oleh

Hujan Es Disertai Angin Kencang Terpa Aceh Tengah

Peristiwa hujan es yang berbentuk kristal kecil disertai angin kencang telah menerpa rumah warga di dua kampung (desa), yakni Ujung Gele, dan Pepalang di Kecamatan Pegasing, Aceh Tengah, Selasa (27/3) pukul 15.00 WIB

“Akibat dari dua peristiwa yang terjadi secara bersamaan, delapan rumah rusak karena terpaan angin kencang,” ucap Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA), Teuku Ahmad Dadek di Banda Aceh, Rabu.

Ia mengatakan, kedelapan unit rumah milik masyarakat tersebut rusak akibat ditimpa pohon tumbang, dan bagian atas atau atap rumah terbang ke udara akibat ditiup angin kencang disertai hujan batu es.

Terdapat enam unit rumah di antaranya di Desa Pepalang ditempati pasangan suami/isteri Hasbi (67), lalu keluarga Sukri (36), keluarga Ismail (49), keluarga Irwansyah (56), pasangan suami/isteri Ardi (60), dan Lina (26).

Sedangkan sisanya dua unit rumah lagi di Desa Ujung Gele yang ditempati keluarga Sulawesi (46) serta dua orang anaknya, dan keluarga Ika (34) beserta isteri dan buah hatinya.

Tim reaksi cepat Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Tengah mendapatkan informasi dari masyarakat setempat, langsung menuju lokasi akibat peristiwa fenomena alam cukup jarang terjadi di provinsi paling Barat Indonesia ini.

“BPBD setempat turun ke lokasi sekaligus untuk melakukan pendataan kerusakan rumah warga, dan membantu membersihkan puing-puing atap rumah, seperti atap seng yang terbawa angin kencang,” katanya.

“Alhamdulilah, tidak ada korban jiwa maupun mengungsi hingga malam tadi,” kata Dadek.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Aceh sebelumnya menyebut, hujan es disertai angin kencang yang cenderung puting beliung merupakan hal biasa karena salah satu fenomena hidrometeorologi.

“Itu, fenomena hidrometeorologi biasa. Bukan hal yang aneh, apalagi disangkut-pautkan dengan mistis.Terjadinya hujan es, tidak terlepas dari awan Cumulonimbus,” kata Kepada Seksi Data dan Informasi BMKG Stasiun Meteorologi Kelas I Aceh, Zakaria Ahmad.

Ia mengatakan, hujan berbentuk kristal-kristal berukuran kecil atau batu es kecil terjadi akibat terpenuhi beberapa syarat, ketika uap air turun menjadi hujan ketika masih berada di lapisan atmosfer.

Syarat utama, yakni hujan tumbuh di dalam awan Comulonimbus, lalu memiliki dasar awan sangat rendah, dan terakhir bila di bawah permukaan awan, maka memiliki suhu sangat dingin.

“Bila tiga syarat tersebut sudah terpenuhi, maka besar kemungkinan akan turun hujan berbentuk butiran es,” katanya.

(Ant/Fin)

Komentar

Berita Lainnya