tanah air dan foto dicetak. Ternyata, hasil foto Mas Parno yang paling bagus. Sementara hasil foto kami berdua tidak sesuai harapan. Ada yang menara terlihat utuh tapi gambar orangnya hanya kepala saja.

Gambar orangnya ada, tapi menaranya hanya setengah. Untung kami minta tolong Mas Parno, jadi punya dokumen berfoto di Menara Petronas. Apalagi ini hasil karya Bos. Sampai sekarang hasil foto karya Mas Parno tersebut masih kami simpan dan jadi kenangan.

Perjalanan ke tiga negara itu pula lah menjadi start awal travelling dunia pertama bagi kami. Bayangkan, tahun 2000, berkesempatan going aboard. Oh ya, program jalan-jalan ini reward Mas Parno untuk karyawannya yang kala itu menjadi rutin saban tahun dengan destinasi tempat wisata dalam dan luar negeri.

Di tahun selanjutnya, kami juga berkesempatan jalan ke China, Perancis, Jerman, Swiss, Belanda, Italia, Belgia. Alhamdulillah.

Tak henti hentinya saya bersyukur mendapatkan seorang Bos, seperti Mas Parno. Mas Parno ini, tipe bos humble, sederhana, ngemong. Tapi, kalau mengedit berita, beliau sangat teliti, detail dan rinci. Terkadang, keluar keringat dingin dan gugup, ketika duduk di samping Mas Parno, saat berita dikoreksi. Belum lagi kalau ada data yang kurang. Saat itu juga kita harus menelepon narasumber. Beliau sekali lagi, saya sangat bangga, menjadi salah satu wartawan, yang beritanya pernah diedit beliau langsung.

Mas Parno ini juga sangat hobi olahraga, sepakbola khususnya. Sebagai redaktur dan wartawan olahraga, saya harus terus mengupdate klasmen sepakbola liga dunia. Terkadang saya harus begadang, membuat berita pertandingan sepakbola yang ditayangkan secara langsung di tivi. Karena versi beliau, berita yang hanya menampilkan skor pertandingan tidak menarik. Wartawan olahraga harus menuliskan secara deskripsi mengenai jalannya pertandingan. ‘’Deskripsi dek. Tulislah secara runut. Jadi ketika orang baca berita kita, seketika pembaca merasa menyaksikan sendiri laga itu.

Ketika sudah tidak aktif lagi di redaksi, Mas Parno, masih rajin mengunjungi ruang redaksi. Begitu masuk, semua wartawan dan redaktur, disapa satu per satu dengan cara berkeliling. ‘’Gimana kabarmu, Dek?,’’ itu khas salah satu beliau yang melekat di hati.

Tiba-tiba kami mendengar Mas Parno sakit. Pada tanggal 14 Oktober 2020, kami bersama karyawan Sumatera Ekspres Grup lainya menjenguk beliau.

Pak Parno yang biasanya enerjik dan banyak cerita, tampak tersenyum. Kami lebih banyak diam sambil mendengarkan cerita Ari, putri sulung beliau tentang kondisi kesehatan papanya.

Beberapa kali Mas Parno mengucapkan kata ihlas. Sebelum pamit pulang, kami memberi semangat kepada Mas Parno.Ternyata itulah pertemuan terakhir kami. Karena pada 9 Desember 2020 Mas Parno kembali kepangkuan Allah SWT. Allahummaghfirlahu warhamhu wa’afihi wa’fuanhu. Aamiin

Mas Parno orang baik. Thanks to You Mas Parno. Untuk semua kesempatan dan pelajaran yang diberikan. (pipit/wiwik)

Komentar

Berita Lainnya