oleh

Haji Nekat Lewat Jalur Darat Tayang di Kick Andy

RATUSAN penonton tepatnya berjumlah 550 menyesaki studio Metro TV di kawasan Kedoya, Kebun Jeruk, Jakarta Barat, Kamis (1/8) malam. Acaranya rekaman atau tapping siaran tunda Kick Andy Show. Temanya sangat inspiratif: Cara Unik ke Tanah Suci alias Makkah, Saudi Arabia. Baik menunaikan ibadah haji maupun umroh.

Tema nan seksi. Selain bertepatan menjelang hari puncak pelaksanaan ibadah haji jatuh 11 Agustus 2019 atau 10 Dzulhijjah 1440 Hijriyah. Biasa dikenal Hari Raya Iduladha atau kurban.

Juga sebagai hiburan bagi calon jamaah haji regular Indonesia yang masuk daftar tunggu haji atau waiting list sangat sangat..lama. Setiap provinsi berbeda, paling cepat 11 tahun, terlama 39 tahun.

Catatan Kemenag RI tahun 2018 menyebutkan, rata-rata masa tunggu keberangkatan haji atau waiting list secara nasional saat ini mencapai 18 tahun. Daftar tunggu paling cepat 11 tahun untuk tiga provinsi: Gorontalo, Maluku, dan Sulawesi Utara.

Sedangkan daftar tunggu paling lama provinsi Sulawesi Selatan mencapai 39 tahun. Bayangkan! Kalau Anda mendaftar haji umur 50 tahun, sampeyan baru bisa berangkat umur 89 tahun.

Pertanyaannya, apakah secara fisik masih mampu? Begitu juga umur, apakah pas hari ‘H’ keberangkatan masih diberi umur panjang? Wallahualam.Tapi, sisi baiknya Anda sudah tercatat sebagai haji di sisi Allah SWT karena sudah berniat. Wujudnya, membayar setoran awal ongkos naik haji (ONH).

Sementara di Pulau Jawa, daftar tunggu wilayah DKI Jaya dan Banten mencapai 19 tahun, Jabar 20 tahun, Jateng 22 tahun, Jogjakarta mencapai 23 tahun. Dan, paling lama Jatim sampai 24 tahun.

Nara sumber yang dihadirkan malam itu Hakam Mabruri bersama sang istri yang nekat nggowes setahun penuh dari Malang ke Makkah untuk bisa menunaikan umroh. Juga penulis (Bahari) yang melakukan Haji Nekat Lewat Jalur Darat pada 2011 melintasi sedikitnya 12 negara atas penugasan Jawa Pos, tempat penulis menjadi wartawan.

Ada satu sumber lagi yang hendak didatangkan Mochamad Khamim Setiawan, pemuda asal Pekalongan melakukan haji dengan jalan kaki. Sayang, Khamin tidak bisa hadir karena masih berada di Mesir.

Agar nuansa lebih Islami, ikut memeriahkan dialog penyanyi yang hit membawakan lagu-lagu religi Nissa Sabyan ikut dihadirkan. Dara kelahiran Lumajang, Jatim, 23 Mei 1999 membawakan tiga lagu hitsnya. Diantaranya, berjudul Bismillah dan Ya.. Maulana. Wah..audent sangat antusias. Studio pun bergema karena penonton ikut terbawa melantunkan lirik Sabyan.

Jago Stand Up Comedy
Hal unik lainnya, mungkin ini yang tidak disaksikan pemirsa Kick Andy di rumah sebelum tapping atau rekaman, Andi F Noya sebagai pembaca acara melakukan stand up comedy. Wah kocaknya luar biasa.

Andy yang dibesarkan di perkampungan Jl Kutai Surabaya sangat familiar dengan budaya dagelan, banyolan gaya Suroboyo. Apalagi, Andy remaja mengenyam bangku sekolah menengah atas di Jayapura, Papua yang dikenal gudangnya mops sejenis cerita lucu ala Papua. Mirip mirip banyolan, ludrukan di Surabaya. Makanya, Andy Noya begitu piawai saat ndagel.

Penulis paham benar budaya mops karena pernah kuliah di Universitas Cenderawasih (Uncen) dan lulus S1 tahun 1990. Lalu bergabung harian Cenderawasih Pos (Cepos) anak perusahaan Jawa Pos Group selama tiga tahun sejak 1993 lalu bergabung iduknya Jawa Pos Surabaya tahun 1996.

Sambil menunggu kru Kick Andy Show mempersiapkan segala tetek bengeknya peralatan kamera untuk siaran, Andy Noya yang kini tampil plonthos itu pun mencoba menghibur penonton dengan joke-joke ala Madura. ‘’Saya dengar ada penonton dari Madura,’’ tanya Andy. Spontan beberapa penonton mengancungkan telunjuk jari. ‘’Kalau kita mau sukses berbisnis tirulah orang Madura yang dikenal ulet dan banyak akal,’’ katanya.

Dengan gaya jenaka, Andy menuturkan bagaimana pedagang jangkrik asal Madura menawarkan dagangnya dengan cara berbeda untuk memikat pembeli. ‘’Bo aboh ini jangkrik Rambo..tidak ada yang bisa mengalahkan. Selalu menang saat diadu,’’ ujar Andy menirukan orang Madura tadi berpromosi.

Singkat cerita, ada pembeli kesengsem pun membeli jangkrik tadi dengan harga cukup mahal. Diadu beberapa kali menang. Tapi, saat ketemu lawan tangguh jangkrik Rambo tadi kalah. Pembeli protes ke pedagang Madura tadi.

‘’Katanya jangkrik Rambo menangan kok kalah,’’ protes pembeli tadi.

Tak kurang akal, pedagang Madura tadi pun berkelit. ‘’Boh aboh…kalau jangkrik itu memang tak bisa dikalahkan. Itu komandanya Rambo,’’ kilah pedagang Madura tadi. Penonton pun langsung gerrr…

Suatu ketika pedagang Madura menawarkan buah semangka. ‘’Ini semangka lain daripada yang lain. Manisnya luar biasa kayak gula. Kalau di belah dalamnya merah menyala,’’ kata pedagang Madura tadi. Mendadak rombong buah tertabrak becak. Buah semangka pun berjatuhan dan sebagaian pecah.

Alamak! Ternyata dalam semangka berwarna putih alias masih mentah atau belum masak benar. ‘’Lo, katanya dalamnya semangka merah. Manis kayak gula. Itu kok putih..,’’ tanya calon pembeli keheranan sambil menunjuk buah semangka yang pecah tadi.

‘’Boh.. aboh..tunggu dulu. Kalau sampayen jatuh, atau habis kecelakaan kan pucat pasi. Begitu juga semangka kalau habis jatuh ya pucat,’’ kelit pedagang Madura tadi tanpa rasa bersalah. Penonton kembali gerrrrr….

‘’Apakah cerita dilanjutkan,’’ tanya Andy Noya. ‘’Lanjut….’’ Jawab penonton serentak. Antusias. ‘‘Wah kalau cerita orang Madura diteruskan tidak ada habisnya. Kapan kita rekamanya ha..ha,’’ tanya Andy.

‘’Gaya kocak Bang Andy sebelum rekaman untuk membuat penonton rileks, enjoy sebelum acara inti dimulai. Itu selalu dilakukan Bang Andy sebelum acara inti,’’ tambah Rusdi, produser Kick Andy Show.

Setelah kru Kick Andy Show siap, rekaman, wawancara dengan nara sumber pun dimulai. Namun seorang kru Kick Andy show mengingatkan penonton demi ketertiban acara. Selain dilarang berisik, menyalakan HP apalagi memotret karena akan menganggu peralatan atau sound system. ‘’Pokoknya duduk tenang,’’ ujar kru Kick Andy sebelum memulai acara.

Penonton juga diminta memberi aplaus ke narasumber sebelum acara berlangsung dan setiap mengawali dialog setelah break. Dalam hitungan mundur lima, empat tiga, dua, satu baru bergema tepuk tangan. Tapi, tidak semua diatur. Kalau ada keterangan narasumber lucu, dramatis, atau jenaka penonton bisa memberi aplaus positif. Tidak harus tepuk tangan. Tapi, melontarkan kekaguman wouw.. dan kata ungkapan sejenisnya. Bahkan reaksi, pancingan, ulah dan komentar satire Andi Noya dalam ‘’menjahili’’ narasumber kadang bikin cekikikan penonton.

Menjaga suasana tenang saat rekaman sangat dijaga kru Andy Kick. Tidak ada penonton mondar mandir, berisik apalagi potret sana, potret sini. Bahkan saat rekaman ada suara panggilan HP penonton, rekaman langsung dihentikan karena dianggap mengganggu. Apesnya, pemilik HP tak segera mematikan atau kesulitan mematikan dering panggilan telepon tadi. Andy Noya pun nyeletuk. ‘’Kalau HP ‘’murahan’’ ya.. begitu sulit dimatikan …,’’ sindirnya jenaka.

Bahkan saat diwawancara penulis kebetulan sedikit batuk karena agak flu rekaman pun langsung dihentikan guna memberi kesempatan penulis mengatur nafas agar tidak batuk lagi. ‘’Silakan batuk nggak papa. Jangan ditahan. Kita akan ulang lagi nanti,’’ tutur Andy. Setelah itu Andi melontarkan pertanyaan ulang, penulis pun menjawabnya.

Karena tapping berlangsung berjam jam, bagaimana jika penonton ingin ke belakang buar air kecil? Tidak masalah. Saat break sebagaian penonton memanfatkan ke belakang. Tapi, tidak bisa balik langsung ke tempat duduknya. Harus menunggu break berikutnya.

Lima belas menit sebelum acara tapping, para narasumber dikumpulkan di ruangan khusus untuk briefing. Andi Noya langsung memberikan pengarahan. Jangan bayangkan suasana briefing kaku, tegang. Sama sekali jauh dari kesan itu. Andy Noya yang smart itu piawai menghadirkan suasana ceria, tidak tegang.

’’Intinya kalau ada pertanyaan baru dijawab. Jangan panjang panjang apalagi diborong. Nanti saya dapat bagian apa?’’ ujar Andy tergelak. Briefing tidak sampai lebih menit. ‘‘Ada pertanyaan,’’ tanya Andy. Seorang kru band Nissa Sabyan pun angkat tangan. ‘’Apakah kami boleh menyebut nama perusahaan pemberi penghargaan (di luar Metro TV) pada group band kami,’’ tanya kru tadi. ‘’Boleh boleh..silakan saja sebut. Ini Kick Andy Show. Bebas saja…tapi kalau nanti di kick ya…tidak tahu ha..ha,’’ ujar Andy guyon.

Nissa Sabyan dkk diberi kehormatan membuka acara talk show dengan membawakan beberapa lagu lagu religi sesuai tema yang diusung malam itu yakni: Cara Unik ke Tanah Suci. ‘’Sabyan besok harus sekolah. Jadi, kita kasih kesempatan pertama untuk menyannyi,’’ gojlok Andy. Sabyan yang bertubuh mungil hanya mesem mesem saja.

‘’Lalu siapa yang dikorbankan berikutnya. Jadi kelinci percobaan wawancara saya,’’ lontar Andy jenaka. Tenyata Hakam Mabruri berserta istri mendapat wawancara perdana.

Penulis dipilih di sesi akhir karena sekalian dan bagi bagi buku ‘’Haji Nekat Lewat Jalur Darat’’ yakni, kumpulkan tulisan 79 seri dari penulis yang dimuat Jawa Pos saat melakukan haji darat. Start dari Surabaya 5 Agustus 2011.

Tiba di Makkah, 1 Nopember 2011. Balik ke Surabaya 25 Nopember 2011. Atau selama tiga bulan, ditambah 23 hari melewati sedikitnya 12 negara: Malaysia, Thailand, Myanmar, Laos, Vietnam, China, Tibet, Nepal, India, Pakistan, Oman dan finish di Saudi Arabia. Juga sempat masuk Kamboja mengurus visa kabur.

