oleh

Harga Pedas Setinggi Resiko Petani

Berhasil Puluhan Juta, Gagal Panen Gigit Jari

Kenaikan harga cabai merah sering kali tak seindah impian petani. Pasalnya, sering kali kenaikan harga cabai di pengaruhi faktor serangan hama. Berikut liputannya.

Zulkarnain, Muratara

Tanaman cabai merah sering kali dijuluki  si rajanya buah, rasanya pedas, dicari setiap hari masyarakat, bahkan tak banyak petani yang sanggup membudidayakan tanaman ini.

Alasannya, biaya perawatan yang tinggi, serta seringnya tanaman ini diserang hama buah dan jamur. imam Syafaat salah satu petani cabai merah di Rupit, yang sempat di bincangi mengungkapkan. Jika perawatan maksimal dilakukan terhadap tanaman cabai merah, hasilnya di prediksi bisa sampai 6-8 kali panen dalam satu kali tanam.

Namun jika satu kali terkena serangan hama. Panen cabai hanya tinggal impian, dan petani bisa gigit jari akibat panen gagal total. “Merawat cabai merah ini harus seperti merawat bayi. Mulai dari masa tanam sampai musim panen, tidak bisa sembarangan. Untuk perawatan maksimal kita tidak gunakan pupuk biasa, kita pakai probiotik, kadang kadang susu juga kita semprotkan ke tanaman supaya hasilnya bagus,” ceritanya.

Dalam satu kali masa tanam, petani biasa menghabiskan modal awal Rp8-12 juta/setengah hektar dan belum termasuk biaya perawatan selama proses hingga panen. Dalam setengah hektar lahan bisa di tanami sekitar 3000 batang, satu batang maksimal menghasilkan 8 Kg cabai segar. “Lahan setengah hektar itu biasanya bisa dapat 25 kuintal, tapi gara gara hama sekarang cuma bisa dapat 15 kuintal, susutnya jauh,” katanya.

Imam Syafaat juga mengungkapkan, jika kondisi panen buah stabil, dengan tanaman yang tidak terserang hama dan harga tinggi. Satu kali musim panen, petani bisa mendapat untung berlipat. Saat ini harga cabai tembus Rp60 ribu/Kg dipasaran, dan di tingkat petani harga cabai di hargai Rp35-40 ribu/Kg.

“Kalau panennya normal petani cabai itu bisa dapat Rp80 juta sekali panen/setengah hektar, kalau harga tinggi seperti sekarang. Bayangkan saja, panen bisa sampai 6-8 kali dalam satu kali tanam. Tapi kalau sudah terkena hama, jangankan batang, akar tanaman juga harus ikut di cabut dan di bakar supaya tidak nular,” bebernya.

Dia mengaku, serangan hama sering kali menjadi hantu yang menakutkan bagi para petani. Hama lalat buah, jamur dan lainnya, serangan hama itu bisa saja di tangkal dengan penggunaan pestisida, namun kondisi itu sangat sulit diterapkan petani karena harga pestisida  sendiri cukup mahal.

“Harga pestisida khusus cabai itu mahal mas, dari Rp110 ribu/ 500 ml sampai harga Rp270 / 300 ml untuk pestisida yang paten. Sekali semprot tiga ratus ribu, kalau satu minggu sudah berapa biayannya,” ungkapnya.

Dia juga mengatakan untuk penggunaan pestisida juga tergantung dengan fungsi dan sasarannya. Dia mengaku sampai sejauh ini, makanya tidak terlalu banyak petani yang membudidayakan tanaman cabai, khususnya di wilayah Kabupatrn Muratara.

Karena tanaman ini terbilang gampang gampang susah. Karena minim informasi Dia mengaku, untuk mengatasi masalah hama dan lainnya. Sering kali melakukan komunikasi chat melalui grub khusus petani cabai di media sosial.

Sehingga bisa saling bertukar informasi, mengenai kondisi pertanian di masing masing wilayah. “karena petaninya di sini sedikit jadi susah bertukar informasi. Saya sering gabung chat dengan petani lain di media sosial, suapaya bisa dapat berbagi informasi dan trik seputar tanaman cabai merah,” tutupnya.(*)

Komentar

Berita Lainnya