oleh

Gugat Praperadilan: Yakinkan Obby Tidak Bersalah

Orang Tua Obby Mengaku Dipersulit Temui Anaknya di Penjara 

PALEMBANG – Proses penangkapan, penetepan sebagai tersangka hingga penahanan Obby Frisman Arkataku dalam kasus meninggalnya Delwyn Berly Juliandro siswa SMA Taruna Indonesia oleh penyidik Satreskrim Polresta Palembang dinilai tidak sah dan melanggar hukum.

Pernyataan ini disampaikan Suwito Winoto, SH tim kuasa hukum Obby dari kantor hukum Samudra selaku pemohon pada persidangan pra peradilan perdana di PN Palembang Klas 1A Khusus, kemarin (31/7). Disampaikan Suwito, ada beberapa alasan pihaknya dalam mengajukan gugatan pra peradilan dengan termohon Kapolresta Palembang ini. Diantaranya, penangkapan Obby dilakukan pada tanggal 14 Juli 2019 dan surat penangkapan baru diserahkan kepada pihak keluarga pada 16 Juli 2019. Hal lain, hasil investigasi yang dilakukan terhadap sejumlah saksi dari pihak SMA Taruna Indonesia yang sebelumnya telah bersakso di hadapan penyidik tidak  satupun yang melihat pemohon (Obby,red) melakukan tindak penganiayaan hingga mengakibatkan korban Delwyn meregang nyawa. “Salah satunya dari keterangan saksi Citra yang juga selaku pembina di SMA Taruna Indonesia yang melihat korban (Delwyn) berteriak-teriak seperti orang kesurupan di tepi jalan. Saat itulah pemohon hanya memukuli pantat korban dengan bambu kecil secara pelan agar korban menepi, tidak keras. Bahkan, setibanya di Ponpes sewaktu beristirahat pemohon sempat membacayakan ayat-ayat suci al quran untuk menenangkan korban,” papar Suwito, kemarin (31/7). Saksi lain, Wahyu Arya juga pembina dalam keterangannya mengaku melihat pemohon sempat mencoba mengangkat korban saat terhempas ke lantai aspal pada saat melakukan long march bersama siswa lain. Namun, tidak melihat pemohon melakukan tindak kekerasan terhadap korban sebagaimana yanh disangkakan penyidik. “Ada pula Arsyad yang di malam kejadian sewaktu beristirahat di salah satu Ponpes di Talang Jambe menanyakan apakah dirinya memiliki obat paracetamol lantaran saat itu korban mengaku demam,” ucapnya. Hal lain yang juga diungkap tim kuasa hukum pemohon berdasarkan hasil otopsi yang dilakukan tim dokter RS Bhayangkara juga menyimpulkan penyebab kematian Delwyn belum tentu akibat dari tindak kekerasan. “Atas dasar uraian dan pernyataan para saksi dan bukti-bukti di TKP kami berkeyakinan klien kami tidak bersalah karena tidk terbukti telah melakukan tindak penganiayaan hingga mengakibatkan korban meninggal. Oleh karenanya kami mohon klien kami untuk dibebaskan dari dalam penjafa sekaligus dapat dipulihkan nama baiknya,” cetus Suwitilo di dampingi dua rekannya yang. Sementara di sidang pra peradilan dengan hakim tunggak Yosdi,SH ini juga dihadiri pula kedua orang tua Obby. Ditemui usai persidangan, ayah Obby, Dardanela mengaku pihaknya berharap agar majelis hakim dapat memberikan putusan dengan memerintahkan penyidik untuk membebaskan anaknya dari dalam penjara.”Saya yakin anak kami tidak bersalah, meski selama ditahan kami agar dipersulit untuk bisa menemuinya,” ungkap Dardanela yang mengaku akan terus mengikuti jalannya proses persidangan. Sementara Kapolresta Palembang selaku termohon yang diwakili Bidang Hukum (Bidkum) Polda Sumsel, AKBP Parlilmndungan Lubis,SH,MM mempersilahkan kuasa hukum pemohon menyampaikan alasan terkait pra peradilan ini. “Itu hak mereka untuk menyampaikan apa temuam mereka. Yang jelas kami tetap berkeyakinan penyidik telah bekerka sesuai prosedur termasuk dalam hal melakukan penangkapan, penetapan tersangka hingga penahanan. Dan itu akan kami sampaikan dalam jawaban kami selaku termohon di persidangan besok,” ungkap Parlindungan ditemui usai persidangan, kemarin (31/7). Sidang pra peradilan ini direncanalan paling lambt digelar selama tujuh hari ke depan. Dimana, usai mendengarkan gugatan pemohon akan dilanjutkan dengan jawaban termohon. Lalu, Jum’at mendatang penyampaian replik, Senin pembacaan duplik berikut penyampaian bukti surat dari pemohon dan termohon hingga Selasa akan dibacakan kesimpulan dari hakim.(kms)

Komentar

Berita Lainnya