Bagi bagi buku paling dinanti penonton Kick Andy Show. Makanya, kru Andy Kick sebelumnya harus memesan buku langsung ke JP Books sebanyak 600 biji untuk dibagikan ke penonton di studio.

‘’Kalau persediaan buku terbatas biasanya penerbit cetak buku baru. Tapi, alhamdulillah persediaan buku Haji Nekat Lewat Jalur Darat cukup tersedia. Jadi, kita borong. Minimal beIi 600 buku,’’ tambah Rusdi, produser Kick Andy Show.

Tak ayal usai acara, penonton yang umumnya emak emak menyerbu penulis. Rupa rupa yang diminta. Sekedar tandatangan di buku ‘’Haji Nekat Lewat Jalur Darat’’ melayani selfi sampai minta no kontak. Waduh..untuk yang terakhir penulis tidak hafal. Sepurone. Mereka pun mahfum.

Di sesi akhir nara sumber dan keluarganya diberi kesempatan pertama foto bareng dengan pembawa acara Kick Andy Show, Andy Noya. Setelah itu penonton secara berjamaah bergantian foto dengan Andy Noya.

Penonton yang datang umumnya dari komunitas fans setia Andy Kick. Mereka membentuk semacam perkumpulan karena sama sama menyukai acara yang penuh inspiratif tadi. ‘’Mereka tidak dibayar. Sebelum hadir mereka mendaftar lewat mailing list,’’ ujar Rusdi. Sebagaian penonton datang dari keluarga dekat, teman nara sumber.

Yonas, salah satu dari ratusan penonton tetap Kick Andy Show mengaku sudah mengkoleksi ratusan buku hadiah dari Kick Andy. ‘’Lemari saya penuh buku. Ada sekitar 250 judul buku. Sudah dua tahun lebih saya tidak pernah absen hadir di Kick Andy Show,’’ aku pria paroh baya tersebut.

Padahal, rumah Yonas cukup jauh daerah Depok. Ke lokasi acara sekitar 15 kilometer dari rumahnya Yonas naik sepeda motor. Sebab, kalau naik angkutan umum sulit saat pulangnya karena sudah malam. Rata rata pukul 22.00 sampai 23.00 baru bubar. ‘’Selain dapat buku banyak pelajaran dan hikmah yang bisa diambil dari para nara sumber yang dihadirkan. Sangat meng-inspirasi,’’ aku Jonas.

Tak hanya dapat buku, dalam Kick Andy Show edisi special misalnya, saat peringatan hari Kemerdekaan RI 17 Agustus, hari raya Idul Fitri, Hari Natal, Tahun Baru dan hari hari besar nasional penonton juga dapat beragam door price. Mulai HP, TV, kulkas dan barang elektronik lainnya.

‘’Selain tentunya dapat makanan berat,’’ tutur Rusdi.

Bertahan 13 Tahun Karena Inspiratif
Tidak terasa Kick Andy Show sudah bertahan 13 tahun sejak kali pertama tayang 2006. Krunya boleh silih berganti tapi tema utama yang diusung adalah tokoh, orang yang sangat meng-inspiratif, nilai humanismenya tinggi. Kalau di koran atau media cetak mungkin berita sejenis features.

Selain tentu pembawa acaranya Andy Noya, wartawan kawakan yang smart, punya selera humor tinggi dengan joke joke spontan hingga membuat suasana acara yang dipandunya sangat hidup.
Dialog dengan nara sumber begitu mengalir layaknya percakapan biasa. Tidak tampak formal dan kaku. Itu karena Andy Noya yang dikenal sebagai wartawan kawakan, sejak merintis karirnya di majalah Tempo sudah sangat berpengalaman di media cetak dan tv. Andy piawai menghadapi beragam latar belakang narasumber. Mulai petani sampai presiden.

‘’Mungkin ini beberapa kelebihan talk show Kick Andy hingga mampu bertahan hingga sekarang,’’ aku Rusdi yang sudah menjadi produser Kick Andy selama lima tahun terakhir.
Untuk mencari narasumber baik tokoh, orang biasa yang sangat inspiratif memang tidak mudah. Semua daya dikerahkan mencari keberadaan orang orang inspiratif tadi yang layak menjadi narasumber Kick Andy Show.

Beragam cara dilkakukan kru Kick Andy guna menemukan sosok inspiratif tadi. Mulai tim internal Kick Andy dengan cara membaca beragam sumber informasi. Koran, majalah, tv, medsos, internet. Juga mengerahkan para reporter dan koresponden Metro TV dan Media Indonesia seluruh pelosok Nusantara. Juga masukan semua pihak termasuk dari mantan nara sumber yang pernah dihadirkan di Kick Andy.

Jika sudah ditemukan, para nara sumber tadi diseleksi layak tidaknya untuk tayangan Kick Andy. ‘’Minimal kita di internal Kick Andy rapat dua kali seminggu untuk membahas nara sumber dan persiapan tayang,’ aku Rusdi.

Untuk mencari nara sumber yang pas juga terkait momentum, kejadian dan ketokohan nara sumber. Misalnya, menjelang hari kemedekaan akan dicari tokoh pejuang. Tak hanya berjuang secara fisik, juga mereka yang konsisten menyuarakan perdamaian, menciptakan sesuatu yang membangkitkan kebanggaan nasional ime bangsa Indonesia dan sejenisnya.

Juga disesuaikan mementumnya. Misalnya, saat ini sedang berlangsung ibadah haji maka dicarilah tokoh atau orang berkaitan haji atau umroh. Lalu ketemu pelaku haji unik lewat jalur darat, umroh bersepeda untuk mencaapai ke Baitulah, Makkah. ‘’Ya.. seperti sampeyan pelaku haji darat yang saat ini jadi nara sumber Kick Andy,’’ jelas Rusdi.

Setelah narasumber ditemukan, maka kru Kick Andy mulai bergerilya mencari lebih dalam tentang sosok nara sumber tadi. Ada kru wartawan mewawancarai nara sumber, ada tim kameramen mendatangi tempat tinggal nara sumber untuk mendokumentasikan keseharian nara sumber. Juga hal atau benda dan bukti pendukung lain berkaitan aktivitas yang pernah dilakukan nara sumber.

Misalnya, tim Kick Andy perlu mendatangkan sepeda tandem milik Hakam Mabruri yang menemani nggowes dari Malang sampai Makkah. Hakam sudah menyarankan sepeda tandemnya tidak perlu dibawa ke Jakarta karena merepotkan. Harus dipreteli, dimasukan kardus dan dikirim lewat cargo udara. Makanya, Hakam menyarankan cukup diganti sepeda tandem dari Jakarta.

Tapi, tim Kick Andy menolak. Tidak mau. Sepeda tandem asli Hakam Mabruri yang menemani dari Malang sampai Makkah harus diterbangkan ke Jakarta bersama orangnya. Padahal, sepeda tandem tadi hanya dinaiki Hakam dan istrinya beberapa meter di studio saat wawancara.

‘’Ini untuk menjaga kualitas acara serta keaslian pendukung narasumber termasuk sepeda yang dipakai nggowes Malang-Makkah tadi. Ini juga sebagai bentuk penghargaan terhadap pembuat sepeda tadi. Mereka akan bangga kalau sepeda tadi ditampilkan di Kick Andy. Kalau diganti sepeda lain tentu nilainya sudah berbeda,’’ tambah Rusdi. Usai acara sepeda kembali dipreteli lalu diterbangkan ke Malang bersama pemiliknya.

Penulis sendiri selain diwawancarai berulang kali oleh kru Kick Andy. Penulis juga berinisiatif mengirim file berisi tulisan haji darat ‘’penulisan ulang’’ sebanyak 73 seri yang pernah dimuat Radar Jogja lengkap foto pendukungnya. Juga album foto haji darat. Tidak cukup hanya itu, kru juga minta passport berisi beragam cap visa-visa negara yang dilewati saat haji darat. Bahkan ada yang dua kali seperti visa negara India. Semua itu itu diperlukan untuk kedalaman untuk penggalian bahan pertanyaan oleh pembawa acara Kick Andy nanti. Tim Kick Andy juga memelototi edisi Jawa Pos bulan September, Oktober, Nopember 2011 berisi 79 tulisan bersambung haji darat yang sudah dijilid penulis.

Penulis juga diajak shooting tim kameramen Kick Andy di rumah untuk menggambarkan aktivitas keseharian sampai Masjid Agung, Surabaya hampir seharian.
Tapi, jangan bayangkan semua peristiwa, kejadian selama haji darat ditanyakan semua. Tentu sangat terbatas karena minimnya waktu tersedia saat tayang. Makanya, hanya beberapa kejadian, angle tertentu dipilih. Nara sumber hanya menjawab pertanyaan pembawa acara. ‘‘Tentu tidak semua peristiwa yang dialami nara sumber ditanyakan. Tidak semua yang ada di buku bisa diceritakan, diungkap tuntas karena terbatasnya waktu,’’ ujar Andy Noya.

Untuk menyiasati minimnya waktu yang tersedia, secara garis besar semua pertanyaan sudah dicatat sebagai panduan utama pembawa acara. Andy Noya tinggal berimprovisasi, mendalami jawaban nara sumber, atau membuat celetukan untuk menghidupkan suasana dialog.

Namun daftar pertanyan tetap dirahasiakan bagi nara sumber sebagai kejutan. Pengalaman sebelumnya, jika semua pertanyaan dibocorkan ke nara sumber saat rekaman kadang ada nara sumber terlalu bersemangat. Akhirnya keblabasan bercerita. Belum ditanya sudah langsung menjawab, nerocos terus A hingga Z. Sampai habis. ‘’Ini mengacaukan tanya jawab,’’ ujar kru Kick Andy.

Begitu juga foto, hasil rekaman shoting untuk memperkuat narasi atau alur cerita yang sudah dilakukan nara sumber tentu sangat terbatas waktunya. Mungkin hanya beberapa adegan atau

cuplikan. Itu dalam hitungan menit saja.
Setelah semua beres ada kru Kick Andy mengurusi akomodasi. Tiket pesawat, hotel, antar jemput dari bandara ke studio semua dilayani sopir. Sampai di lokasi acara ditemani kru Kick Andy. Sebelum tapping, nara sumber dibawa ke salon untuk di make up agar tidak kusam. Waduh.. seumur sumur belum pernah ke salon. ‘’Di make-up tipis tipis aja kok,’’ ujar seorang Mbak.

Setelah itu dilakukan sesi pemotretan untuk media cetak group Metro. Bakda Magrib di make up tipis tipis lagi untuk persiapan tapping atau rekaman. Sebelumnya dilakukan briefing singkat langsung Andy F Noya. Selengkapnya, bisa disaksikan di acara Kick Andy Show yang akan ditayangakan di stasiun Metro TV pada Jumat, 9 Agustus pukul 19.30.

Tapi, bagi penulis bisa tampil di Kick Andy, salah satu talk show paling bergengsi di Tanah Air sesuatu kehormatan luar biasa. Sebagai penghargaan atas ide besar yang digagas Jawa Pos memberangkatkan wartawanya melakukan perjalanan haji lewat jalur darat. Liku liku melintas 12 negara menuju Makkah ditulis bersambung di Jawa Pos dan groupnya hingga 79 seri adalah karya jurnalistik sangat istimewa. Jawa Pos Network Nasional (JPNN) mentasbihkan tulisan haji darat terpajang dalam sejarah JP Group hingga mencapai 79 seri. Penulisnyaberhak hadiah Rp25 juta.

Dalam sejarahnya, Jawa Pos yang dipimpin Dahlan Iskan sejak 5 April 1982 saat diambil majalah Tempo dari pemiliknya Mr The Chung Shen banyak melakukan liputan besar, fenomenal, kelas dunia dalam 35 tahun terakhir. Mengirim wartawan liputan ke seluruh dunia. Mulai mengirim Nany Wijaya dalam People Power I berujung kejatuhan ditaktor Presiden Philipina Ferdinand Marcos dimana menghasilkan headline halaman satu sebanyak 40 kali berturut turut yang kata Dahlan, belum terpecahkan hingga saat ini , menerjunkan Ali Murtadlo dalam liputan perang Irak-Iran, menurunkan tiga wartawan sekaligus dalam liputan perang Irak saat Presiden Saddam Husein digulingkan Amerika, mengirim wartawan di liputan perang Afghanistan, liputan haji lewat jalan darat dan beragam liputan olah raga kelas dunia mulai Piala Dunia, Olympiade, Asian Games, Sea Games dan lainnya.

