oleh

Hari Ini, Batas Akhir Banding ‘Vonis Mati’

-Headline-780 views

Hari ini, Kamis (14/2), batas waktu terakhir pengajuan banding sembilan terpidana mati kasus narkoba, Letto Cs.

Kuasa untuk banding diberikan pada Wanidah SH, penasehat hukum para terpidana itu dari Pos Bantuan Hukum (Posbakum) Sejahtera.

Kabarnya, hanya tujuh kawanan Letto Cs yang menandatangani surat kuasa banding. “Yang tidak kita pegang itu Shabda dan Ony,” sebut Wanida.

“Kondisi sudah pasrah. Mereka bilang lebih baik mati sekarang. Psikis tertekan. Tapi kami selalu berusaha menguatkan mereka agar tidak berputus asa,” ungkap Wanidah lagi.

Menurutnya, dia dan tim berusaha menyemangati para napi itu agar terbebas dari hukuman mati yang dijatuhkan majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Palembang.

Termasuk berusaha meminta pengampunan (grasi) kepada presiden. “Ini semua cobaan. Ya mudah-mudahan ada pertimbangan karena itu kami akan buat memori banding sebaik mungkin, insya Allah,” ucapnya.

Berkat motivasi itu, akhirnya para terpidana mati bersedia banding. Wanidah telah mendaftarkan banding dan hari ini rencananya akan mengajukan akta banding sembari menunggu keluarnya salinan vonis dari PN Palembang.

“Kamis hari terakhir untuk mengajukan banding,” katanya.

Alasan banding, Letto Cs menilai hukuman mati yang dijatuhkan kepada mereka sangat tidak adil.

Apalagi tidak semua terlibat. Seperti Faiz yang tidak tahu menahu karena saat ditangkap dia hanya duduk dengan istri Letto.

“Kami sangat mendukung pemerintah untuk memberantas narkotika. Tapi ada hal dan peran-peran yang harus digali sehingga rasa keadilan terpenuhi. Harusnya ada beberapa orang saja yang menjadi otak kasus ini yang dihukum berat” cetus Wanidah.

Terkait bukti baru (novum), pihaknya belum mendapatkan itu. Tapi akan dicari sebelum hari terakhir pengajuan banding.

“Otak kasus ini kan Bang Kumis, barang itu milik mereka. Sampai sekarang kan masih DPO,” bebernya.

Diungkap Wanidah, kliennya memang dipindahkan ke tiga Lapas. “Mereka sangat sedih dan down. Ingin ditempatkan dalam satu sel yang sama. Mungkin pengadilan punya pertimbangan berbeda sehingga mereka ditempatkan berbeda,” sebutnya.

Wanidah menambahkan, kesembilan kliennya minta vonis mati mereka tidak diceritakan kepada keluarga masing-masing.

“Kata mereka, takut keluarga sedih dan kepikiran. Informasinya, orang tua Frandika di Surabaya sampai masuk rumah sakit setelah dengar berita ini,” ujarnya.

Selama proses persidangan, memang tidak ada keluarga yang mendampingi sembilan kliennya itu. Ada orang tua Ony ke Palembang, tapi tidak bertemu.

Kemudian istri Andik juga datang. “Istri Andik masih ada di Palembang dan dia indekos,” tutur Wanidah. (yun/vis/kms)

Komentar

Berita Lainnya