oleh

Gunakan Bantuan PKH Untuk Tumbuh Kemang Anak

-Nasional-1.076 views

JAKARTA – Pemerintah telah meningkatkan alokasi anggaran bagi penyaluran Program Keluarga Harapan (PKH). Peningkatan ini dimaksudkan untuk membantu keluarga prasejahtera untuk lebih mandiri sekaligus meningkatkan kondisi gizi dan kesehatan anak-anak.

“Tahun lalu setiap penerima program PKH mendapat Rp1.890.000. Tahun ini meningkat drastis karena anggaran yang sebelumnya di seluruh Indonesia Rp19 triliun, tahun ini Rp34 triliun,” ujar Presiden Joko Widodo.

Dalam menerima PKH, Jokowi menekankan untuk memanfaatkan bantuan yang diberikan ini dengan sebaik-baiknya. Ia berpesan agar selalu memprioritaskan tumbuh kembang dan pendidikan anak dalam pemanfaatan dana bantuan PKH ini.

“Yang namanya anggaran PKH ini digunakan betul-betul untuk kepentingan keluarga kita, tambahan gizi, dan pendidikan anak-anak kita. Kita ingin ke depan anak-anak kita ini pintar semuanya, bisa berkompetisi dengan negara lain, dan sehat semua sehingga memang harus disiapkan dari sekarang,” jelasnya.

Menteri Sosial Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan bahwa realisasi penyaluran bantuan sosial PKH tahap pertama secara nasional pada awal Maret ini mencapai 99,99%. Tahun lalu, jumlah keluarga prasejahtera yang berhasil beralih status menjadi keluarga mandiri terdata sebanyak 621.788 keluarga penerima manfaat PKH.

“Berdasarkan hasil evaluasi World Bank tahun 2018 bahwa PKH memiliki dampak positif dalam hal peningkatan konsumsi per kapita, konsumsi berprotein, mengurangi gizi buruk dan stunting, serta meningkatkan partisipasi sekolah,” ujarnya.

Untuk diketahui, implementasi PKH pada tahun ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Selain bantuan tetap yang besarnya mencapai kurang lebih Rp1,5 juta per keluarga tiap tahunnya, keluarga penerima manfaat juga mendapatkan dana tambahan yang besarannya disesuaikan dengan indeks bantuan sosial PKH.

Dalam indeks tersebut ditetapkan bahwa penerima manfaat akan menerima tambahan dana bila dalam satu keluarga terdapat ibu hamil, anak usia dini, anak usia SD hingga SMA, anggota yang mengalami disabilitas berat, serta lansia.(ran)

Komentar

Berita Lainnya