Juga ditopang pemberitaan sangat kuat Persebaya dan piala dunia yang sangat unggul karena di dalamnya berjibun wartawan JP olahraga legendaris nan hebat. Sebut saja, Johny Budimantoro, Zainal Muttaqien, Slamet Oerip Prihadi, Soelaiman Ros, Bambang Supriyanto, Agus Sujoko, Berto Riyadi, Fuad Ariyanto, Abdul Muis, almarhum Wing Wiryanto Sumarsono, almarhum Kholili Indro, Bambang Indra Kusumawanto dan masih banyak lainya.

Juga berjibun wartawan senior mumpuni terbukti setelah tidak di Jawa Pos pun mereka tetap menjadi orang penting dengan kemampuan istimewa di bidangnya masing-masing. Ada politikus, pebisnis, dosen, doctor, pejabat pemerintah dan beragam profesi prestisius lainnya. Sekali lagi, itu menunjukan kapasitas dan kemampuan mereka yang tetap eksis di luar sana.

Semua itu membuat Jawa Pos yang semula koran sebecak dengan oplah 6.800 eksemplar, itu pun yang laku hanya 1.000 saja menjadi imperium, beranak pinak ratusan media masa. Juga melakukan diversifikasi perusahaan. Ada perhotelan, perkebunan, pertambakan, listrik, percetakan, penerbitan buku dan lainnya. Umumnya sukses sebagaian kecil gagal.

Kini, kami sedulur Jawa Pos yang sudah berada di luar senantiasa berharap, menantikan karya-karya besar liputan eksklusif yang jadi trade merk Jawa Pos dari teman teman JP.

Saatnya sedulur JP yang masih aktif terus berinovasi melahirkan karya karya besar, menghasilan liputan fenomenal di tengah gempuran medsos dan media on line agar JP tetap eksis.
Tetap semangat dan menghargai para seniornya yang semula banyak dipinggirkan. Wartawan kian senior kian berisi, makin mengendap dan lebih bijak. Umur hanya deretan angka. Semangat, kerja keras, loyal profesi, memberikan hati, pikiran , tenaga sepenuh jiwa hanya untuk JP itu paling utama.

Selamat berjuang kawan agar JP tetap jaya seperti harapan kami yang sudah purna tugas.
Semangat dan kerja keras wajib digelorakan di tengah ancaman medsos dan media digital yang terus menggerogoti keberadaan media cetak. Ditambah menjujung tinggi independensi dan profesionalisme sebagai jurnalis. Tidak partisan, mampu menahan syahwat politik.

Untuk terakhir masih ada orang redaksi JP terlihat partisan. Itu terlihat dari postingan di medsos yang mempertontonkan afiliasi politiknya secara vulgar terhadap calon tertentu di pilpres lalu. Ini sangat memalukan. Meski itu atas nama pribadi tapi harus disadari mereka bekerja di istitusi pers yang seharusnya netral dan independen.

Juga masih terlihat postingan pucuk pimpinan JP di FB maupun medsos yang mempertontonkan kehidupan glamor, pelesiran di tempat mewah, men-share kongkow wisata kuliner di tempat mahal. Model pimpinan begini selain tidak peka juga melukai karyawan.

Apalagi, kini Jawa Pos dilanda pecah kongsi setelah Azrul Ananda dan Abahnya Dahlan Iskan yang dikenal ikon JP didepak dari Jawa Pos oleh pemegang saham Jakarta. Dis kini sudah tidak berkuasa di JP Group tapi hanya sebatas pemegang saham 10, 20 persen dengan jabatan Komisaris biasa tanpa kuasa sedikit pun. Sayang seribu sayang. Padahal Dis sudah terlanjur indentik, menjadi ikon JP.

Makanya, banyak yang berspekulasi tanpa ikon Dahlan Iskan dan Azrul Ananda, JP akan meredup dalam lima tahun terakhir, setelah itu perlahan hilang dari peredaran. Atau, kembali seperti saat awal JP Kembang Jepun. Beroplah sebecak.

Apakah spekulasi itu kelak terbukti atau tidak, semua tergantung orang JP saat ini. Apakah mereka mau bekerja keras tanpa ikon Dis agar tetap eksis, tetap berjaya. Atau, justru pasrah keadaan, berkelahi sesamanya, atau malah menciptakan perahu, atau sekoci sendiri sendiri di kalangan pejabatnya. Semua berpulang kepada orang JP sendiri. Ini menyangkut pilihan. Ini yang perlu dijawab rekan JP dengan kerja nyata.

Kalau wartawan angkatan Kembang Jepun dan Karah Agung berhak mengklaim bawasannya mereka lah yang membangkitkan kejayaan JP dari koran sekarat, enggan mati, hidup pun segan menjadi raja koran Indonesia, beranak pinak ratusan media masa dan tv. Itu syah syah saja. Faktanya memang demikian.

Kini setelah mereka banyak yang purna tugas, apalagi ikon JP Dahlan Iskan orang paling berjasa membesarkan JP didepak, ada pertanyaan besar. Apakah mereka (para pemegang saham-para direksi dan seluruh karyawan JP) bisa mempertahankan kejayaan Jawa Pos guna membalikan pendapat mereka yang pesismitis, meragukan kemampuan kepemimpinan Leak Kustiya dkk bahwa JP akan terpuruk sepeninggal Dahlan Iskan dan anak lanangnya Azrul Ananda.

Minimal JP tetap bertahan dalam situasi sulit saat ini saja sudah menjadi nilai plus point bagi Leak Kustiya yang kini menjabat top menejemen JP Group. Tidak main main tiga jabatan dirangkap sekaligus. Dirut JP Koran, Dirut JP Radar dan terakhir Dirut JP on line yang sebelumnya dijabat Hidayat Jati anak Goenawan Mohamad.

Atau sebaliknya, justru karena tiga jabatan top berada di satu tangan Leak, yang tentu Dahlan dan Azrul tahu benar kapasitas dan kemampuan seorang Leak, cah Purwodadi itu. Apakah JP akan berjaya di tangan Leak, atau sebaliknya justru terpuruk seperti diprediksi banyak senior JP. Waktu yang akan membuktikan.

Sebagai orang yang pernah mencurahkan segenap jiwa raga untuk kejayaan JP, menjaga nama baik intitusi, penulis berharap JP tetap eksis, berdiri tegak, terus menghasilkan karya karya besar, liputan fenomenal yang bisa dibanggakan kepada anak cucu kita. Amin..

Eh..kok jadinya ngelantur….Semua masalah Jawa Pos Group pasca terdepaknya mantan raja midas Dahlan Iskan dan anak lanangnya Azrul Ananda bisa ‘’dibaca’’ di buku independen Jawa Pos Part II, kelanjutan karya penulis sebelumnya ‘’Azrul Ananda Dipuja dan Dicibir Kontroversi Penguasa Baru Jawa Pos, Ahli Waris Dahlan Iskan’’

Penulis sejak 2017 sudah mengumpulkan beragam kepingan, mozaik penyebab pecah kongsi Goenawan Mohamad dkk versus Dahlan Iskan Cs dengan melakukan serangkaian wawacara para senior JP, para raja koran daerah, pimpinan, direktur anak perusahaan JP Group untuk bahan tulisan buku JP Part II.

Ini bocoran sedikit sekalian promosi ha..ha ha ternyata hasilnya luar biasa. Banyak data, informasi mencengangkan diterima penulis. Bagaimana kerasnya gesekan kubu GM dan Dis di pihak lain. Terjadi perang di semua lini. Saling berebut, saling klaim anak perusahaan. Itu hanya pucuk gunung es dari perseteruan dua gajah: GM versus Dis. Masih banyak masalah super rumit diantara kedua kubu.

Apalagi, banyak sumber pejabat aktif maupun senior JP sebagaian menghindar jika ditanya sengkarut JP. Kalau pun bersedia biasanya mendadak daya kritisnya tumpul. Jawabanya ngambang, tidak tahu lah, tidak dengar dan sejenisnya. Paling parah, baru didekati penulis langsung gibras gibras. Dengan beragam alasan mereka ini biasanya pelan pelan kabur ha..ha

Tapi, ada yang berani buka bukaan. Ada yang mau ditulis namanya. Tapi, banyak yang enggan dikutip namanya dengan beragam alasan. Tapi, penulis sangat menghargai mereka. Semua itu jadi tantangan penulis. Kian rumit masalah, kian tertutup sumber tadi itu makin menggairahkan penulis untuk mengungkapnya. Fakta itu suci dari manapun sumbernya.

Tapi, penulis sangat selektif dalam memilih nara sumber. Terutama menyangkut trak recordnya nara sumber saat aktif di JP. Itu jadi pertimbangan utama penulis. Unsur subyektifitas penulis tentu tidak bisa dihindari dalam pemilhan nara sumber. Meski demikian penulis berupaya seobyektif mungkin.

Tentu sebagai orang JP, mereka saling tahu kartunya masing-masing. Apakah si A belepotan, menghamba penguasa, injak sana, injak sini tak peduli kawan yang penting karir meroket, hanya mencari aman, memperjuangkan diri sendiri, peduli terhadap teman yang dikuyo kuyo atau kritis. Semua orang JP saling tahu itu.

Sambil pelesir ke manca negara Dis terus memonitor perang tak berkesudahan itu. Dari tempat ‘pertapaannya’ Salihara, Jakarta Selatan, GM tak kalah sibuknya terus memonitor konflik JP. Perang saudara begitu sengit berebut pundi pundi yang tak jauh dari urusan perut.

Buku nantinya dilengkapi studi kasus soal saham karyawan yang menjadi sumber konflik di tiga media besar. Tak hanya di Tempo, Jawa Pos tapi juga di Kompas, koran mapan terbitan Palmerah, Jakarta Pusat itu. Itu terbaca dari studi kepustakaan yang dilakukan penulis. Dimana mana karyawan jadi ‘’kalah kalahan’’. . Selengkapnya tunggu bukunya terbit ha..ha..ha.

Hanya saja penggarapan buku independen ini sedikit tersendat saat penulis ada pekerjaan kecil di luar untuk menopang dapur penulis. Kalau longgar baru dikebut lagi.
Mengapa penulis begitu tertarik, berminat menulis seputar konflik JP. Simpel saja untuk membuat diri tidak menganggur seperti kata Goenawan Mohamad (GM) seperti dikutip dalam buku Wars Within karya Janet Steele. Ungkapan itu dilontarkan GM setelah dipecat dari Majalah Ekspres oleh pemiliknya BM Diah karena tulisannya menyinggung dualisme kepemimpinan PWI saat itu. Antara BM Diah yang didukung intelejen Ali Murtopo dan Rosihan Anwar pemilik Harian Pedoman yang terpilih secara demokratis dalam Kongres PWI.

Setelah jadi pengangguran beberapa saat, akhirnya, GM dkk berhasil membuat Majalah Tempo bekerja sama dengan sokongan dana konglomerat Ciputra. Soal alasan seriusnya, insya Allah nanti setelah buku jadi ha.ha..

Bahan buku Part II JP berintikan konflik GM dkk versus Dahlan Iskan setelah mereka pecah kongsi itu sebagaian besar sudah terkumpul. Puluhan bahkan ratusan nara sumber senior JP, pejabat aktif JP maupun raja kecil koran JP Group pemimpin sudah diwawancarai penulis. Tinggal konfirmasi pihak terkait. Hanya karena kesibukan kecil penulis di luar akhirnya penyelesaian terus tertunda.

