oleh

Hutan Adat Tetap Lestari, Jangan Sampai Rusak !

-Sumsel-69 views

PAGARALAM  – Pagaralam miliki hutan adat, berlokasi di Dusun Tebat Benawa, Kecamatan Dempo Selatan. Agar tetap lestari dan terjaga ekosistemnya, perlu adanya perhatian bersama dengan pemangku kepentingan. Untuk menselaraskan sekaligus sebagai bentuk komitmen bersama, digelar lokakarya Pengembangan Rencana Pengelolaan Hutan Adat Tebat Benawa, di Aula Gunung Resort Villa Hotel, kemarin.

Sekaligus digelar focus group discution (FGD) bersama para pemangku kepentingan. Dalam hal ini, melibatkan tetua adat serta tokoh masyarakat serta warga Dusun Tebat Benawa dan Rempasai serta instansi terkait, diantaranya KPH Wilayah X Dempo, Dinas PUPR, Dinas Lingkungan Hidup, Bappeda, Dinas Pariwisata.

Perwakilan Dinas Kehutanan Provinsi Sumsel, H Achmad Taufik SH didampingi Kepala  Kepala KPH X Dempo, Ardiansyah Fitri AP MSi mengatakan, hutan adat bisa dikelola masyarakat, agar bisa memberikan kontribusi atau manfaat lebih baik lagi. “Baik itu difungsikan sebagai lokasi pariwisata, serta mengoptimalkan pemanfaatan dari hasil hutannya. Pelaksanaannya tidak mengabaikan fungsi hutan adat. Ekosistemnya harus tetap terjaga dan lestari,” katanya.

Selama ini untuk pemanfaatan hasil dari hutan adat untuk kepentingan bersama masyarakat Tebat Benawa dan sekitarnya, seperti bagi masyarakat Dusun Rempasai. Sebagaimana dituturkan, Budiono selaku Ketua Adat Tebat Benawa didampingi Aisan Tokoh Masyarakat setempat.

“Hutan adat Tebat Benawa ini kami jaga turun temurun. Bahkan masyarakat juga menjaganya dengan melakukan patroli di kawasan hutan adat ini, tujuannya agar jangan sampai rusak akibat dirambah,” ujar dia seraya mengatakan dahulu masyarakat sempat demo karena hutan adat dibuka untuk kebun oleh masyarakat luar.

Hingga saat ini, masih terdapat pohon-pohon besar bahkan berukuran lima bentangan tangan orang dewasa jenis Cemare. “Hutan adat ini sebagai daerah resapan air. Ada tebat besar, sebagai sumber mata air bagi masyarakat Tebat Benawa dan Rempasai juga sekitarnya. Masyarakat masih bergantung dengan sumber mata air tersebut untuk keperluan sehari-hari bahkan untuk air sawah,” pungkasnya.

Tunggu Penyerahan SK dari Presiden

Hutan Adat Tebat Benawa di Kecamatan Dempo Selatan ternyata sudah ada legalitas hukumnya. Jadi, statusnya sudah diakui SK-nya pun sudah diterbitkan oleh Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI. Hal ini dibenarkan oleh Budiono, selaku Ketua Adat Tebat Benawa didampingi Aisan Tokoh Masyarakat setempat.

Hutan Adat Larangan Mude Ayek Tebat Benawa merupakan hutan adat pertama satu-satunya di Pagaralam dan Sumatera Selatan yang memperoleh pengakuan pemerintah. Hutan adat ini  luasnya 336 hektar yang dikelola masyarakat adat Puyang Kedung Samad.

Awal pengusulan hutan adat agar diakui legalitasnya mengingat demi kelangsungan hutan kedepannya. “Hingga saat ini boleh mengambil rotan untuk kepentingan masyarakat. Bahkan dahulunya kayu (pohon, red) besar banyak dan sempat dipergunakan untuk kepentingan masyarakat. Sekarang tidak seperti dulu dan tidak bileh lagi menebang atau untuk berkebun,” ujar dia seraya mengatakan bagi yang melanggar dipastikan hukum adat yang menentukan.

Lanjut Budiono, SK hutan adat Tebat Benawa sudah diterbitkan oleh Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dan hanya menerima salinan (SK, red) sekitar Juni 2019 silam. “Saat ini, informasinya menunggu penyerahan secara simbolis dari presiden langsung,” kata dia.

Untuk diketahui, pengusulan hutan adat ini disepakti sejumlah jungku puyang masyarakat setempat. Empat jungku puyang diantaranya Kedum Samad, Sanggahan, Siak, Nek Malim. Sebelumnya juga sudah dilakukan pengukuhan Lembaga Masyarakat Hukum Adat, Dusun Tebat Benawa, Kelurahan Penjalang, Kecamatan Dempo Selatan. (ald)

Komentar

Berita Lainnya