oleh

Inah-Asri Pacaran Setahun Terakhir

-Hukum-1.551 views
SUMSEL – Empat pelaku yang terlibat pembunuhan dan pembakaran almarhumah Inah Antimurti (20). Tinggal di satu desa yang sama. Yakni Desa Talang Taling, Kecamatan Gelumbang, Muara Enim. Keterlibatan mereka membuat kaget banyak pihak. Selama ini, tak ada perilaku menyimpang dari mereka. “Bahkan, Fb itu masih pelajar. Sedangkan temannya Dp sudah putus sekolah,” kata Kepala Desa (Kades) Talang Taling, Syafran, kemarin (24/1).
Selama ini tak ada catatan buruk tentang mereka. Termasuk Asri yang masih buron dan diduga otak dari pembunuhan sadis tersebut. Tiga tahun menjabat Kades Talang Taling membuat dia tahu kondisi 1.100 kepala keluarga (KK) atau 4.619 jiwa warganya.
Dijelaskan Syafran, tersangka Feri (30) memang kondisinya tunarungu sejak lahir. Sedangkan Abdul Malik (22) pekerjaannya serabutan. Makanya, begitu dapat kabar kalau kelima warganya terlibat pembunuhan. Disertai pembakaran jasad korban Inah, dia seakan tak percaya. Namun, bukti yang ditemukan di kawasan SP1 Dusun IV KTM Sungai Rambutan, Minggu (20/1) menjadi petunjuk. Kalau korban memang benar dibunuh dan dibakar. Dan para pelaku telah mengakuinya.

Kepala SMP Negeri 7 Gelumbang, Asmawi MPdi didampingi Wakil Kepsek bidang Kesiswaan, Fil Ardi membenarkan. Kalau Fb salah seorang siswa mereka. Remaja berusia 16 tahun itu kelas VIII. “Kami benar-benar terkejut. Tidak menyangka kalau siswa kami itu terlibat dalam kasus pembunuhan,” ucap Asmawi. Tidak pernah dalam kesehariannya Fb menunjukkan sifat yang kurang baik. “Dia rajin ke sekolah. Kalau prestasinya biasa saja,” tambahnya.

Saat ini, pihak sekolah belum mengambil keputusan terkait masalah ini. “Kami serahkan prosesnya secara hukum. Secara lembaga, kami belum mengambil tindakan,” imbuhnya.

Selain ke sekolah Fb, koran ini pun menelusuri lokasi tempat tinggal Asri yang kini entah kabur ke mana. Tak terlalu sulit menemukannya. Bangunan berupa dua pintu itu terletak di pinggir Jalan Lintas Tengah (Jalinteng) Palembang-Prabumulih. Tepatnya di sisi kiri jalan dari arah Palembang atau di seberang SD Negeri 23 Gelumbang.
Masing-masing berukuran sekitar 4×8 meter. Bangunan itu milik orang tua Asri. Satu pintu ditempati Asri, satunya disewa Uda, warga asal Padang yang buka usaha rumah makan Dua Putri.

“Saya baru empat bulan menyewa tempat ini. Waktu kejadian, saya tidak tahu karena kalau malam rumah makan kami tutup,” kata Uda. Dia mengaku belum pernah ngobrol dengan Asri. “Kalau kenal iya, tapi ngobrol belum pernah sama sekali. Dia jarang menempatinya,” bebernya. Sebelum pembunuhan terjadi, siangnya dia melihat korban (almarhumah Inah) masuk ke ruko yang ditempati Asri.

Uda mengaku baru dua kali melihat korban datang ke sana. “Yang kedua ya Sabtu siang itu. Saya baru tahu kalau ada pembunuhan dari media,” imbuhnya. Terpisah, tim Subdit III (Jatanras) Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Sumsel saat ini masih memburu Asri (30). Sayang, keberadaan pria yang diduga pacar almarhumah itu masih misterius. “Ke mana pun dia akan kami cari. Akan ditangkap hidup atau mati,” cetus Kapolda Sumsel Irjen Pol Zulkarnain Adinegara.

Dari pengakuan Abdul Malik, antara korban dan Asri memang ada hubungan. Keduanya mulai menjalin asmara sejak korban bercerai dari suaminya yang tinggal di Desa Pedataran, Muara Enim. “Mereka memang pacaran. Saya tahu karena sering lihat dia (korban) jalan sama Asri di sekitaran Gelumbang,” akunya.
Malik mengaku tak terlalu kenal korban. Dia baru melihat dari dekat wajah almarhumah ketika datang di hari kejadian. Diakuinya, Asri seorang pemain narkoba. Kalau mereka mau pakai sabu, datangnya ke ruko Asri tersebut.
“Bayar Rp50-70 ribu, sudah bisa pakai,” bebernya. Malik mengaku tak terlalu tahu detail kehidupan pribadi Asri. Namun setahunya, sang teman punya istri lebih dari satu. Adanya hubungan antara almarhumah dan Asri telah diketahui pihak keluarga. Sepupu korban, Jaka menuturkan, Inah dan Asri punya hubungan sekitar setahun terakhir.

Keduanya sudah kenal sejak masih sekolah dan sama-sama tinggal di Gelumbang. Namun, hubungan itu renggang ketika Inah menikah dengan Khairul. “Kami dengar dekat lagi setelah bercerai. Tapi, sebatas mana kedekatannya, kami tidak tahu. Karena Inah jarang bercerita masalah pribadi,” pungkas Jaka.

Sementara itu, jenazah almarhumah telah diserahkan ke pihak keluarga, Rabu (23/1) pukul 19.30 WIB. Malam itu juga, jasad korban dibawa ke rumah duka di Desa Pedataran, Kecamatan Gelumbang. “Langsung kami makamkan malam itu juga,” ujar kakak perempuan korban, Sasi (28).

Dia berharap, tersangka Asri cepat ditangkap dan diberi hukuman setimpal. Begitu juga keempat tersangka lainnya yang sudah ditangkap lebih dulu. “Kami mohon keadilan. Kami berharap pelaku dihukum mati,” cetusnya. (sid/vis/ce2)

Komentar

Berita Lainnya