Agar buku Part II JP independen, seobyektif, tidak masuk angin, tidak berat sebelah maka penulis menggarap sendirian. Mulai wawancara, menulis, , editing sampai pembiayaan cetak nantinya dilakukan mandiri tanpa melibatkan penyandang dana orang orang Jawa Pos, kubu Goenawan Mohamad maupun Dahlan Iskan dkk. Pokok e digarap sendirian. Selain tidak kuat membayar editor, ada pertimbangan khusus yang tidak bisa diungkap di sini. Buku ini juga menyangkut reputasi penulis yang berupaya mempertahankan sikap idealis sebagai wartawan sampai kapan pun.

Dalam melakukan pekerjaan penyusunan buku, penulis melakukan dengan gembira, lepas, tidak terbebani apalagi ada tekanan dari mana pun. Menulis dengan perasaan gembira seperti dipraktekan para maestro penulis awal Majalah Tempo berdiri. Hasilnya, karya sastra jurnalistik Tempo membuat pembaca takjub, enak dibaca. Kalau penulis tidak muluk muluk, yang penting informasinya sampai ke pembaca. Soal kekurangan pasti ada karena pembuatan buku JP Part II sebagai ajang pembelajaran penulis.

Haji Darat Hasil Kongkow Redaktur
Ide Haji Lewat Darat sendiri terlontar saat awak redaksi JP kongkow, ngobrol ringan saat dini hari usai deadline. Saat itu daftar tunggu haji atau waiting list untuk haji regular dari Kemenag cukup panjang. Masing masing daerah berbeda. Jatim sendiri saat itu mencapai 9 sampai 10 tahun. Sangat lama.

Adalah Agus Muttaqin (Agm) redaktur JP melontarkan gagasan perlunya JP memberangkatkan wartawan dengan ber-haji lewat jalur darat untuk menuliskan liku likunya. Ide brilian disambut para redaktur termasuk Pimred JP saat itu Leak Kustiya kini ganti Kustiyo. Ide, dikonkritkan ke rapat Kamisan berisi para kepala kompartemen JP. Ide Agm disetujui. Tulisan perjalanan Haji Nekat Lewat Jalur Darat setidaknya jadi oase bacaan calon haji yang harus menunggu bertahun-tahun.

Karena perjalanan haji darat tergolong berat, melintasi wilayah konflik Pakistan, negara di Timur Tengah lainnya dibutuhkan wartawan berpengalaman. Begitu Leak memberitahukan penulis mendapat tugas Haji Lewat Jalur Darat, tanpa ragu penulis langsung mengiyakan. ‘’Ini tugas menantang. Sudah lama tidak liputan beginian (berat),’’ batin penulis. Liputan model beginian seperti halnya liputan di medan konflik. Selain berat secara fisik juga sangat beresiko. Tapi, itu membuat ketagihan. Makin berat, makin beresiko kian memicu andrenalin. Itu seninya jadi wartawan yang suka meliput di wilayah konflik.

Harus diakui Leak Pimred JP saat itu paling semangat dalam persiapan. Sampai sampai membuat peta ASIA super besar. Dimana rute perjalanan haji darat dilakukan, lewat negara mana saja, kota mana saja dilalui. Semua tertera detail dalam grafis rute Haji Darat yang dipajang di foto di halaman depan JP. Meski akhirnya penulis tidak seluruhnya melewati rute yang direncanakan. Pertama, karena kesulitan mendapat visa Iran, ditambah mepetnya waktu maka rute dibelokan dari Pakistan ke Oman baru masuk Saudi Arabia. Semula dijadwalkan dari Pakistan ke Iran terus ke Turki disambung Syria lalu Turki, kemudian Yordania baru masuk Saudi Arabia.

Penulis juga ucapkan terima kasih kepada tiga fotogafer JP yang mengabadikan, mendampingi, menemani penulis selama perjalanan darat. Boy Slamet dari Surabaya ke Jakarta, Mohamad Ali dari Jakarta ke Bangkok, Thailand. Henda Eka atau Eca dari Bangkok sampai New Delhi India melintasi Laos, Vietnam, China, Tibet, Nepal baru masuk India.

Sayang Eca terhenti di India karena kesulitan mendapatkan visa Pakistan. Rekan di Jawa Pos secara guyonan memberi predikat Eca ‘Haji India’ ha..ha. Eca tak hanya mengabadikan perjalanan haji darat lewat kameranya, juga menjadi guide penulis. Bersama Eca, penulis bisa merasakan makanan super enak di restoran berbagai negara yang dilintasi. Suwun Eca, suwun Boy, suwun Ali.

Ucapan terima kasih juga penulis sampaikan untuk rekan JP Biro Jakarta wabilkhusus Mas Agus Wahyudi (AW) yang banyak membantu penulis selama melakukan liputan haji. Matur nuwun sanget Mas AW.

Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada Mas Azrul Ananda, mantan Dirut JP Koran yang saat itu menunjuk penulis sebagai pelaku haji darat. Selain dianggap penulisan diskripsi-nya kuat hingga diyakini mampu membawa pembaca JP berkelana lewat tulisan liku liku haji jalur darat.
Pertimbangan lain, penulis pernah masuk Kabul, Afghanistan saat negara itu diserbu Amerika 2001 pasca tragedi penyerangan WTC atau Menara Kembar New York, 11 September 2011 oleh Al-Qaidah pimpinan Osama bin Laden.

Liputan haji darat tergolong berat karena itu diperlukan wartawan berpengalaman dan teruji melintas di negara Timur Tengah syarat konflik. Penulis dianggap memenuhi itu. Suwun Mas Azrul.
Dahlan Jenius, Belokan Rute Haji Darat Lewat Timur

Ucapan terima kasih juga penulis sampaikan ke Bos Dahlan Iskan. Meski saat itu menjabat Dirut PLN lalu Menteri BUMN, Bos Dahlan tetap ikut cawe cawe saat penulis menthok di Myanmar.
Dis, bagi sebagaian wartawan JP kadang menjengkelkan karena kemauannya sulit ditebak. Ditambah perintah liputannya sulit-sulit. Tapi, itu yang membuat wartawan JP kuat, tangguh, matang dan tahan banting. Tapi, terkadang Dis jenius. Superjenius.

Itu terjadi saat perjalanan haji darat terhenti di Myanmar. Setelah dua hari, dua malam naik bus dari Yangon, ke Monywa selama 14 jam. Disambung naik bus sejenis bus Kopaja tanpa AC dari Monywa ke Kalay selama 21 jam nonstop.

Bodi bus banyak ditempeli isolasi karena karatan. Penumpang berjejalan ditambah barang bawaan sangat banyak. Belum lagi bus juga mengangkut barang kelontong, sayuran eneka bumbu masak bawang semacamnya.

Karena bagasi tidak muat, atap bus juga penuh maka bangku penumpang paling belakang dipreteli. Disulap jadi tempat menaruh bumbu tadi dicampur jadi satu di duduk penumpang. Anda bayangkan bagaimana baunya. Campur aduk nggak karuan. Ya, pengab karena tidak ber AC, ya bau brambang. Bahkan selama perjalanan belasan jam kaki tak bisa diselonjorkan saking sempitnya. Sangat tidak nyaman bikin pegal badan. Melelahkan.

Ini perjalanan paling berat karena melewati jalanan makadam yang rusak parah. Naik turun bukit, pegunungan melintasi sungai yang tidak ada jembatanya. Kepala kerap terantuk pada besi, kaca bus.
Dari Kalay masih nyambung lagi dengan semacam angkot pikap sejauh 100 kilometer menuju di Kota Tamu, masuk Propinsi Sangiang, timur Myanmar berbatasan dengan Provinsi Manipur, India. Saat tiba di Tamu hari mulai gelap.

Belakangan penulis baru tahu, Tamu kota terlarang bagi warga asing. Penulis berniat menginap di empat hotel. Empat-empatnya menolak karena penulis tak dibekali surat izin dari Mendagri Myanmar. Sebab, di perbatasan Myanmar-India ada pemberontakan suku lokal India di Manipur.

Penulis yang ditemani staf lokal Kedubes RI di Myanmar akhirnya ke imigrasi. Bukanya dibantu malah ditangkap dan diusir. Jam itu juga, malam itu juga penulis dikawal petugas imigrasi, dipaksa meninggalkan kota Tamu menuju kota Kalay, berjarak 100 kilometer naik ojek. Itu karena petugas imigrasi takut, kecolongan ada warga asing masuk Tamu. Agar tidak bermasalah, penulis cepat cepat dikeluarkan dari Tamu. Waduh… capeknya. Bokong sampai panas.

Selama tiga hari menunggu di kota Kalay, penulis wajib lapor imigrasi Kalay. Imigrasi setempat melarang penulis berpergian lebih 4 miles dari hotel. Penulis juga kontak Pimred JP Leak Kustiya melalui telepon umum di pinggir jalan. Sebab, HP tak bisa nyambung dan juga tidak ada sinyal. Penulis bilang andai tidak bisa masuk India lewat kota Tamu, apa solusi redaksi Surabaya. Leak hari itu belum bisa memutuskan.

Sementara staf Kedubes RI di Yangon membantu penulis memintakan izin Mendagri Myanmar melintas perbatasan menuju India angkat tangan. Akhirnya, Dubes Sumarsono menyarankan penulis balik ke Yangon.

Karena waktunya kian mepet, dan redaksi Surabaya belum juga memberikan solusi. Ditambah tidak ada kontak karena HP penulis meski pakai jaringan internasional tak bisa nyambung di Yangon. Akhirnya penulis putuskan terbang ke New Delhi. Sampai di India penulis berencana ke Provinsi Manipur di perbatasan India-Myanmar untuk ”menyambungkan’’ kota Tamu (Myanmar) dan Manipur (India).

Mendengar penulis terbang merupakan pantangan haji darat, Surabaya geger. Dahlan Iskan turun gunung. ”Kalau terbang, ngapain jauh-jauh. Dari Surabaya ke Makkah juga ada,’’ ujar Dis sewot dalam rapat segitiga antara Dis, Leak Kustiya (Pimred) dan Hendra Eka di rumah Dis, Sakura Regency. Hendra Eka atau Eca, fotografer JP, diikutkan rapat karena akan terbang ke Bangkok untuk menggantikan Mohamad Ali yang menemani penulis.

Eca dipilih karena pengalaman. Arek Suroboyo itu kerap bepergian ke mancanegara memanfaatkan tiket murah, penerbangan promosi. ”Ini juga perjalanan sulit Bos. Masak wartawan disuruh haji darat melintas belasan negara sambil mengurus visa di perjalanan. Ini tidak masuk akal,’’ kata Eca. Dis paham protes Eca..

Setelah membeber peta dunia, membuka google map dan mendiskusikan dengan Leak dan Eca, akhirnya Bos Dis meminta penulis balik lagi ke Bangkok. Perjalanan diulang alias di-restart dari Bangkok. Lalu diputar lewat timur. Meski Makkah arahnya ke barat, Dis meminta lewat timur atau arahnya berlawanan. Ini aneh dan tambah jauh. Yakni, dari Thailand ke Laos, Vietnam, China, menembus Himalaya Tibet, Nepal baru India. Akibatnya, jarak bertambah jauh karena harus memutar. Tapi Bos Dis menilai perjalanan ini ramah. Sekaligus menghindari Myanmar yang tertutup karena dikuasai junta militer.

Kata Dis, perjalanan ini juga mistis karena melewati perbatasan China-India yang mencakup Tibet membelah pegunungan Himalaya. Jarang orang umum lewat perbatasan ini.
Ternyata keputusan Dis sunguh brilian. Wilayah Laos, Vietnam, China, Tibet, dan Nepal tergolong ramah turis asing. Mengurus visa juga agak mudah sehingga mempercepat perjalanan. Kuncinya suatu wilayah atau negara ramah atau tidak adalah banyaknya turis asing ke negara itu. Ini yang saya maksud Bos Dis itu jenius.

