oleh

Ini Dia Terobosan Pembebasan Laut dari Sampah Plastik

JAKARTA – Pemerintah membuat terobosan agar sampah di sungai tidak sampai ke laut. Terutama sampah yang sulit terurai berbahan plastik. Tujuannya tidak mencemari lingkungan dan ekosistem laut. Terobosan itu ditandai dengan turun gunung Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan dan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya Bakar ke lapangan.

Keduanya turun dengan menggandeng Duta Besar Kerajaan Belanda untuk Indonesia Rob Swartbol. Meresmikan Program Penelitian dan Percontohan Intersepsi Sampah Plastik di sungai. Bertempat di di kawasan Pantai Indah Kapuk Jakarta Utara. Program ini menggunakan River Cleaning-up System (RCS). Ikut terlibat dalam program ini seperti Balai Besar Sungai Ciliwung Cisadane, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (BBWS-PUPR). Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Dinas Lingkungan Hidup Pemerintah DKI Jakarta (DLH DKI), Danone-AQUA dan lembaga penelitian Solid Waste Indonesia (SWI).

“Sebagai upaya pengelolaan sampah, penting bagi kita untuk memulai mengembangkan sistem ekonomi sirkular. Jika kita memulai mengelola sampah secara komprehensif. Akan tercipta siklus ekonomi baru yang dapat bermanfaat bagi masyarakat,” ujar Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman, Luhut Binsar Panjaitan di Jakarta, Rabu (15/5).

Dikatakan Menkomaritim Luhut, hasil program percontohan ini nantinya akan di replikasi. Setidaknya di 14 sungai di DKI Jakarta untuk mencegah mengalirnya sampah ke lautan. Deputi Gubernur Bidang Tata Ruang dan Lingkungan Hidup DKI Jakarta, Oswar Muadzin Mungkasa menambahkan. Salahsatu kunci keberhasilan program pengelolaan sampah adalah kesadaran masyarakat akan pentingnya kontribusi mereka. Untuk mengubah kebiasaan membuang sampah kesungai.

“Edukasi secara terus menerus kepada masyarakat terkait dampak negatif yang ditimbulkan. Dari kebiasaan tersebut harus dilakukan,” terangnya.

Pada kesempatan itu, Presiden Direktur PT. Tirta Investama (Danone-AQUA) Corine Tap mengatakan. Program ini merupakan salah satu dukungan dan komitmen Danone AQUA. Untuk membantu upaya pengurangan sampah plastik.

“Kami bangga menjadi salah satu mitra strategis dalam proyek penelitian ini. Penelitian ini diharapkan untuk mendapatkan data dan perspektif yang berharga. Tentang komposisi, aliran limbah plastik, valorisasi atau daur ulang limbah plastik dari sungai. Dan apa yang dapat kita lakukan untuk mengumpulkan limbah plastik dari sungai sebelum mencapai lautan,” ungkapnya.

“Kami berharap bahwa penelitian itu akan mendukung kami. Dalam mencapai ambisi 100 persen sirkular tahun 2025. Dan memahami apa yang dapat dilakukan untuk mengumpulkan sampah secara efektif dan efisien. Sejalan dengan gerakan yang kami inisiasi yaitu BijakBerplastik,” tambah Corine.

Peluncurkan program ini merupakan tindak lanjut dari penandatanganan Nota Kesepahaman (MOU). Program Percontohan Pembersihan Sungai-Sungai di Wilayah Jakarta pada 12 Juli 2017. Yang dilanjutkan dengan perjanjian antara pemerintah Indonesia dan Belanda pada 26 April 2018 yang lalu. Penelitian ini diharapkan dapat membantu dalam memahami karakterisasi sampah plastik di sungai, kajian daur ulang sampah. Dan metode pengumpulan sampah plastik sebelum mencapai laut. Hasil program akan dilaporkan setelah 12 bulan beroperasi. Dan dari data yang terkumpul akan dibangun sistem pengelolaan yang merupakan bagian dari infrastruktur pengelolaan sampah di Jakarta.

Alat RCS yang digunakan dalam program percontohan ini merupakan suatu sistem pengelolaan sampah. Yang dibangun dengan tujuan utama untuk mengekstraksi sampah plastik yang mengalir di sungai. Kemudian menampungnya dengan menggunakan conveyor belt. Selanjutnya dikumpulkan dan diangkut ke tempat penampungan sementara untuk dipilah dan didaur ulang. Agar jumlah sampah yang diangkut ke TPA semakin sedikit. Alat ini ditargetkan akan mampu mengumpulkan sampah di sungai sebanyak 30 ton perharinya.

“Melalui gerakan ini, kami fokus pada tiga aspek inti. Pendidikan daur ulang untuk konsumen, inovasi kemasan produk dan pengembangan infrastruktur pengumpulan limbah. Tiga aspek inti ini bertujuan untuk membantu mencapai ambisi kami pada tahun 2025. Untuk mengumpulkan lebih banyak plastik daripada yang kami gunakan. Untuk menggunakan 100 persen kemasan yang dapat didaur ulang. Dapat digunakan kembali ataupun dapat terurai. Serta untuk meningkatkan proporsi konten daur ulang dalam botol kami menjadi 50 persen,” jelas Corine.

Lanjut Corine, plastik di laut telah menjadi perhatian utama. Karena mengakibatkan pencemaran serta berpotensi mempengaruhi kesehatan manusia. Sebuah studi dari Nature Communications (2017) menyebutkan. Bahwa sistem sungai di Indonesia berkontribusi mengalirkan sampah plastik ke lautan rata-rata sebesar 200.000 ton per tahun atau 14.2 persen dari total dunia. Pemerintah Indonesia telah melakukan inisiasi untuk memerangi sampah plastik di laut sebesar 70 persen pada tahun 2025.(kmd)

Komentar

Berita Lainnya