oleh

Ini Jumlah Penerimaan Devisa dari Pariwisata

JAKARTA – Industri pariwisata memerlukan perhatian lebih dalam mengantisipasi bemcana alam. Pasalnya, industri pariwisata mendatangkan devisa nasional hingga Rp190 triliun pada tahun 2018. Bahkan nilai itu menempatkan pariwisata menempatkan pada posisi kedua setelah penerimaan devisa hasil ekspor kelapa sawit, yang mencapai Rp239 triliun.

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Doni Monardo mengatakan bahwa pariwisata ini merupakan lokomotif pertumbuhan ekonomi nasional. Namun demikian bencana alam tidak dapat diprediksi secara pasti waktu datangnya.

“Dunia pariwisata harus memahami penanggulangan bencana seperti tren bencana yang meningkat. Ini bisa dijadikan refleksi untuk pengelolaan pariwisata untuk beradaptasi dengan perubahan ini,” ujarnya dalam diskusi di Graha BNPB, Senin (6/5).

Menyinggung potensi ancaman bahaya di wilayah nusantara, Doni mengatakan bahwa peristiwa alam diharapkan tidak mengganggu sektor pariwisata. Dengan kondisi tersebut, BNPB mengharapkan para pelaku industri pariwisata untuk menekankan perlunya upaya-upaya seperti pencegahan dan mitigasi.

Data BNPB pada Januari hingga April 2019 mencata bahwa 1.586 bencana terjadi dengan menelan korban jiwa dan hilang mencapai 438 orang. Sejumlah kejadian tersebut, 98 persen merupakan bencana hidro-meteorologi seperti banjir, longsor, dan puting beliung.

“Pelaku pariwisata memiliki peran penting dalam penanggulangan bencana. Melalui upaya prabencana, pengelola pariwisata dapat memberikan informasi kepada wisatawan atau pun melatih kesiapsiagaan ara pekerjanya. Para pelaku pariwisata untuk melakukan upaya mitigasi vegetasi terhadap hotel atau penginapan di dekat kawasan pantai, seperti penanaman pohon yang berfungsi mengurangi dampak tsunami,” ujarnya.

Menurut data yang dihimpun BNPB, bencana merupakan capital shock yang menggerus jumlah modal dan nilai modal fisik secara signifikan. Tsunami di Selat Sunda pada 22 Desember 2018 lalu menyebabkan kerugian hingga ratusan milyar. Bencana tersebut juga menyebabkan efek domino seperti pembatalan kunjungan wisatawan hingga 10%. Sebelum terjadi tsunami, tingkat hunian hotel dan penginapan di kawasan wisata Anyer, Carita, dan Tanjung Lesung mencapai 80 – 90 persen. (ran)

Komentar

Berita Lainnya