Yang lebih jenius dari Dis, penulis tidak boleh pulang ke Indonesia sebelum masuk Makkah. Kalau tahun ini (2011) tidak bisa masuk Makkah, Bahari harus keliling dunia; entah mutar-mutar di Asia, Afrika, Eropa, atau mana saja. Baru tahun berikutnya (2012) saat musim haji masuk Makkah. JP pun mendukung total keperluan penulis selama haji darat. Jangankan nyewa mobil, beli mobil sekali pun kalau itu melancarkan haji jalan darat oleh Dis dipersilakan.

Kontan semangat saya bangkit lagi seperti pejuang 45. Padahal, sebelumnya drop karena terkungkung di Myanmar. Meski solusi yang diberikan Dis terlihat sepele, yakni tidak harus masuk Makkah tahun ini, kalau nggak nututi waktunya karena perjalanan harus memutar ke Timur. Tapi, bagi penulis itu ide sangat… sangat cemerlang. Idenya sangat jenius dan realistis hingga mampu membangkitkan semangat saya. Itu yang saya anggap Dis superjenius. Sebelumnya tak terbayangkan saya maupun redaksi JP Surabaya. Solusi itu hanya datang dari wartawan yang matang di lapangan, tak memperhitungkan dana, berani mengambil risiko. Yang penting tujuan tercapai. Dis benar-benar cerdas. Jangankan memutar setahun batin saya, lima tahun pun saya sanggup.

Perjalanan haji darat bagi penulis benar-benar menguras pikiran. Bahkan, sempat stres karena sulitnya mengurus visa di negara Islam. Sebaliknya, saya justru menikmati seberat apa pun medannya. Itu karena sejak kecil penulis suka hal baru, menikmati daerah baru dengan cara nggandhol truk. Kemana saja? Bali, Jokjakarta, Jakarta bahkan sampai Padang, Sumbar. Bahkan saat kuliah di Papua pernah ngandhol kapal dua kali ke Surabaya. Saat nggandhol kapal barang gagal, sampai Nabire. Saat nggandhol, menyusup kapal penumpang (KM) Umsini tahun 1987 lolos sampai Surabaya.

Haji darat ini jauh lebih berat, jauh lebih sulit daripada saat penulis ditugaskan masuk Kabul, Afghanistan 2001 saat Amerika dibantu Aliansi Utara baru merebut kota Kabul dari cengkeraman Taliban.

Saat itu dibutuhkan nyali besar masuk Kabul karena Afghanistan masih kacau balau. Tidak ada pemerintah sah. Afghanistan terpecah-pecah dikuasai banyak kelompok. Situasinya sangat berbahaya bagi orang asing yang masuk Afghanistan. Di Kabul dikuasai Amerika dan sekutunya. Di kota perbatasan sepanjang Pakistan mulai Jalalabad sampai Queta, Kandahar dikuasai kelompok Mujahidin yang sebenarnya sebagaian besar orang Taliban yang berganti baju Mujahidin.
Ini hanya siasat Taliban agar peralatan senjata berat seperti tank yang tidak bisa dibawa bergerilya di gunung-gunung tidak jatuh ke Amerika dan sekutunya. Tapi, tetap di tangan Taliban yang berganti baju Mujahidin. Sedangkan daerah pegunungan dan pinggiran masih dikuasai Taliban.
Meki kondisi berbahaya karena tidak ada pemerintah yang syah dan kuat. Tapi, begitu penulis mendapat pengawal pas. Bismilah. Berangkat.

Masuk perbatasan jalan kaki lewat jalan tikus di Pegunungan Wensei, perbatasan Pakistan, Tajiksitan dan Afghanistan disambung jalan darat beberapa hari sampai Kabul. Setelah itu balik ke Islamabad lewat jalan tikus lainya di perbatasan. Alhamdulilah selamat sampai Islamabad lagi.
Tapi, saat haji darat masalah terus muncul. Lagi-lagi visa, lagi-lagi visa. Apalagi, masuk negara lewat perbatasan darat, visanya rata-rata hanya 15 hari. Kalau masalah belum kelar visa habis, harus keluar dulu negara itu baru masuk lagi. Kalau di negara Islam harus mengurus perpanjangan. Kalau tidak, di-black list. Itu kian menyulitkan perjalanan haji darat selanjutnya.

Misalnya, penulis terjebak di Pakistan karena visa Iran tak kunjung didapat. Padahal, penulis sudah mengurus mulai di Kedubes Iran di Bangkok, Hanoi, New Delhi sampai Islamabad.
CEO Jawa Pos Dahlan Iskan saat itu baru menjabat Menteri BUMN setelah sebelumnya Dirut PLN, menelepon penulis saat ‘menthok’ di Pakistan. Penyebabnya, visa Iran sulit didapat karena harus aplikasi dulu. Penulis sambil jalan sebenarnya sudah mengurus visa Iran sejak di Bangkok, Hanoi tapi gagal.

Ketika mengurus di Kedubes Iran di New Delhi, India juga ditolak. ”Mengapa tak diurus di Jakarta,’’ kata petugas Kedubes Iran penuh selidik. Melintas antar negara lewat darat dianggap tidak normal. Karena itu penulis selalu dicurigai mata-mata dan kurir narkoba.
Tak heran, setiap melintas perbatasan bukan main ketatnya pemeriksaan. Semua barang digeledah tak kecuali celana dalam sekali pun. Semua barang bawaan diobrak abrik. Sebab, biasanya melintas antar negara lewat border darat umumnya kurir narkoba atau mata mata.

Meski sudah dijelaskan waktunya mepet, makanya mengurus visa sambil jalan. Tapi, staf kedubes tetap curiga. ‘‘Mengapa tidak pakai pesawat saja. Lewat perbatasan darat terlalu berbahaya,’’ kata staf kedubes asing tadi.

Itu sangat beralasan, selain di perbatasan rata rata terjadi sengketa kedua negara, juga rawan konflik sektarian Sunni-Syiah seperti di perbatasan Pakistan-Iran. Mereka saling bunuh, saling ngebom.
Apalagi, selama haji darat penulis tidak pernah mengaku wartawan. Bahkan, penulis harus mengganti status jurnalis di paspor dengan mengurus paspor baru. Sebab, status wartawan kian menyulitkan dalam perjalanan. Sebab, banyak negara mencurigai wartawan sebagai mata-mata, terutama di wilayah konflik. Mengaku apa saja, turis, pengusaha, peñata taman, pekerja konstruksi. Menyesuaikan negara dilintasi. Kalau di negara muslim penulis katakan sedang melakukan nazar haji darat.

Begitu juga saat penulis mengurus visa di Kedubes Iran di Islamabad, Pakistan, kian sulit. Harus mengajukan aplikasi dulu ke Teheran, Iran. Selain tidak ada kepastian dikabulkan, jawabannya bisa seminggu lebih. Entah dapat laporan apa soal penulis, atau mungkin geregetan penulis yang tak segera masuk Iran, tiba-tiba Bos Dis telepon. ”Kamu takut mati ya,’’ semprot Dis sengak (pedas, tidak enak) tanpa basa basi. Itu memang gaya Dis. Tembak langsung. Sebenarnya maksudnya baik, untuk membangkitkan semangat, tapi caranya tak biasa. Penulis sudah paham gaya Dis. ”Tidak Bos. Kalau takut mati, saya tidak akan berada di Pakistan,’’ kata saya. ”Lalu apa masalahnya,’’ cercanya.

”Kesulitan mengurus visa Iran. Harus mengajukan aplikasi ke Teheran dulu lewat Kedubes Iran. Itu belum jaminan dikabulkan, jawabannya juga lama,’’ kata penulis. Padahal, waktu masuk ke Makkah makin mepet, tinggal belasan hari.

”Oh, gitu ya… nanti biar dibantu Agus (orang PLN) kita ada kerjasama dengan Iran,’’ kata Dis.
Tak lama Agus pun telepon penulis. ”Sampeyan naik pesawat saja ke Teheran. Kan visa Iran bisa on arrival,’’ ujar Agus enteng. ”Lho, saya ini haji darat tidak boleh naik pesawat,’’ jelas penulis. Ganti Agus kebingungan. Setelah itu tak pernah kontak lagi. Mungkin Agus kurang paham haji darat.

Dis sebelumnya juga sempat ”protes’’ mengapa saya hanya sehari di Tibet. Sebab, banyak hal bisa ditulis di negeri atap dunia yang begitu eksotis itu. Penulis katakan visa masuk Pakistan tinggal beberapa hari. Kalau telat masuk, bisa hangus. Mengurus ulang belum tentu dapat. Itu akan membuyarkan rencana perjalanan darat. Apalagi jarak Tibet dengan Pakistan masih jauh. Harus menyeberang ke Nepal butuh dua hari. Lalu melintas India yang luas hingga ke Amritsar, Punjab, kota perbatasan India-Pakistan. Meski sedikit dongkol Bos Dis bisa memahami karena alasannya cukup logis. ”Sayang ya…,’’ gerutunya. Bos Dis meski berulang kali ke China, tapi belum pernah menginjakkan kaki di Tibet. Makanya, itu yang membuat Bos Dis penasaran.

Saat melintas negeri Panda, Tiongkok penulis merasakan betapa luasnya negeri tembok besar. Naik bus dari Hekou kota Tiongkok di dekat perbatasan Vietnam hingga Kunming, ibukota Yunan butuh waktu tempuh 15 jam.

Dari Yunan ke Chengdu ibukota Sichuan naik kereta api dengan kecepatan rata rata 200 kilometer per jam butuh waktu tempuh 22 jam. Dari Chengdu naik kereta api ke atap dunia Lhasa ibukota Tibet butuh waktu 44 jam atau hampir dua hari melewati bantalan kereta api tertinggi di dunia dengan melintas di atas ketinggian 5.000 meter diatas permukaan laut (dpl). Jarak Chengdu-Lhasa juga perjalanan paling lama asat haji darat. Dari Lhasa, Tibet menuju Zhangmu kota perbatasan Tiongkok dekat perbatasan Nepal, naik kendaraan perlu waktu sekitar 18 jam.

Selain terhambat masalah visa, penulis saat melintas di perbatasan Amritsar (India) dan Wagah (Pakistan) nyaris diperas sopir bajaj. Ceritanya, dari perbatasan Wagah penulis naik angkot ke Lahore, Punjab Pakistan. Begitu keluar kantor imigrasi Pakistan jalanan Wagah, kota perbatasan Pakistan tampak bajaj berjejer.

Setelah tawar menawar tercapai kesepakatan harga 700 rupee sampai kota Lahore, ibukota Punjab, Pakistan. Jaraknya sekitar 25 kilometer dari Wagah kota perbatasan Pakistan dekat India.
Saat bajaj mulai jalan satu orang ikut serta. Ia duduk di bangku belakang. Perasaan saya tidak enak. Saya merasa ada yang tidak beres. Benar saja, orang tadi mulai nerocos menanyakan tas kecil barang bawaan saya berisi kamera dan laptop. Saya langsung sigap.

Saya teringat pengalaman Agustinus Wibowo, petualang negara-negara berakhiran Tan (Afghanistan, Kirgistan, Tajikistan, dst) begitu menghadapi bahaya, hendak dirampok atau ditodong dalam mobil atau angkutan umum langsung membaca surah Al-Quran atau berdoa keras-keras, atau minimal didengar pelaku. Biasanya mereka akan mengurungkan niatnya.

Itu saya praktekan. Sambil waspada, saya baca surah-surah pendek dan dzikir tidak keras tapi cukup terdengar saja. Begitu orang tadi mengajak ngomong saya minta dia diam karena saya sedang dzikir.
Pertama manjur, dia pun diam. Tapi, lama lama dia tidak tahan. Dengan berbagai cara dia terus memancing ngobrol agar saya mau menjawab. Sesekali dia juga ngobrol sama temannya tadi.

Dia juga tanya apa isi tas. Tapi, tidak saya jawab. Dari, kaca spion sopir tampak dia terus memperhatikan saya dan barang bawaan. Duduk saya dan dia hanya dipisahkan tas besar saya berisi pakaian. Mbatin saya, kalau berniat merampas tas kecil ini akan saya lawan. Karena ini alat kerja saya paling berharga..

