oleh

Indonesia Diminta Jangan Bergantung Pada Cina

SUMEKS.CO-Penyebaran Virus Corona ke berbagai belahan dunia bisa berdampak pada perekonomian Indonesia, baik langsung maupun tidak langsung.

Cina merupakan mitra dagang terbesar Indonesia selama delapan tahun terkahir. Pada 2018, total perdagangan kedua negara mencapai USD72,6 miliar.

Produk ekspor utama Indonesia ke Negeri Tirai Bambu itu meliputi gas alam, batu bara dan pertambangan, kelapa sawit, dan bubur kayu. Sedangkan, produk impor Indonesia dari Cina mencakup elektronik, bawang putih, mesin, besi dan baja.

Meski demikian, Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Mohmmad Faisal mengatakan, ke depan Indonesia tidak boleh lagi ketergantungan dengan Cina. Hal ini agar perekonomian Indonesia tetap tumbuh.

“Pemerintah jangan ketergantungan dengan Cina. Harus ada diversifikasi sehingga ketika terjadi sesuatu ada back up dari (negara) lain,” kata dia, kemarin (4/1).

Faisal menuturkan saat ini, China menjadi tujuan ekspor dan impor terbesar Indonesia. Bukan itu saja, pemerintah juga mendapat cuan dari masuknya jutaan wisatawan asal Negeri Panda itu.

Melansir data Badan Pusat Statistik (BPS), kedatangan turis Cina ke Indonesia sepanjang 2019, mendudui peringkat ekdua dengan total 2 juta kunjungan wisatawan. Destinasi wisata Bali dan Manado menjadi tujuan favorit turis Cina.

Terkait tidak bergantung dengan Cina untuk sektor pariwisata, pemerintah perlu melakukan penetrasi atau promosi ke negara-negara lain, misalnya wisman asal Timur Tengah. Salah satu caranya dengan menerapkan paket-paket wisata halal dan yang mengandalkan bentang alam.

Di sisi lain, Faisal menyarankan pemerintah untuk berkoordinasi memperkuat perekonomian dalam negeri sehingga perekonomian Indonesia tidak berpengaruh terhadap dampak Virus Corona. “Pemerintah harus benahi dengan memperkuat industri hulu dan hilir,” ucap dia.

Menteri Keuangan (Menkeu), Sri Mulyani menilai penyebaran Virus Corona di Cina bakal berdampak pada ekspor, impor, dan konsumsi domestik.

“Konsumsi mereka turun cukup panjang untuk penanganan dari Corona dan masing-masingnya kota-kota dan provinsi di sana dan mereka akan menyiapkan policy untuk meng-counter pelemahan itu,” ujar Sri Mulyani.

Kondisi demikian, menurun bendahara negara itu tentu akan berpengaruh terhadap Indonesia pada sejumlah komoditas maupun sektor pariwisata. “Iya berpengaruh termasuk ke Indonesia baik pariwisata, harga komoditas dan ekspor secara umum,” kata Sri Mulyani.

Kendati demikian, Direktur Pelaksana Bank Dunia itu mengungkapkan, pemerintah telah melakukan sejumlah antisipasi mulai dari perdagangan, pertanian, pertambahan, dan perikanan.

“Kita sudah banyak keluarkan policy dan sektor-setor properti dan konsumsi kita harap ada hasilnya di 2020,” kata Sri Mulyani.

Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Bahlil Lahadalia mengatakan, sampai saat ini belum ada dampak yang dirasakan Indonesia akibat penyebaran Virus Corona terhadap investasi.

“Kalau bertahan terus sampai 2-3 bulan, otomatis ada dampaknya. Seberapa besar dampaknya ini yang lagi kita hitung sekarang,” ujar dia.

Komisi Kesehatan Nasional Cina mencatat 64 orang di Provinsi Hubei meninggal dunia akibat terinfeksi virus corona pada Selasa (4/2). Total korban meninggal dunia bertambah menjadi 414 di daerah pusat penyebarannya di Hubei dan total 425 orang di seluruh Cina.(din/fin)

Komentar

Berita Lainnya