oleh

Herman Deru Tak Ingin Bank Wakaf Cuma Jadi Wacana di Sumsel

Lima Ponpes Jadi Pilot Project

SUMEKS.CO – Tak ingin menjadi wacana berkepanjangan, Gubernur Sumsel Herman Deru, dengan tegas meminta pihak terkait segera meluncurkan Bank Wakaf Mikro (BWM) di Sumsel. Hal itu disampaikannya saat menghadiri rapat rencana pendirian BWM melalui pondok pesantren di Ruang Rapat Gubernur, Rabu (22/1).

“Kalau bisa saya ingin awal Februari sudah launching. Biar program ini segera berjalan dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat dan pelaku usaha kecil. Ini bentuk perhatian kita pada mereka juga,” ucap HD.

HD sedikit bercerita dulu semasa menjadi Bupati, Ia pernah menjalankan program serupa bahkan dana yang dikelola mencapai Rp1 miliar. Sayangnya, kata HD, saat itu kemampuan analisis pegawainya belum mumpuni sehingga terjadi NPL yang cukup tinggi.

“Makanya nanti petugasnya harus profesional. Jangan mudah gak tega, karena kredit macet bisa tinggi. Bila perlu nanti petugasnya dilatih secara khusus lebih dulu. Serta pemilihan segmennya juga harus jelas,” ucap HD.

Lebih jauh, HD mengatakan, pembentukan BWM ini bukan hanya mengakselerasi UKM tapi juga perwujudan kepedulian dari instansi terkait yang punya kemampuan untuk berbuat. Karena itu pula Ia meminta jangan berorientasi profit.

“Saya minta syaratnya nanti tidak berat. Dan untuk tahap awal ini lima pesantren bisa dijadikan model dulu,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala OJK Regional VII Sumbagsel, Panca Hadi Suyatno mengatakan, bahwa maksud dari program BWM ini adalah untuk memberdayakan masyarakat di sekitar lingkungan pesantren melalui pendirian lembaga keuangan mikro yang berbasis syariah (LKM syariah/ BWM dengan pola pendampingan.

“Tujuan utamanya memaksimalkan peran pesantren dalam program pemberdayaan masyarakat miskin produktif. Kemudian untuk membangun dan mengukuhkan kelembagaan sosial ekonomi dari pesantren bagi lingkungan sekitar pesantren dalam bentuk LKM syariah yang profesional, akuntabel dan mandiri melalui penumbuhan Kelompok Usaha Masyarakat Sekitar Pesantren Indonesia (Kumpi),” jelasnya.

Adapun skema sumber pendanaan bersumber dari donatur LAZNAS BSM umat yang merupakan hibah bertujuan khusus (muqqayadah) yang dikhususkan untuk kelembagaan dan operasional LKMS-BWM.

Menurut Panca agar modal bisnis BWM ini sustain dan dapat menjangkau swkitar 2000 nasabah di wilayah sekitar pesantren idelnya diperlukan modal Rp8 miliar. Untuk tahap awal setiap BWM membutuhkan modal sebesar Rp4,25 miliar.(ety)

Komentar

Berita Lainnya