Namun dalam perjalanan rasanya bajaj begitu lama sampai di hotel. Mendekati hotel si calo tadi terus nerocos. Dia minta tambahan 200 rupee. Tapi, saya pura-pura tidak dengar. Ini pemerasan, batin saya.

Begitu sampai di Peart Continental (PC) Hotel, Lahore, Punjab, tas langsung saya amankan. Saya bayar 700 rupee seperti kesepakatan awal sama sopir. Tapi, orang tadi tadi turun dan marah-marah.

Dia minta tambahan 200 rupee lagi. Alasannya, letak hotel cukup jauh. Agar tidak ribut saya tambah 100 lagi. Tapi, dia minta ngotot terus, Akhirnya, saya panggilkan petugas keamanan hotel yang berjaga di luar. Sopir dan si calo tadi buru-buru kabur dengan bajajnya. Saya bersyukur terhindar aksi kejahatan.

Menuju Gwadar Ditangkap Dua Kali
Saat menuju pelabuhan Gwadar di Propinsi Balochistan, berjarak 700 kilometer dari Karachi, Pakistan, untuk menyeberang ke negara Oman penulis ditemani dua mahasiswa Indonesia di Pakistan. Abdul Kholik biasa disapa Alek fasih berbahasa Urdu kuliah di Karachi dan Akhmad Faruki mahasiswa di Islamabad.

Seperti diketahui Propinsi Balochistan berbatasan dengan Iran maupun Afghanistan merupakan daerah paling rawan di Pakistan. Kasus penculikan, perampokan, maupun pembunuhan warga negara asing kerap terjadi. Selain itu Balochistan daerah bergolak, karena sebagaian warganya memberontak menuntut pemisahan diri dari wilayah Pakistan.

Baru dua jam perjalanan dari Karachi, sopir menghentikan mobil di daerah Gadani untuk menambah angin. Saat itu, Faruki keluar mobil untuk merokok sambil menunggu tambah angin. Tahu ada orang asing, sebuah mobil Corolla yang melintas mendadak menghentikan lajunya.

Beberapa polisi menenteng senjata turun. Sopir mobil tadi belakangan diketahui inspektur polisi Gadani minta indentitas Faruki. Baik kartu mahasiswa maupun pasport.

Juga ditanya ini itu. Begitu tahu tujuan kami Gwadar, mereka langsung memeriksa seisi mobil. Paspor saya juga ditahan. Meski sudah dijelaskan tujuan kami ke Gwadar mencari kapal melintas ke Oman dalam perjalanan haji darat.

Tapi, justru polisi kian curiga. Mereka menilai kami masuk daerah yang salah, terlarang bagi orang asing dan sangat. Inspektur polisi tadi terus membolak balik paspor saya. Mereka makin curiga karena banyak cap visa dalam paspor. Mereka pun menahan paspor saya tanpa menghiraukan penjelasan sopir yang membawa kami.

Saya bersama Faruki dan sopir dikawal polisi bersenjata dibawa putar-putar mengikuti mobil polisi. Sedangkan Alek dibawa dalam mobil polisi yang lain. Kami sengaja dipisah untuk dikorek keterangan. Juga agar tidak kabur.

Pikiran saya was-was, cemas nggak karu-karuan. Bagaimana kalau paspor ditahan dan seterusnya. Selanjutnya, kami dibawa ke tempat sedikit jauh, sekitar satu kilometer dari kantor polisi. Kami berdua tidak boleh keluar mobil selama masa menunggu panggilan inspektur.

Baru sekitar pukul lima sore kami dibawa ke kantor polisi. Disana sedang berkumpul inspektur polisi Gadani dan sedikitnya tujuh anak buahnya. Mereka terus mencecar tujuan kami ke Gwadar.
Meski sudah dijelaskan berulang kali tujuanya hanya melintas ke Oman, tapi mereka tidak percaya.

‘’Kenapa haji tidak lewat udara. Selain berbahaya juga tidak masuk akal melakukan perjalanan darat berbulan-bulan. Dan, tentunya mahal,’’ katanya.

Polisi tadi umumnya tidak bisa bahasa Inggris. Sebagai gantinya mereka terus berbicara pakaia bahasa Urdu kepada Alek yang memang jago bahasa setempat itu. Meski sudah dirayu sama Alek, tapi polisi tadi bersikukuh terus memojokan kami.

Terutama saya yang akan melaksanakan haji darat. Katanya mata-mata lah, agen, kurir narkoba dan tuduhan miring lainnya. ‘’Apa pekerjaanmu,’’ tanya inspektur tadi pada saya. Agar tidak makin curiga saya jawab saja art worker atau pekerja seni. Dia tidak melanjutkan pertanyaan lagi.

Hari menjelang magrib. Tapi, yang dituduhkan berputar-putar saja. Bahkan saat kami minta pengawalan juga tidak dipenuhi alasannya daerah itu terlalu berbahaya. Jadi, tidak ada solusi. Hanya ngomong ngalor ngidul saja. Malam kian larut.

Sebagai gantinya inspektur yang kata bawahannya bernama Mehdi Bakti itu mulai menujukkan karakter aslinya. Yakni, minta 5 Lhak, atau sekitar Rp 50 juta karena satu lhaks sama dengan Rp 10 juta sebagai syarat boleh ke Gwadar. ‘’Saya bilang kepada Alek suruh saja dia merampok saya,’’ kata saya biar saya tulis besar besar di koran saya.

Setelah tidak ada tanggapan baru inspektur tadi menurunkan tawarannya menjadi satu lhaks atau sekitar Rp 10 juta. Tapi, itu pun tidak kami tanggapi.

Malam itu, kantor polisi suasananya gelap gulita karena listrik mati. Tapi, mereka makin gayeng berbicara. Kini, bukan visa saya dan paspor yang dibicarakan. Tapi, macam-macam. Mulai bisnis, politik bahkan sewa mobil. ‘’Jadi, sudah ngelantur,’’ ujar Alek.

Uniknya, meksi baru marah dan menginterogasi kami, tak lama kemudian suasana sudah cair. Mereka sudah tidak lagi membicarakan soal paspor atau Gwadar.
Bahkan inspektur tadi menawari minum cae, minuman khas Pakistan -India dan negara tetangganya. Yakni, teh hangat campur susu kerbau. Tidak ada kesan bahwa dia beberapa jam lalu marah, curiga atau punya niat buruk lainnya pada kami. Kini, suasananya berbalik. Bahkan dia juga minta tolong didoakan sesampainya di Kabah nanti. Oalah.

Karena tidak ada keputusan apa apa, malam itu akhirnya kami putuskan balik dan menginap ke Karachi kurang lebih 100 kilometer dari Gadani. Sebagai gantinya seorang polisi ikut bersama kami menumpang ke Karachi menengok keluarganya. Sebelum turun polisi tadi minta sangu sekedarnya.

Saya juga iba dan memberi uang secukupnya. Polisi sangat beterima kasih dan mendoakan saya agar bisa sampai Makkah. Dan, dia titip doa agar segera dipanggil Allah ke Makkah. Saya iya kan saja.
Giliran Ditangkap Imigrasi

Esok paginya perjalanan ke Gwadar, Propinsi Balochistan kami lanjutkan Sahid , 30 , sopir kami mengajak rekannya Abdul Somad 37, yang asli warga Balochistan ikut serta sebagai pengawal sekaligus sopir kedua. Abdul Somad berbadan kekar itu orangnya tidak banyak berbicara, pembawaannya tenang dengan sosot mata tajam. ‘’Saya banyak punya keluarga di Gwadar,’’ aku Abdul Somad. ‘’Jadi, jangan khawatir,’’ tambahnya.

Saya, Faruki dan Alek kali ini mengenakan baju kurta atau mirip baju sharwal gamez biasa dipakai orang Pakistan. Tujuannya, agar warga sepanjang jalan yang kami lewati mengira kami orang Pakistan.

Selain itu kaca mobil dilapisi kain kasa hitam agar kami di dalam mobil tak begitu kelihatan dari luar. Kami juga ekstra waspada tidak sembarangan keluar mobil apalagi kalau situasi tidak aman. Kami benar-benar belajar dari pengalaman kemarin. Ditangkap polisi hanya gara gara Ahmad Faruki, kebelet merokok dan keluar mobil. Tak lama lalu kami ditangkap polisi.

Karena berangkat pagi jalanan Karachi relatif lancar. Pagi itu tak banyak truk melintas. Namun sebagai umumnya jalan di Karachi, jalan menuju Gwadar yang berada di sekitar Karachi rusak berat. Truk-truk bermuatan penuh, bus banyak melintas di daerah ini.

Baru setelah keluar Gadani jalanan dua jalur seperti jalan high way layaknya menuju luar kota. Selain sepi kondisi jalan sangat bagus,rata dan mulus. Hingga mobil bisa dipacu hingga kecepatan 160 kilometer per jam. Sangat kencang. Suasana sekitar sangat sepi. Nyaris tidak ada rumah ratusan kilometer. Sepanjang perjalanan pemandangan didominasi gurun dan sesekali bukit gersang. Tidak ada perumahan warga akibat gersangnya kondisi tanah sekitarnya. Semuanya benar-benar kering dan panas. Padang gersang dan gurun apsir mendominasi.

Kalau pun ada rumah warga itu hanya satu dua saja di beberapa titik jalan. Itu pun jaraknya puluhan kilometer atau bahkan ratusan kilometer. Umumnya mereka menjual bahan bakar minyak eceran merangkap tambal ban. Selebihnya, berupa gurun pasir dan bukit batu.

Sepanjang jalan banyak chek point oleh tentara Pakistan, atau tempat pemeriksaan penumpang, kendaraan yang melintas. Biasanya di jalan dibentangkan tali atau tampar untuk mencegat kendaraan. Atau cukup distop saja.

Agar tentara atau polisi tidak sempat melongok ke dalam mobil, Abdul Somad biasanya secepatnya turun dari mobil menghampiri petugas di tempatnya atau jemput bola.
Dengan bahasa setempat Somad mengatakan, beragam alasan. Mulai penumpang dibawa perempuan sampai teman kampungnya. Di setiap chek point Somad juga mengisi semacam buku tamu. Begitu pun saat balik nanti.

Tapi, prosesnya sangat singkat hanya tak lebih satu menit. Tujuanya, agar polisi atau tentara tidak banyak tanya ini itu. Biasanya Somad berlaku sok akrab. Setelah mengucapkan salam dan peluk badan sebagai salam khas Pakistan lalu mengisi buku tamu dan cepat-cepat pergi.

Biasanya yang dipakai alasan pertama. Yakni, penumpang yang dibawa keluarga perempuannya yang mau pulang kampung. Apalagi, saya dan rekan mahasiswa yang duduk di belakang nyaris tidak terlihat dari luar. Selain kacanya agak hitam juga dilapisi kain kasa hitam.
Budaya Pakistan dan Afghanistan menatap perempuan yang bukan mahramnya sesuatu aib atau memalukan. Karena meski tentara atau polisi kalau dikatakan penumpang yang dibawanya perempuan biasanya langsung percaya. Atau tidak ditengok.

Ini menguntungkan bagi kelancaran perjalanan. Sebab, kalau sampai ditanya ini itu, kami khawatir urusannya bisa merembet kemana-mana. Apalagi, daerah Balochistan merupakan wilayah tertutup bagi warga asing dan memerlukan ijin khusus.

Menjelang sore hari sekitar pukul 16.00 kendaraan yang kami tumpangi mulai masuk kota Gwadar. Sedikitnya ada dua chek point. Setelah lolos kami lega. Sahid yang asli Lahore, Propinsi Punjab, sopir kami senangnya bukan main. Dia terus tertawa sambil ngomong ngalor ngidul nggak karuan. Sedangkan Abdul Somad tampak tenang-tenang saja melihat tingkah konyol rekannya Sahid itu.

