oleh

Hujan Buatan, Cuma Gerimis 2 Menit di Muratara

-Sumsel-95 views

MURATARA – Sejak 23 September‎ 2019 lalu, Wilayah Kabupaten Muratara, sampai saat ini belum lagi di guyur hujan deras. Rabu (16/10) hujan gerimis sempat ‎terjadi di wilayah ini, namun hanya curah hujan hanya berdurasi 2 menit.

Ahmad rifaat warga Desa Noman Baru, Kecamatan Rupit, Kabupaten Muratara mengatakan, sudah dua bulan terakhir wilayah Kabupaten Muratara alami krisis air bersih. Banyak warga mendambakan hujan deras yang mengguyur bumi beselang serundingan.

“Di tempat lain seperti di Muba sudah ada yang kebanjiran karena hujan deras. Di wilayah kita belum ada hujan, baru hanya gerimis saja itu juga durasinya sebentar,” katanya, Kemarin (17/10).

Dia mengaku, sampai saat ini warga di sekitar Desa Noman Baru hanya mengandalkan aliran sungai sebagai sumber air bersih utama. Pasalnya, sejumlah sumber air bersih lainnya, seperti sumur tanah, waduk dan lainnya sudah mengering. “Tahun ini keringnya luar biasa, meski di 2017 sempat kemarau panjang tapi dulu sumur masih ada airnya. Kalau sekarang jangankan sumur waduk saja juga ikut kering,” bebernya.

Warga mengaku tidak dapat berupaya banyak, lantaran kondisi ini berkaitan dengan faktor alam. Dan berharap musim kemarau segera berlalu. Terpisah, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBd) Muratara, Syarmidi sebelumnya mengungkapkan. Puncak kemarau di prediksi akan berakhir hingga akhir September mendatang.

Pihaknya mendapat informasi dari BMKG Sumsel, jika puncak penghujang akan terjadi di pertengahan Febuari sedangkan peralihan musim kemarau-musim penghujan terjadi keterlambatan. “Hujan yang ada sekarang ikut dampak dari hujan buatan, jadi memang itensitasnya sedikit. Kami dapat informasi masuk musim penghujan nanti sekitar september, karena puncak musim penghujan sekitar Febuari,” bebernya.

Terpisah, Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Pertanahan Muratara, Zulkifli mengungkapkan. Kekeringan yang terjadi di wilayah Muratara, tentunya akan berdampak ke lingkungan. Dia mengatakan, krisis air bersih yang terjadi di wilayah ini diakibatkan beragam faktor. Seperti berkurangnya sumber resapan air, maraknya aksi illegal loging di hulu sungai, dan terakhir menjamurnya perkebunan kelapa sawit.

“Kita sudah lakukan rapat koordinasi sebelumnya, untuk membahas masalah dampak lingkungan ini. Ke depan kita rencanakan lakukan penghijauan, jarak 100 meter dari aliran sungai tidak boleh ada kebun kelapa sawit, dan meminta instansi terkait seperti Polisi hutan monitoring TNKS,” tegasnya.

Dengan adanya penghijauan dan penghapusan perkebunan sawit dengan jarak 100 meter dari aliran sungai. Diharapkan sumber resapan air semakin meningkat. “Kalau dibiarkan alam rusak begitu saja, tentunya akan berdampak ke lingkungan. Setelah musim kering kita hadapi musim kebanjiran, tanah longsor dan sebagainya,”ucap Zulkifli.(cj13)

Komentar

Berita Lainnya