oleh

Hewan Buas Mengintai Stop Pendakian

-Sumsel-163 views

PAGARALAM – Status Gunung Api Dempo memang masih aktif normal meski berpotensi mengeluarkan letusan freaktik alias tiba-tiba bias meletus. Meskipun begitu, pendakian ke puncak Gunung Dempo mesti distop dulu sebab masih membayakan keselamatan manusia.

“Saya pribadi meminta supaya pendakian di stop dulu,”ujar Megian Nugraha, Kepala Pos Pantau Gunung Api Dempo, ketika ditemui, kemarin.

Namun Megi mengaku bingung lantaran di Pagaralam belum ada kejelasan pihak mana yang berwenang untuk mengatur bukak dan tutupnya jalur pendakian Gunung Api Dempo. Maka, himbauan yang tepat

Suwardi, seorang spiritualis di Dusun Pagar Jaya Kelurahan Nendagung Kecamatan Pagaralam Selatan juga sepakat bila jalur pendakian Gunung Dempo ditutup sementara. Ia bilang, penutupan ini akan mengurangi potensi korban.

Observasi Area Jelajah Harimau  

Pasca adanya korban warga diterkam harimau, pihak Balai Konsevasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Lahat melakukan observasi ke sejumlah lokasi, melakukan patroli karena sudah membuat warga yang hendak melakukan aktifitas berkebun menjadi cemas.

“Sudah empat hari lalu kita melakukan observasi dengan patroli kesejumlah lokasi. Diantaranya di Talang Tinggi Muara Payang dan Pulau Panas, Tanjung Sakti, juga di kawasan Gunung Dempo,” ujar Feldy, Kepala Resort Gumay – Muara Payang, BKSDA Lahat, kemarin.

Mengantisipasi agar tidak terjadi hal-hal tak diinginkan, pihaknya mengimbau masyarakat untuk sementara waktu mengurangi aktifitas berkebun atau melakukan perjalanan ke hutan. Mengenai tindakan dilumpuhkan dengan dibius jika ditemukan satwa buas yang dilindungi ini, lanjut Feldy, dirinya belum bisa berkomentar panjang lebar. “Yang jelas kita masih menunggu perintah lebih lanjut dari pihak Balai,” katanya.

Feldy juga mengaku, hingga saat ini belum bisa bisa dipastikan populasinya masih cukup banyak atau cukup dengan hitungan jari. “Belum diketahui berapa banyak populasi harimau ini yang sebarannya di wilayah Lahat-Empat Lawang hingga Pagaralam,”jawabnya.

Makanan tak Tersedia Akibat Karhutla   

Harimau yang belakangan menerkam warga, mungkin akibat habitat tempat tinggalnya terganggu. Salahsatunya, tidak tersedianya lagi sumber makanan akibat kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) belakangan terjadi.

“Mungkin saja hutan habitat tempat tinggal harimau ternggangu. Contohnya, pembukaan lahan atau hutan dengan cara dibakar,” ungkap Kepala KPH X Dempo, Ardiansyah Fitri AP Msi melalui Kasi Rahabilitasi Hutan Lindung, Lonedi Shut.

Kondisi kerusakan habitat hutan inilah salahsatu pemicu harimau pindah ke lokasi yang masih ada hutannya. “Oleh karenanya, kepada masyarakat juga diimbau untuk tidak merusak ekosistem alam dengan cara membakar hutan. Agar tetap terjaga keseimbangan alam dan mahluk, baik itu satwa liar yang pada akhirnya berdampak buruk bagi manusia,” pungkasnya.
Dampak Kemarau, Minta Pendapat Tetua

WALIKOTA Pagaralam Alpian SH meminta masyarakat untuk bijak untuk menanggapi penyebab munculnya harimau. Alpian berpandangan, munculnya harimau akhir-akhir ini lantaran faktor kemarau. Cuaca ekstrim membuat membuat makanan dan air bagi harimau menjadi berkurang. “Menurut saya ekosistem di sana masih bagus,”ujar Alpian, ketika dihubungi wartawan.

Alpian pun sudah mendengar  tentang pelbagai spekulasi yang menyebutkan bahwa faktor kemunculan harimau akibat anaknya dibunuh. Juga pelbagai spekulasi yang beredar di luar masyarakat. Alpian meyakinkan, bahwa spekulasi-spekulasi ini bohong semua. “Info macam-macam udah saya klarifikasi,”ujarnya.

Mengantisipasi terulangnya kejadian penyerangan harimau menyerang manusia, Alpian menyatakan, sudah meminta BKSDA Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup supaya melakukan pengecekan ke lapangan. Tujuannya untuk memastikan apa yang sebenarnya sedang terjadi.

“Karena mereka (BKSDA) yang paham,”ujarnya. Selain itu, Alpian menambahkan, “Akan meminta pendapat tetua adat. Alim ulama, tokoh masyarakat tentang langkah-langkah apa yang bisa kita lakukan,”. (ald)

Komentar

Berita Lainnya