Menurut Alek yang lama tinggal di Karachi, warga Balochistan sangat keras. Bahkan sampai kini mereka masih dendam pada pemerintah. Sebab, kepala suku bekas kerajaan di Balochistan saat jamannya Presiden Pakistan dipimpin Jendral Musharaf membunuh kepala suku mereka.
Makanya, orang Balochistan tidak begitu suka terhadap warga Punjab, asal Musharaf kalau mereka masuk wilayah Balochistan. Sahid adalah warga Punjab, Pakistan.
Seperti kota kecil lainnya, Gwadar juga tidak tertata apik. Banyak debu dengan deretan toko di kiri kanan jalan. Makin mendekati pelabuhan, kian padat toko dan pemukiman.

Ada beberapa deretan bank, pertokoan, warung sampai hotel kelas melati. Yang membuat saya heran banyak bus dari berbagai luar kota mulai Islamabad, Karachi, Lahore, Queta dan kota besar lainnya melayani rute ke kota ini. Itu terbukti dengan banyak jurusan bus seperti tertera dalam badan bus. ‘’Gwadar kota bisnis. Banyak pedagang luar kota datang ke sini. Semua barang dari Iran, Qatar, Uni Emirat Arab bisa masuk lewat pelabuhan ini. Makanya ramai,’’ kata Abdul Somad.

Abdul Somad wanti-wanti pada saya dan rekan mahasiswa agar tidak sekali pun keluar mobil. Semua akan diurusnya termasuk mencari hotel. Somad dan Sahid keluar hotel mencari informasi.
Tapi, semua hotel penuh. Saya menyarankan tinggal di rumah keluarga Somad saja. Tapi, Somad dengan halus menolaknya bahwa tamu atau orang luar tidak boleh menginap di rumah keluarga yang ada perempunnya. Itu adat dan aturan Pakistan yang harus dijaga.

Akhirnya, kami jalan menyusuri kampung dan kota Gwadar yang tidak beraturan. Jalannya sempat seperti masuk kampung. Bedanya dengan kampung di Indonesia yang menghadap jalan.
Rumah warga Pakistan maupun Gwadar umumnya tertutup pagar tembok tinggi hingga orang tidak bisa melihatnya dalamnya. Jadinya, jalan mirip menyusuri kampung dengan rumah tembok tinggi yang lokasinya tidak beraturan.

Selain mencari hotel juga mencari kantor imigrasi nantinya untuk meminta stempel paspor keluar Pakistan. ‘’Tenang saja. Kami urus semua. Pokoknya, semua harus legal. Kalau tidak, selain berbahaya juga membahayakan perjalanan Anda. Kami tidak mau terjadi apa-apa pada tamu kami (saya, Red),’’ ujar Somad.

Mobil juga diarahkan ke pelabuhan Gwadar. Banyak perahu nelayan dan kapal barang kecil berlabuh di dermaga itu. Sahid dan Somad juga mencari tahu kepada nelayan kemungkinan adanya kapal disewa. Tapi, nelayan yang ditanya bertanya balik dan ragu kalau membawa orang asing. Apalagi, yang ilegal. ‘’Mereka bisa berbahaya kalau membawa penumpang ilegal. Sebab, di tengah laut akan dicegat patroli tentara dan polisi laut Pakistan,’’ ujar Somad menirukan nelayan tadi.

Di pelabuhan Somad juga menanyakan keberadaan kantor imigrasi di kantor polisi laut setempat. Meski Gwadar sudah diobok-obok sampai pelabuhan tidak ditemukan kantor imigrasi.

Sebaliknya, setelah tanya kantor imigrasi itu lah mulai mendatangkan masalah. Belakangan kami tahu, rupanya saat menuju kota mencari hotel ada intel yang membuntuti mobil kami.
Saat masuk hotel, Somad menyuruh kami masuk cepat-cepat. Tujuannya, selain agar tidak mengundang perhatian warga sekitar, juga lebih aman. ‘’Cepat..cepat langsung naik ke kamar,’’ pinta Sahid. Sedangkan barang bawaan nanti akan dibawa Sahid.

Meski hanya hotel kelas Melati tetapi cukup bersih. Namanya Sahil Guest House yang berlokasi di Opposite Jama Makki Masjid, Airport Road, Gwader, Balochistan, Pakistan. ‘’Jangan keluar kamar hotel kalau tidak ada kami. Berbahaya,’’ pesan Abdul Somad.
Baru sepuluh menit leyeh-leyeh di kamar hotel melati yang kami tempati, mendadak dua orang masuk kamar diantar penjaga hotel. Mereka intel mengecek dokumen kami.

Setelah tanya ini itu, dan mencatat nama, nomor paspor, petugas tadi keluar hotel. Tapi, hanya berselang beberapa puluh menit datang lagi petugas intel.
Belakangan kami tahu namanya Akmad Zan, Kepala Imigrasi Gwadar. Orangnya masih muda, sekitar 35 tahun mengenakan pakaian sharwal games khas Pakistan. Dia datang pukul 20.00 malam.

Zan ditemani satu petugas yang sebelumnya ikut memeriksa kami. Orangnya sudah berumur lebih 50 tahun. Jenggotanya tampak memutih semua. Dari balik bajunya tersembul pistol.
Berbeda dengan petugas sebelumnya, Zan tampak pintar dan penuh selidik. Dia fasih berbahasa Inggris. Dia hanya berbasa basi sebentar lalu melakukan pemeriksaan menyeluruh sambil duduk di tempat tidur.

Karena saat itu saya sedang makan dan hanya mengenakan sarung, Zan memulai bertanya pada Alek atau Abdul Kholiq, mahasiswa Jamiah Binoria, Karachi, yang sudah belajar 5 tahun jurusan hadist. Alek yang hanya membawa sejenis kartu pelajar atau kartu mahasiswa menerangkan bahwa dirinya hanya mengantar saya ke Gwadar untuk menyeberang ke Oman.

Zan tak percaya begitu saja. Alek pun disuruh membaca beberapa ayat kursi Al-Quran sesuai jurusan yang ditekuni di salah ponpes di Karachi. Alek pun melafalkan keras-keras beberapa surat Al-Quran yang diminta Zan. Zan pun menyimak benar setiap lafalan Alek, seraya tersenyum kecut. ‘’Awak lupa ayat yang terakhir,’’ ujar Alek yang asal Medan itu cengingisan.
Zan juga mencerca mengapa tidak bawa paspor. Alek menyatakan, paspor ditahan di ponpes agar tidak hilang. Sebagai gantinya cukup dibekali kartu indentitas pelajar.

Tak percaya, Zan minta ditelponkan kepada kepala ponpes dimana Alek jadi salah muridnya. Alek pun menelpon gurunya. Setelah itu Zan ngobrol bersama guru Alek. Baru setelah itu, Zan sedikit percaya. Tapi, beberapa menit kemudian Zan kembali menelpon guru Alek untuk konfirmasi lagi.
Saat Zan mengiterogasi Alek, petugas yang satunya memeriksa semua barang bawaan kami. Semua barang dalam tas dikeluarkan. Semua foto, kartu pelajar, dokumen perjalanan, paspor dikeluarkan untuk diperiksa.

Bahkan celana dalam juga diacak-acak. Jadi lah seisi kamar kamar hotel berantakan. Tapi, petugas tadi tak peduli. Pokoknya, semua barang dikeluarkan. Baru setelah itu ia memilih barang yang mencurigakan dikumpulkan untuk diteliti Zan, atasanya.
Giliran saya diperiksa. Paling lama paspor yang banyak cap visanya dari berbagai negara. ‘’Kamboja, India’’ tanyanya. Ya, jawab saya. Zan terus meneliti paspor. Cukup lama sekitar 10 menit. Dia terus membolak balik paspor dan meneliti kelengkapan dokumen satu per satu.

Dalam hati saya merasa bersyukur, sebelum ke Karachi lebih dulu memperpanjang visa Pakistan yang habis 23 Oktober lalu. Kalau tidak banyak menimbulkan masalah baru.
Indentitas Wartawan Terbongkar, Pasport Ditahan
DENGAN cermat Kepala Imigrasi Gwadar Akhmad Zan meneliti visa Pakistan saya. Zan terus membaca berulang-ulang. Tapi, karena sudah lengkap dan legal Zan tidak menemukan celah mencari kekeliruan soal paspor dan visa.

Laptop saya berisi file berita selama melakukan perjalanan haji nekat lewat jalur darat dan kamera juga diperiksa. Zan juga bertanya ejaan nama saya sambil mencocokan dalam paspor. Berkali-kali saya eja tapi terus disuruh mengulang. Akhirnya, saya sedikit emosi. Zan terkejut..

Tapi, Alek menenangkan. ‘’Jangan emosi, kita nanti yang rugi,’’ ujar Alek. Zan juga menanyakan siapa-siapa saja orang yang ada di foto, termasuk lokasinya. Saya terangkan ini siapa, di Bangkok, Lhasa, India dan seterusnya sesuai gambar foto yang dibuka. Bahkan foto dokumen KTP saya yang tersimpan dalam foto untuk mengurus visa haji di Surabaya juga ditanya. Saya diminta mengeja nama saya yang dicocokan dengan nama di gambar tadi. Zan pun manggut-manggut.
Zan juga memeriksa isi laptop saya. Yang saya khawatirkan jika dia sampai menemukan kumpulan berita yang saya simpan dalam laptop.

Terus terang saya agak cemas karena selama ini tidak pernah mengaku wartawan. Sebab, itu akan mempersulit gerak saya masuk satu negara ke negara lainnya. Sebagai gantinya saya hanya mengaku turis, pekerja seni, pengusaha, kontraktor dan lainnya worker. Beruntung Zan tidak tahu bahwa dalam laptop tersimpan file berita selama perjalanan haji darat. Syukur kata saya dalam hati.
Zan juga mercerca saya mengapa kalau haji tidak lewat udara. Kalau lewat darat selain berbahaya juga biayanya mahal.Saya bilang ini untuk memenuhi nazar. Tapi, Zan sepertinya tidak percaya.

Namun dia tidak punya alasan meski tetap menaruh curiga tas penjelasan saya.
Semua kartu indentitas, disket, atau USB yang dibawa Akhmad Faruki yang sebenarnya milik rekannya yang juga mahasiswa di Islamabad tak luput dari pemeriksaan.

Ternyata dalam disket itu ada gambar atau bangunan difoto berulang-ulang di Abotabad, tempat Pemimin Al-Qaedah Osama bin Laden tewas. Itu sangat mencurigakan Zan.
Apalagi, dalam dikset itu juga ada gambar atau logo tv salah swasta Jakarta sedang melakukan peliputan ditemani mahasiswa pemilik disket tadi. Jadi lah Zan makin curiga.

Saking seriusnya memeriksa gambar tadi, Zan minta gambar tadi untuk minta tolong di-zoom atau dibesarkan. Dia tampak serius meneliti gambar itu. Cukup lama. Dia juga bertanya pada Faruki soal gambar itu.

Juga foto-foto Faruki dalam berbagai kegiatan akademik mahasiswa yang ikut tersimpan dalam disket. Baik di Islamabad maupun Lahore. Faruki pun menerangkan apa adanya soal foto yang sekiranya kenal atau temannya. Zan tampak memahami.

Tapi, kalau gambar itu bukan temannya karena pemilik disket sebenarnya kawannya dia mengaku tidak tahu karena memang tidak kenal. Semula petugas tidak percaya, tapi karena memang tidak kenal petugas hanya bisa curiga saja.

Zan juga meneliti kartu pelajar, foto-foto dan semua apa saja yang ada dalam dompet. Semua diteliti satu per satu. Tidak ada satu pun barang yang luput dari pemeriksaan.

Selama melakukan pemeriksaan kami dilarang ngomong bahasa Indonesia satu sama lain. Karena Zan tidak paham hingga kalau kami saling ngomong dia curiga. ‘’Stop’’ atau Zan mengisyaratkan tanganya di mulut. Pertanda kami bertiga dilarang bicara satu sama lain.
Bahkan saat telepon berdering di tengah interogasi atau menerima SMS pun Zan curiga. Dia melihat dulu siapa penelponnya. Kalau ada nomor yang mencurigakan Zan yang menjawab lebih dulu baru kemudian HP diberikan.

