oleh

Hadapi Revolusi Industri 4.0, Bangun Komunitas Belajar

SUMEKS.CO- Guna menghadapi tantangan revolusi industri 4.0 diperlukan sebuah gerakan membangun komunitas belajar.

Hal inilah yang ditegaskan Pusat Inovasi Pembelajaran, Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP PM) Universitas Sriwijaya (UNSRI).

Saat mengadakan seminar dan lokakarya inovasi pembelajaran. Dihadiri 80 dosen dari berbagai program study di Gedung Serbaguna Pasca Sarjana UNSRI. Kamis (5/12).

Kepala Pusat Inovasi Pembelajaran sekaligus selaku narasumber, Prof. Dr. Ratu Ilma Indra Putri, M.Si.

Prof Dr Ratu menyampaikan bahwa dunia pendidikan baru-baru ini dikagetkan dengan pernyataan kemampuan membaca, matematika dan sains Indonesia terendah di dunia.

Hal ini menurut Hasil Penilaian Siswa Internasional atau OECD Programme for International Student Assessment (PISA) 2018. Baru saja dirilis pada Selasa (3/12) 2019 lalu.

Lanjut Ratu, Indonesia menempati peringkat ke 74 kemampuan membaca, 73 matematika dan 71 Sains. Dalam lingkup total 79 negara.

Karena itu, perlu adanya peningkatan kualitas pembelajaran. Mulai dari proses penggunaan pembelajaran dan pencetakan mahasiswa di dalam perguruan tinggi. Sehingga mahasiswa yang lulus nantinya bisa berbuat sesuatu.

Mengutip pernyataan Mendikbud, Nadiem Makariem. Disampaikannya, terpenting adalah mahasiswa bisa merdeka dalam belajar.

Sesuai dengan kemampuan dan kemauannya sendiri. Sedangkan dosen sebagai penggerak dalam pembelajarannya sesuai dengan kecakapan abad 21. Yang dikenal dengan 4C (Communication, Collaboration, Critical Thinking and Problem Solving, dan Creativity and Innovation)

“Diharapkan dosen yang menghadiri kegiatan ini mampu menjadi penggerak melalui teknologi, dan Lesson Study for Learning Community,” terangnya. Dengan komunitas belajar, maka harapan pemerintah menciptakan SDM unggul Indonesia maju dapat tercapai.

Ketua LPPM Unsri, Prof. Dr. Ir. Muhammad Said, M.Sc menambahkan, selama ini pembelajaran masih banyak bersifat konvensional.

“Jadi, dosen-dosen masih terpaku pada teks book, nah yang masih kurang itu adalah perlunya pengembangan diri,” ujarnya. Baik dari dosen mahasiswanya.

Artinya bisa menguasai keilmuan dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Serta ke arah pengembangan kompetensi.

“Jadi saat tamat, mahasiswa akan siap, apakah akan lanjut study atau bekerja,” kata Said. Sehingga bisa terampil disertai pembelajaran digital melalui proses e learning atau sejenisnya.

Seminar secara resmi dibuka oleh rektor UNSRI, Prof Dr Ir H Anis Saggaff MSCE. Ia menyampaikan dalam kategori rangking masih urutan ke 14.

“Setelah kita bedel ternyata kita lemahnya di publikasi belum sesuai dengan target yang kita buat,” ujarnya. Namun, pihaknya bersyukur sekitar 52 persen riset telah ada publikasinya. Terdata sekitar 760an yang sudah publikasi.

“2020 nanti sambil dibimbing saya yakin kita dapat unggul di riset dan publikasi pembelajaran di sistem 4.0,” jelasnya. Kemudian, barulah Unsri bisa maju menjadi Internasionalisasi.

“Selamat berinovasi, mereformasi diri, kita ubah sistem, mudah-mudahan akan semakin baik lagi sistem penilaian dan sistem penulisan jurnal, Karena SDM kita bagus cuma perlu ada upgrading,” jelas Anis.

Lanjutnya, ada 84 jurnal dari berbagai program study di UNSRI. 42 jurnal diataranya kini sudah terakreditasi. Mulai dari Sinta 1 terindeks scopus yang baru satu, Yakni jurnal on mathemathic education.

Selain itu, ada jurnal Sinta 2 jurnal pendidikan matematika dan Sriwijaya low review. Kemudian sisanya adalah Sinta 3 sampai 6. Sejak dilakukan program percepatan akreditasi jurnal ilmiah, Unsri sudah mempunyai 42 yang terakrediasi Sinta Dikti.

Pihaknya menargetkan jurnal lain mampu untuk reakreditasi dengan harapan semua jurnal ilmiah di Unsri dapat terakreditasi ke Sinta 1, dan bereputasi atau terindek Scopus,” pungkasnya.

Diakhir acara, Rektor UNSRI, Prof Dr Ir H Anis Saggaff MSCE menyematkan pin Arjuna kepada Assessor Nasional Bidang Substansi, Prof. Dr. Zulkardi, M.I.Komp., M.Sc. dan assessor nasional Bidang Manajemen, Deris Stiawan, M.T., Ph.D. Kemudian menerima cindera mata Arjuna (Akreditasi Jurnal Nasional) Sinta Award. Diserahkan oleh Deris Setiawan sebagai perwakilan dari Dikti.(nur)

Komentar

Berita Lainnya