oleh

Ini Tahapan Relaksasi Pajak Kendaraan Bermotor

JAKARTA – Pengajuan relaksasi pajak kendaraan bermotor yang diusulkan Kementerian Perindustrian bersama Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) sejak September tahun lalu akhirnya diterima.

Pemerintah hanya mengabulkan insentif fiskal berupa penurunan tarif PPnBM (pajak penjualan atas barang mewah) dari beberapa usulan pajak lainnya. Relaksasi diberikan selama 9 bulan, dimulai 1 Maret nanti. Penerapan relaksasi pajak diberikan per 3 bulan dengan besaran yang berbeda.

“Relaksasi PPnBM dapat meningkatkan purchasing power dari masyarakat dan memberikan jumpstart pada perekonomian. Stimulus khusus juga diberikan di sejumlah negara lain di dunia untuk industri otomotif selama pandemi,” ujar Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, kemarin.

Pemberian relaksasi PPnBM ini sebagai upaya pemulihan ekonomi nasional di masa pandemi Covid-19. Industri manufaktur sendiri memiliki kontribusi terhadap PDB sebesar 19,88 persen. Industri otomotif merupakan salah satu sektor manufaktur yang terkena dampak pandemi Covid-19 paling besar.

“Insentif PPnBM sebesar 100 persen dari tarif akan diberikan pada tahap pertama (Maret-Mei), lalu tahap kedua (Juni-Agustus) 50 persen dan tahap ketiga (September-November) 25 persen. Besaran insentif ini akan dilakukan evaluasi setiap 3 bulan. Instrumen kebijakan akan menggunakan PPnBM DTP (ditanggung pemerintah) melalui revisi Peraturan Menteri Keuangan (PMK),” jelasnya.

Pemberian insentif ini hanya untuk kendaraan dengan cc di bawah 1500 dengan kategori sedan dan 4X2. “Pemerintah ingin meningkatkan pertumbuhan industri otomotif dengan local purchase kendaraan bermotor diatas 70 persen,” katanya.

Tiga Tahap Insentif PPnBM
– Maret-Mei 100 persen
– Juni-Agustus 50 persen
– September-November 25 persen

Pada Umumnya PPnBM 10 Persen

Kategori Kendaraan
– Di bawah 1500 cc
– Sedan dan 4X2

Mendorong OJK revisi kebijakan :
– Peraturan menjadi DP Nol Persen
– Penurunan ATMR kredit (Aktiva tertimbang menurut resiko)

Ia berharap, melalui insentif ini, konsumsi masyarakat berpenghasilan menengah atas bisa meningkat. Kemudian jug meningkatkan utilisasi industri otomotif dan mendorong pertumbuhan ekonomi di kuartal pertama tahun ini.

Ia juga mendorong OJK untuk merevisi kebijakannya berupa skema pengaturan uang muka nol persen dan penurunan ATMR Kredit (aktiva tertimbang menurut risiko) mengikuti pemberlakuan insentif penurunan PPnBM ini.

Ia menyebut, dengan skenario relaksasi dilakukan bertahap, maka berdasarkan data Kemperin, diperhitungkan dapat terjadi peningkatan produksi hingga 81.752 unit. Estimasi penambahan output industri otomotif juga diperkirakan bakal menyumbangkan pemasukan negara sebesar Rp1,4 triliun. “Kebijakan tersebut juga akan berpengaruh pada pendapatan negara yang diproyeksi terjadi surplus penerimaan sebesar Rp1,62 triliun,” tambahnya.

Lebih lanjut katanya, pulihnya produksi dan penjualan industri otomotif akan berdampak luas pada sektor lainnya. Seperti pada industri bahan baku yang berkontribusi 59 persen dalam industri otomotif.

“Industri pendukung otomotif menyumbang lebih dari 1,5 juta orang dan kontribusi PDB sebesar Rp700 triliun,” katanya. Industri otomotif juga merupakan industri padat karya, terdiri dari lima sektor pelaku industri tier II dan tier III (1.000 perusahaan dengan 210 ribu pekerja), tier I (550 perusahaan dengan 220 ribu pekerja), perakitan (22 perusahaan dengan 75.000 pekerja), diler dan bengkel resmi (14 ribu perusahaan dengan 400 ribu pekerja) serta diler dan bengkel tak resmi (42.000 perusahaan dengan 595 ribu pekerja).

Sebelumnya, Donny Saputra, 4W Marketing Director Suzuki Indomobil Sales (SIS) mengatakan, pada umumnya besaran PPnBM untuk kendaraan sebesar 10 persen dari harga jual.

Artinya, jika kendaraan dijual Rp200 juta, maka ada penurunan harga jual menjadi Rp180 juta (jika insentif 100 persen). Sementara jika insentif 50 persen (tahap kedua) maka harga jual menjadi Rp190 juta (insentif Rp10 juta) dan bila 25 persen menjadi Rp195 juta (Rp5 juta).

“Dengan adanya tambahan stimulus dalam bentuk terobosan regulasi pengurangan elemen PPnBM tentunya memberikan harapan pasar akan berkontraksi positif atau menaikkan volume penjualan,” ujarnya.

Menurutnya, adanya relaksasi itu akan berdampak pada harga jual kendaraan, sehingga bisa jadi faktor stimulus untuk pembelian oleh konsumen potensial.

Irwan Kuncoro, Director of Sales and Marketing MMKSI juga memyambut baik jika ada pembebasan pajak tersebut. “Akan menstimulus konsumen untuk membeli kendaraan baru dengan harga yang lebih rendah, tentunya hal tersebut sangat baik untuk pasar otomotif yang saat ini sedang meredup,” ujarnya belum lama ini. Pada dasarnya, MMKSI akan mengikuti peraturan yang sudah menjadi keputusan pemerintah.(rei)

Komentar

Berita Lainnya