Puncaknya, saat anak buah Zan menemukan salah satu rekomendasi surat salah satu dubes Myanmar Sumarsono yang ditujukan kepada pemerintah Myanmar agar membantu saya melintas di perbatasan. Surat yang tersimpan itu menerangkan kalau saya wartawan. ‘’Kenapa harus berbohong,’’ tanya Zan sambil menujukkan surat itu kalau saya ini jurnalis. ‘’You profesional,’’ tanya Zan. Saya pun dengan rela minta maaf.

Saya ungkapkan mengapa tidak mencantumkan status reporter semata hanya memudahkan dan melancarkan perjalanan haji darat serta melampangkan mencari visa di luar Indonesia.
Kalau berstatus reporter pengajuan visa bisa sulit karena harus memenuhi beberapa persyaratan dan harus seijin berbagai instansi di negara yang bersangkutan. Mendagri, Menlu, Kepolisian , Kejaksaan, Imigrasi dan lainnya. Sangat ribet.
Itu memakan waktu cukup lama dan prosesnya berbelit. Untuk memudahkan pencarian visa biasanya status turis lebih mudah.

Selain itu liputan terbatas masalah religius yang berkaitan dengan haji. Misalnya, soal kemegahan masjid, kehidupan masyarakat Islam, budaya Islam dan hal yang berkaitan dengan Islam.

Tapi, Zan tetap dongkol karena merasa dibohongi sebab penulis sejak awal tidak berterus etrang mengaku sebagai wartawan. ‘’Enak saja minta maaf setelah berbelit belit,’’ kata Zan sengak. Ekspresinya wajahnya tidak enak dilihat bahkan melengos pada penulis.
Tapi, penulis tidak tahu harus berbuat apa selain minta maaf karena terpaksa berbohong untuk kelancaran perjalanan haji lewat jalur darat. Beruntung, belakangan sebelum mengghentikan interogasi yang melelahkan sampai dini hari itu tampaknya Zan memahami penjelasan saya meski raut kecewa tidak hilang karena penulis tidak berbicara terus terang sejak awal.

Malam itu, Zan menahan paspor saya dan kartu mahasiswa rekan saya. ‘’Kalian tidak boleh keluar hotel. Besok saya datang lagi ke sini,’’ kata Zan begitu saja meninggalkan kamar hotel yang baru diacak-acak.

Sepeningal Zan kami bertiga sibuk. Saya sendiri melaporlan kejadian itu langsung kepada Pimred Leak Kustiya. Sekedar jaga-jaga, jika terjadi hal yang tidak diinginkan. Sebab, apa yang terjadi esok kami tidak tahu. Ditahan, diinterogasi ulang, atau malah dideporatsi dari Pakistan. Kami semua tidak tahu.

Agar redaksi Surabaya tidak panik, saya jelaskan pada Pimred, bahwa secara mental saya siap menerima segala resikonya termasuk jika ditahan gara-gara masalah ini. Leak di ujung telpon tampak panik luar biasa. Ketakutan. ‘’Kok nggak sampeyan buang saja surat rekomendasi Pak Dubes, Mas,’’ kata Leak dengan suara tercekat. ‘’Saya nggak kepikiran Mas. Padahal surat rekomendasi saya sembunyikan di tas paling bawah. Tapi ketemu juga,’’ kata saya. ‘’Oh.. alla Mas. Terus yok opo iki (bagaimana ini)?’’ tanya Leak.

‘’Tenang mas. Nggak papa. Saya hanya melapor saja supaya sampeyan tahu kondisi di sini (Gwadar). Sampeyan nggak usah panik, saya siap lahir batin, apa pun yang terjadi besok tak kabari lagi,’’ kata saya menenangkan Leak. Sebagai wartawan apa pun yang dialami bisa ditulis. Makin berat kian seru kisahnya. Termasuk jika harus ditahan pun tulisannya makin greget.

Sebagai Pimred Jawa Pos saat itu, Leak orang kali pertama yang saya kabari terkait perjalanan haji darat. Termasuk jika ada masalah seperti di Gwadar tadi.
Sedangkan Faruki memberitahukan kejadian ini kepada teman dekatnya mahasiswa di Islamabad tapi tidak untuk disebarkan. Sedangkan Alek memberitahukan kasus ini pada rekanya di ponpes dan seorang rekannya di KJRI Karachi.

Malam itu kami sibuk berbenah, memasukan barang ke tas yang sudah diacak-acak Kepala Imigrasi Gwadar dan anak buahnya tadi.
Jum’at pagi (28/10/2011) sekitar pukul 09.30 Akhmad Zan bersama anak buahnya yang meng-interogasi semalam ikut datang sambil membawa segepok dokumen saya yang disita sebelumnya.
Kali ini muka Zan lebih cerah. Sambil mengucek-ucek matanya yang tampaknya masih menahan kanthuk, Zan mengeluarkan paspor dan kartu pelajar yang ditahan. Meski senang tapi, kami tidak boleh gembira dulu. Sebab, itu hanya pancingan.
Benar saja Zan kali melakukan interogasi lagi. Pertanyaannya juga diulang-ulang, mengapa tidak berterus terang, apa saja yang sudah ditulis selama perjalanan, dan apa rencananya setelah dari Gwadar.

Karena tahu saya reporter, Zan minta nama Pimred Jawa Pos diejakan untuk dicocokan dengan surat yang ditujukan kepada para dubes Dimana ada nama Leak Kustiya sebagai Pimred. Saya pun mengejanya, Zan mencocokan. Setelah tepat Zan tersenyum.

Intinya, kami bertiga diminta segera keluar dari Gwadar. Sebab, imigrasi tidak akan mengeluarkan ijin keluar Pakistan dari pelabuhan Gwadar. Dan perahu nelayan tidak berani mengangkut orang asing keluar dari Gwadar tanpa dokumen lengkap.’’Pelabuhan ini hanya untuk angkutan barang bukan orang,’’ kata Zan.

Belum lagi banyak masalah di tengah laut. Banyak perompakan, patroli banyak negara. Oman, Pakistan maupun Iran. ‘’Anda juga tidak tahu apa yang terjadi ditengah laut. Siapa yang tahu nasib Anda. Kalau dirampok, dibunuh,’’ ingat Zan. ‘’Kalau itu yang terjadi kita (pemerintah Pakistan) ikut repot,’’ jelasnya.

‘’Anda ini ke Gwarda nekat,’’ tutur Zan. Dia menceritakan jarak Karachi-Gwarda beratus ratus kilometer jauhnya. Sepi dan tidak ada rumah penduduk. Seandainya Anda dirampok atau dibunuh di tengah jalan siapa yang susah,’’ terangnya.

‘’Anda punya istri, punya anak?’’ tanyanya. Saya jawab iya. Punya istri dan tiga anak. ‘’Balochistan ini berbeda dengan daerah Pakistan lainnya. Ini daerah gawat apalagi untuk orang asing seperti Anda. Anda dibunuh dibuang ke tengah jalan tidak ada yang tahu. Kami pemerintah jadi repot nanti,’’ ingatnya.

Meski demikian saya juga minta tolong kepada Zan agar memberi cap keluar imigrasi Pakistan hingga bisa naik perahu atau menyewa untuk mengantar ke Oman.
‘’Tidak bisa. Ini terakhir kali saya ngomong. Perahu pun tidak ada yang mau disewa orang asing. Makanya, Anda harus keluar dari Gwarda secepatnya,’’ pintanya. Interogasi dua jam itu berakhir sekitar pukul 11.30

Untuk memastikannya, Zan minta saya menelpon Pimred Leak Kustiya untuk memberitahukan bahwa saya akan ke Karachi. Meski tidak bisa bahasa Indonesia Zan tampak paham. ‘’Waktunya lima menit untuk persiapan keluar hotel,’’ pinta Zan yang kali ini sedikit ramah.
Bahkan melihat kuku saya yang agak panjang Zan bertanya dan menyarankan untuk dipotong. ‘’Kalau kuku dipotong lebih sehat,’’ sarannya.

Kami pun cepat-cepat membereskan perlengkapan untuk bersiap meninggalkan hotel. Dikawal Zan dan tiga anak buahnya mobil beriringan keluar hotel menuju batas kota Gwarda. Satu petugas imigrasi ditempatkan di mobil yang saya tumpangi. Sedangkan Sahid, sopir saya pindah ke mobil Zan. Mungkin Sahid mendapat arahan, indoktrinasi dari Zan.
Sekitar 30 kilometer batas kota Gwarda menuju Karachi, mobil Zan berhenti. Dia turun dari mobil lalu mendatangi mobil kami. Saya dan dua rekan mahasiswa tetap dilarang turun dari mobil sebagai gantinya Zan yang menghampiri mobil kami.

Dia sekali lagi mengingatkan tetap komitmen ke Karachi lalu melajutkan perjalananke haji ke Arab lewat Oman. ‘’Yang penting hajinya tidak batal,’’ tuturnya seraya menyalami saya. Zan juga minta didoakan sesampainya di tanah suci agar bisa segera dipanggil juga ke tanah suci. ‘’Berdoa untuk saya di Mekkah,’’ pintanya sambil menengadahkan tangan ke atas. Zan kali ini juga ramah memberi tahu nama dan jabatan. Tapi, untuk nomor telepon dia masih merahasiakannya.
Siang itu, kami harus balik ke Karachi berjarak sekitar 700 kilometer dari Gwarda. Mobil oleh Abdul Somad dilarikan bak kesetanan, cukup kencang. Rata-rata 130, 140 bahkan 150 km kilometer per jam.

Sahid yang semula ceria dan banyak ngomong terlihat murung dan pendiam. Dia tampak ketakutan. Sejak dua hari bersama Sahid, saya amati sopir ini banyak ngomong. Tapi, nyalinya kecil kalau menghadapi masalah.

Bahkan sering ikut campur yang bukan urusannya. Bahkan begitu sampai Karachi mendadak tawa Sahid pecah. ‘’Sudah sampai Karachi, bukan Gwardar,’’ katanya semringah. Bahkan dia dengan bangga bercerita kepada teman-temanya di Karachi kalau baru saja dari tiba dari Gwardar.

Sebaliknya, Abdul Somad tetap fokus dan terlihat tegar. Meski di Gwardar maupun Karachi dia tetap tenang dan tidak banyak ngomong. Orangnya juga baik. Saya lebih respek pada Abdul Somad. Makanya, fee nya saya kasih lebih besar dari Sahid.

Esoknya karena sudah mengantongi visa Oman, penulis melanjutkan perjalanan seorang diri ke Muscat, Oman. Karena waktunya sudah mepet penulis bergabung dengan jamaah haji Oman menuju Jeddah. Alhamdulillah, berkat pertolongan Yang Kuasa penulis akhirnya bisa masuk Makkah beberapa jam sebelum Jeddah ditutup dari jamaah haji. Artinya, penulis tidak perlu keliling dunia untuk masuk Makkah tahun berikutnya. Syukur alhamdulilah, akhirnya Gusti Allah membukakan rumahnya bagi penulis.

Meliput di wilayah konflik membuat ketagihan karena memicu andrenalin. Semakin panas wilayah yang diliput kian memicu andrenalin. Penulis terobsesi meliput wilayah konflik seperti, Palestina, Syria atau wilayah d dunia bergolak lainnya.

Penulis ingin memotret, merasakan, mengabadikan, menulis bagaimana penderitaan rakyat Palestina tak menganal takut dan lelah terus berjuang penjajah Israel. Selain liputan Palestina bisa ditulis untuk media secara bersambung. Unjungnya liputan akan dibukukan. Hasil penjualan buku 100 persen disumbangkan ke rakyat Palestina. Kalau ada dermawan, donator yang mau mensponsori ke Palestina, penulis sangat siap. (Bahari).

Komentar

Berita Lainnya