oleh

Ibu Obby Histeris Dengan Putusan Hakim

PALEMBANG – Sidang Pra Peradilan yang diajukan Obby Frisman Arkataku (24) ditolak. Halim Tunggal pengadilan Negeri Klas 1 Palembang , Hakim Yosdi yang mempin jalannya persidangan pra peradilan Obby Risman Arkataku (24). Telah memutuskan menolak permohonan yang diajukan , Kamis (8/8).

Status tersangka yang saat ini ada pada Obby yang merupakan pembina di SMA Taruna Indonesia yang menewaskan Delwyn Berli Juliandro. Saat mengikuti kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Taruna Indonesia , tetap disandangnya.

Selain itu, kasus penganiayaan yang dilakukan tersangka Obby terhadap anak didiknya akan terus berlanjut. Dalam gugatannya di Pengadilan Negeri Klas 1 Palembang. Obby melalui kuasa hukumnya, Suwito Winoto memohon kepada Pengadilan Negeri Palembang. Agar hakim menyatakan penetapan tersangka Obby Frisman Arkataku dan penangkapan berdasarkan Nomor LPB/ 1493/ VII/ 2019/ Sumsel/ Resta/SPK, tanggal 13 Juli 2019 tidak sah.

Begitu juga dengan penahanan terhadap Obby berdasarkan Nomor LPB/ 1493/ VII/ 2019/ Sumsel/ Resta/SPK, tanggal 13 Juli 2019 tidak sah. Kemudian memerintahkan kepada termohon Kepala Kepolisian Negara RI Cq Kapolda Sumsel Cq Kapolresta Palembang tidak sah.

Selain itu, pemohon mengharapkan agar Obby dikeluarkan dari dalam penahanan. Dan menghukum termohon untuk membayar ganti kerugian, berupa kerugian materil karena kehilangan penghasilan Rp50 juta. Serta kerugian im-materil. Bahwa akibat penetapan tersangka, penangkapan dan penahanan yang tidak sah oleh termohon. Menyebabkan tercemarnya nama baik pemohon, hilangnya kebebasan.

“Menolak seluruh gugatan yang diajukan pemohon terhadap pemohon. Selain itu tetap melanjutkan proses hukum yang menjerat pemohon yang dilanjutkan penyidik yakni Polresta Palembang,” ujar majelis sambil mengetuk palunya.

Putusan hakim tunggal Yosdi dalam sidang pra peradilan yang menolak seluruh gugatan Obby terhadap Polresta Palembang atas kasus penganiayaan yang dilakukan terhadap Delwyn Berli Juliandro membuat orangtua Obby merasa kecewa.

Ibu Obby, Romdania yang mendengar keputusan tersebut seketika menangis dan tetap tak menyangka anak tunggalnya tersebut tetap menjadi tersangka.

“Anak saya tidak bersalah. Kami tetap minta keadilan,” teriak Romdania sambil menangis di luar ruang sidang Pengadilan Negeri Palembang.

Romdania yang menangis sambil menggenggam tangannya tidak menerima jika anaknya bersalah, coba ditenangkan keluarga lain. Ia terus saja menangis dan tetap tidak terima apa yang telah diputuskan hakim tunggal terhadap anaknya.

Ayah Obby, Dardanela mengatakan, bila dirinya tetap membela anaknya yang baru seminggu bekerja di SMA Taruna Indonesia Palembang tidak bersalah.

Meski pra peradilan mereka dinyatakan di tolak, Dardalena tetap berusaha mencari keadilan bagi putra semata wayangnya hingga kemana pun.

“Dia (Obby – red) sudah bersumpah di kaki saya, bahwa dia tidak memukul korba. kami, khususnya anak saya dizolimi dalam kasus ini,” ucapnya.

Menanggapi putusan yang dibacakan hakim tunggal Pengadilan Negeri Klas 1 Palembang, kuasa hukum Obby, Suwito Winoto mengungkapkan bila pihaknya tetap menghormati putusan hakim praperadilan.

“Meski ada banyak bukti dan keterangan saksi yang tidak dipertimbangkan dalam mengambil keputusan, kami menghormati putusan hakim,” katanya.

Gugatan terhadap status Obby yang saat ini tersangka dari penetapan penyidik Satreskrim Polresta Palembang, pihaknya juga akan berusaha menegakkan keadilan dengan mengawal kasus ini sampai selesai.

“Sampai perkara pokoknya masuk ke pengadilan. Kalau memang ada kesalahan dalam putusan ini, akan kami bawa ke Komisi Yudisial,” pungkasnya.

Status tersangka yang saat ini ada pada pembina SMA Taruna Indonesia tersebut atas kasus penganiayaan yang menewaskan Delwyn Berli Juliandro saat mengikuti kegiatan MOS di SMA Taruna Indonesia Palembang, tetap disandangnya.

Kuasa hukum Satreskrim Polresta Palembang melalui Bidang Hukum Polda Sumsel AKBP Parlindungan Lubis menuturkan, dengan ditolaknya permohonan praperadilan yang dilakukan tersangka Obby terhadap Polresta Palembang khususnya Satreskrim Polresta Palembang, maka penetapan tersangka, penangkapan dan penahanan sudah sesuai menurut hukum.

“Apa yang dijelaskan hakim dalam putusannya bila dua alat bukti sudah sah menurut hukum. Dengan ditolaknya gugatan pemohon, penetapan tersangka, penangkapan dan penahanan terhadap tersangka sudah sesuai menurut hukum,” ujarnya.

Terlebih, saat ini berkas perkara kasus penganiayaan yang dilakukan Obby terhadap korban hingga meninggal dunia saat mengikuti MOS masih diteliti pihak kejaksaan.

“Untuk berkas biasanya akan diproses selama 14 hari. Jadi penyidik masih menunggu jawaban dari Jaksa apakah sudah dinyatakan lengkap (P21) atau masih belum,” jelasnya.

Dengan ditolaknya gugatan pemohon ini, Lubis juga menjelaskan status tersangka yang ditetapkan penyidik dari Satreskrim Polresta Palembang sudah sesuai proses hukum dan status tersangka masih tetap dikenakan pada Obby. (wly)

Komentar

Berita Lainnya