oleh

Hasil Visum Perkosaan Kakak Beradik di Luwu Timur Berbeda?

JAKARTA – Komisioner KPAI Retno Listyarti menyoroti perbedaan hasil visum kasus dugaan perkosaan kakak beradik di Luwu Timur, Sulawesi Selatan.

Pasalnya, hasil visum yang dipegang ibu kakak beradik itu dengan hasil visum oleh polisi berbeda.

Karena itu, Retno mendesak agar kasus dugaan perkosaan kakak beradik tersebut tidak lagi ditangani Polres Luwu Timur agar tidak ada fitnah dan saling serang.

“Sebaiknya ditangani Polda Sulsel atau Mabes Polri,” ujar Retno dalam keterangannya, Minggu (10/10/2021).

Retno juga meminta pemeriksaan psikologis secara independen terhadap kakak beradik itu.

Itu diperlukan agar ada data pembanding temuan Polres Luwu Timur dan P2TP2A Luwu Timur.

Hal ini dilakukan, jelas Retno, untuk menghindari adanya konflik kepentingan.

“Proses harus transparan dan diawasi juga oleh Kompolnas,” tegasnya.

Diakui Retno, hasil pemeriksaan fisik memang akan dipengaruhi dengan waktu.

Akan tetapi, yang sulit untuk hilang adalah, trauma korban yang pasti membekas.

Bila hasil yang didapat Polres dan P2TP2A Luwu Timur dan pemeriksaan independen sama, maka kasus bisa ditutup.

Tapi jika hasil visum berbeda, maka kasus seharusnya tetap diproses sampai pengadilan.

Menurutnya, hal ini penting untuk dilakukan agar korban kekerasan tidak lagi ‘dikorbankan’.

“Dan pelaku mendapatkan hukuman setimpal sesuai peraturan perundangan terkait anak,” pungkasnya.

Ibu Kakak Beradik Didatangi Kapolres

Sementara, Karo Penmas Divisi Humas Mabes Polri Brigjen Rusdi Hartono menyebut, Kapolres Luwu Timur AKBP Silvester Simamora sudah menemui ibu tiga kakak beradik itu.

Dalam pertemuan itu, Kapolres Luwu Timur menjelaskan proses hukum terkait kasus dugaan pemerkosaan kakak beradik tersebut.

“Kapolres Luwu Timur AKBP Silvester Simamora telah mengambil langkah bersilaturahmi ke rumah korban, bertemu dengan ibu korban menjelaskan tentang langkah-langkah yang telah dilakukan,” ungkap Rusdi, Minggu (10/10/2021).

Lewat pertemuan itu, klaim Rusdi, RS telah memahami alasan penyidik menghentikan penyelidikan kasus tersebut.

“Ibu korban memahami tentang langkah-langkah tersebut. Komunikasi ini juga dapat berjalan dengan baik,” klaim Rusdi.

Jenderal Polri bintang satu ini juga mengsinyalkan kasus tersebut bisa dibuka kembali jika ada bukti baru.

Rusdi juga menyebut, LBH Makassar rencananya juga akan memberikan bukti baru tersebut.

“Polri akan menunggu dan ketika nanti dapat bukti baru tersebut, Polri akan mendalami,” tuturnya. (ruh/pojoksatu)

Komentar

Berita Lainnya