oleh

Industri Pariwisata Diminta Buka Peluang Bagi Disabilitas

PALEMBANGIndustri Pariwisata di Sumsel didesak untuk memberi peluang bagi penyandang disabilitas untuk bekerja. Hal ini disampaikan Direktur Politeknik Pariwisata Palembang, Zulkifli Harahap. Pada saat Focus Group Discussion (FGD) di Kampus Poltekpar Palembang, Kamis (9/5).

“Sudah saatnya penyandang disabilitas mendapat kesempatan yang sama untuk bekerja di sektor pariwisata Sumsel,” kata dia.

Pihaknya ingin mengajak semua industri kepariwisataan berkomitmen bersama-sama membuka peluang bagi penyandang disabilitas. Menurut Zulkifli, para penyandang disabilitas ini tidak ingin dikasihani. Tapi sebenarnya ingin berdiri di atas kaki mereka sendiri lewat usaha atau bekerja. Untuk ke arah sana harus ada peluang dari para industri dulu.

“Poltekpar Palembang berkomitmen agar hal semacam ini disegerakan,” ajaknya.

Zulkifli menjelaskan, program untuk membuka kesempatan bekerja bagi penyandang disabilitas pernah ia jalankan saat di STP Bandung. Mereka mendapat pelatihan beberapa minggu oleh industri kepariwisataan. Seperti hotel, catering, dan laundry yang difasilitasi pihak kampus.

Setelah mendapat pelatihan keterampilan, penyandang disabilitas mengetahui kemampuan yang akan ia kembangkan saat diterima magang. Dari pelatihan itu pula industri kepariwisataan tahu calon pegawai yang akan mereka rekrut.

“Kita ajak mereka ikuti pelatihan lalu ikut magang. Ketika dilatih, mereka ada peluang untuk bisa melakukan pekerjaan yang biasa dilakukan pegawai-pegawai lain. Kalau ada peningkatan, kan direkrut menjadi pegawai. Dari pengalaman saya, ada banyak pekerjaan di hotel untuk dilakukan penyandang disabilitas. Seperti operator telepon, staf administrasi, desain grafis, cook helper atau dishwasher,” sebutnya.

Zulkifli mengungkapkan pihaknya berencana melaksanakan pameran lowongan pekerjaan, atau job fair. Pada kegiatan itu, nantinya para industri kepariwisataan yang membuka peluang bagi penyandang disabilitas mendapat tempat yang utama.

“Setelah mendapat pelatihan industri kepariwisataan, penyandang disabilitas bisa melamar langsung atau melalui Job Fair. Industri yang tidak menyediakan lowongan bagi penyandang disabilitas tidak perlu ikut serta. Tapi sebenarnya tidak putus hanya bekerja. Peluang lain dengan membuka usaha laundry kiloan, buat souvenir, kuliner atau pastry,” imbuhnya.

Ketua Himpunan Wanita Disabilitas Indonesia (HWDI) Wilayah Sumsel, Hikmah Meliana, mengapresisasi langkah yang dilakukan Poltekpar Palembang. Menurutnya, apa yang dilakukan pihak kampus merupakan perwujudan amanat Undang Undang nomor 8 tahun 2016.

“Ada 700-an orang penyandang disabilitas di Sumsel yang terdata. Baik skala ringan, sedang dan berat. Tapi semuanya kesulitan mendapat kerja hanya karena kekurangan di fisik, apalagi untuk sektor kepariwisataan. Sudah kirim lamaran, pas dipanggil wawancara langsung ditolak karena ada cacat fisik,” ungkap wanita berkerudung ini.

Dirinya berharap terbukanya peluang bagi penyandang disabilitas di sektor kepariwisataan bukan sekedar wacana. Ia juga mendesak peran pemerintah daerah untuk mendukung program tersebut.

“Pemerintah harus mendukung, sebab yang semacam ini apabila sukses bisa jadi indikator keberhasilan pembangunan daerah,” katanya.(ety)

Komentar

Berita Lainnya