oleh

Tak Ada Narkoba Konvensional di Klub Malam, tapi…

Lain di Jakarta, lain lagi bentuk peredaran narkoba di kota-kota penyangganya. Di luar Jakarta, misalnya Bogor, Tangerang, dan Tangerang Selatan, memang tidak ada penjualan narkoba konvensional di kelab-kelab malam.

Namun, yang lebih populer adalah blue sapphire dan snow white. Keduanya adalah minuman yang masuk narkoba kategori 4, yakni klorometkatinon (4-CMC).

Cairan yang diklaim memiliki efek “tinggi” seperti ekstasi itu bisa didapatkan di sejumlah kelab di Tangerang dan Tangerang Selatan.

Minuman itu sempat menghebohkan pada 2016. Tepatnya, setelah belasan pengunjung di kelab Matador di Tangerang Selatan keracunan minunam blue sapphire pada November 2016.

Sebelumnya, seorang WNA keracunan hingga tewas setelah mengonsumsi minuman tersebut. Setahun kemudian, pihak kelab menjelaskan sudah tidak menjual minuman itu lagi.

Sejak diidentifikasi sebagai narkoba, minuman itu pun menjadi susah didapatkan. Namun, sekali lagi, langka bukan berarti tidak ada.

Untuk membuktikannya, saya menggali sejumlah informasi dan akhirnya bisa berkenalan dengan seorang perempuan yang mengatakan bahwa minuman itu masih bisa didapatkan.

Sabtu (1/12) saya janjian dengan perempuan yang mengaku bernama Eva itu di depan sebuah outlet karaoke keluarga di kawasan Gading Serpong, Tangerang.

Saat itu jarum jam masih menunjuk pukul 23.00. Dia datang menghampiri saya bersama teman perempuannya.

Setelah masuk ke mobil yang saya kemudikan, dia kemudian menunjukkan tempat yang dia bilang masih menjual minuman langka itu.

Di kawasan elite tersebut, kami masuk agak jauh ke dari jalan utama, lalu tiba di area ruko. Di situ kami masuk di sebuah kelab dan karaoke yang berbentuk ruko tiga lantai.

Rupanya, dia sudah memesan sebuah table untuk kami bertiga. Sampai di depan ruko, kami lalu dipersilakan masuk ke lounge dan menempati sebuah meja tinggi yang terletak tepat di depan DJ booth.

Saat itu belum begitu ramai. Maklum, sebelum lewat tengah malam bisa dibilang masih sore bagi penggemar party.

Lalu, kami memesan minuman. Segelas koktail dan satu pitcher Heineken. Saya bertanya kepada Eva tentang minuman yang punya efek seperti ineks itu.

”Sabar, aku sudah pesen. Agak lama memang datangnya,” tutur Eva yang menampakkan diri dengan leopard print blouse yang dipadu dengan skinny jeans dan high heels.

Benar juga. Pada pukul 00.00 lewat beberapa menit, seorang waiter dengan rambut yang dikucir ekor kuda menghampiri meja kami.

Dia membawa minuman berwarna cokelat pekat di dalam gelas. Eva bilang, itu adalah snow white. Namun, dia sudah minta untuk disajikan dalam gelas, bukan botol.

”Biar nggak mencolok aja sih,” tutur Eva yang di profile picture akun WhatsApp-nya mengenakan hijab itu. Saya lalu memberikan uang Rp 750 ribu kepada waiter tersebut, lalu dia meninggalkan kami dengan senyum di wajah.

Perempuan yang mengaku berumur 25 tahun itu kemudian membagi minuman tersebut bersama temannya yang menyebut dirinya bernama Rita itu. Mereka lalu mulai menggelengkan kepala. Beberapa menit kemudian, Eva dan Rita turun dari kursi dan berjoget mengikuti lagu EDM yang diputar DJ. ”Sudah mulai naik nih,” seru Rita kepada Eva agak berteriak.

Setelah menikmati suasana sekitar empat jam, pukul 03.25 kami kemudian meninggalkan ruko tersebut. Saya lalu mengantarkan keduanya ke sebuah apartemen di kawasan Bumi Serpong Damai (BSD), Tangerang Selatan, lalu berpisah di situ.

Berbagai penelusuran yang kami lakukan itu menunjukkan bahwa di ibu kota dan sekitarnya narkoba masih bisa didapatkan. Dan, biasanya, menjelang tahun baru, demand untuk narkoba bakal melonjak. Karena itulah, aparat-aparat yang berwenang wajib mengetatkan pengawasan menjelang pergantian tahun. (tim Jawa Pos/c10/agm)

Komentar