oleh

Iqro’ dan Qolam : Membaca dan Menulis Saat Pandemi Covid-19

“Membaca dan Menulis. Dari bacaan menjadi tulisan, dari tulisan yang dibaca mendapat ilmu yang berguna. Dari ilmu yang didapat menjadi karya yang bermanfaat”.

SUMEKS.CO – Setiap manusia menjalani kehidupannya masing-masing. Dari kehidupan sehari-hari kita tidak akan terlepas dari hal membaca dan menulis. Membaca dan menulis merupakan bagian dari kehidupan semua orang. Mulai dari kalangan anak-anak sampai lanjut usia. Karena membaca dan menulis tidak mengenal akan usia, dan setiap kehidupan yang dijalani merupakan ilmu pengetahuan dari apa yang dibaca dan ditulis. Yang merupakan pembelajaran dan pengalaman.

Kita tahu kini dunia dilanda dengan wabah covid-19, saat pandemi covid-19 kita diwajibkan untuk menjalani social distancing. Tentu banyak waktu kita untuk berada di rumah dan memanfaatkannya dengan sebaik-baiknya. Mengenai ini kita dapat mengambil hikmah dibalik pandemi covid-19, tanpa kita sadari Allah SWT mempunyai rencananya tersendiri. Hikmahnya bagi kita untuk lebih mendekatkan diri pada-Nya, memanfaatkan waktu untuk bersama keluarga, dan lebih pada memperbaiki diri kita. Bahwasannya Allah SWT memberikan kesempatan bagi Hamba-Nya untuk memperbaiki kehidupan bersama keluarga dan kepada Allah SWT.

Banyak hal yang dapat kita lakukan di rumah. Terlebih untuk membaca dan menulis. Mungkin dikala dulu kita tidak sempat membaca kitab suci Al-Qur’an, saat pandemi ini kita diberikan waktu berharga untuk menyempatkan membaca dan memahami kitab suci Al-Qur’an. Seperti wahyu pertama Nabi Muhammad SAW, iqro’ yang berarti bacalah. Seperti yang saya baca pada artikel yang berjudul Perkembangan kepustakawanan dalam tradisi ke-islaman (dari tulisan Drs. Mahfudz Junaidy (pustakawan UIN Jakarta). Disini dijelaskan dengan sangat baik akan pentingnya membaca dan menulis.

Dari tulisan Mahfudz Junaidy (pustakawan UIN Jakarta), iqro’ dalam konteks kepustakawanan dijelaskan dalam sejarah Islam perintah membaca, Iqro’ (wahyu pertama), hal ini sangat mengherankan, karena perintah membaca tersebut ditunjukkan pertama kali kepada seseorang yang tidak pernah dan tidak pandai membaca suatu kitab atau buku apapun. Keheranan tersebut pada akhirnya sirna manakala kita menyadari arti kata iqro’ tersebut, yaitu bahwa perintah membaca bukan hanya ditujukan kepada penerima perintah wahyu, tetapi juga untuk umat manusia sepanjang sejarah kemanusiaan. Karena membaca merupakan kunci kemajuan dan membaca tidak mesti dari teks tertulis. Dengan kita memahami sesuatu kita telah belajar membaca.

Pada dasarnya kata iqro’ diambil dari bahasa Arab, merupakan bentuk kalimat perintah yang berasal dari kata kerja qara’a, yang pada mulanya berarti menghimpun, artinya yaitu merangkai huruf atau kata, kemudian kita mengucapkan rangkaian huruf atau kata tersebut, maka berarti kita telah menghimpunnya. Dari kata yang terhimpun menjadi suatu bacaan yang memiliki makna akan arti tertentu.

Menurut saya dalam falsafah iqro’ dikaitkan dengan konteks kepustakawanan dalam ilmu perpustakaan yaitu dapat dilakukan dengan membudayakan membaca dan menulis untuk menghadapi peradaban yang semakin maju.  Membaca segala yang kita lihat, membaca untuk memahami apa yang kita lihat, membaca dari apa yang kita tulis. Dan menulis dari segala apa yang telah kita baca, menulis dari berbagai informasi yang kita lihat, yang merupakan sebagai suatu simbol dalam peradaban kemanusiaan. Karena membaca membuat kita memahami sesuatu yang kita lihat.

Seperti yang ditulis oleh Mahfudz Junaidy (pustakawan UIN Jakarta), disini beliau menjelaskan mengenai Al-Qolam dan Iqro’. Saya akan sedikit menyimpulkan dari penjelasan beliau yang tertulis pada artikel tersebut. Disini beliau menjelaskan dengan sangat baik mengenai membaca dan menulis.

  • Al-Qolam :

Al-Qolam adalah alat untuk menciptakan kecerdasan umat manusia. Dan dengan al-qolam manusia dapat mencatat segala macam peristiwa, ilmu pengetahuan, dan segala sesuatu yang menjadikan informasi, yang pada suatu saat nanti informasi tersebut diperlukan oleh umat manusia. Pengertian Al-Qolam untuk saat sekarang ini tidak terbatas hanya pada pengertian seperti : pena atau alat tulis elektronik, mesin ketik, komputer dan lain sebagainya, sebab alat-alat tersebut dapat digunakan untuk menulis data-data yang telah dikumpulkan.

  • Iqro’ :

Dalam sejarah Islam perintah membaca iqro’ (wahyu pertama) perintah membaca tersebut ditunjukkan pertama kali kepada seseorang yang tidak pernah dan tidak pandai membaca suatu kitab atau buku apapun. Karena pada saat zaman Nabi Muhammawd SAW tidak banyak orang yang dapat membaca. Hanya orang-orang tertentu saja. Pada dasarnya kata iqro’ diambil dari bahasa Arab yang merupakan bentuk kalimat perintah yaitu berasal dari akar kata dan kata kerja qara’a yang pada mulanya berarti menghimpun, artinya yaitu merangkai huruf atau kata kemudian kita mengucapkan rangkaian huruf atau kata tersebut, maka berarti kita telah menghimpunnya.

Disini setelah membaca tulisan tersebut, dipahamilah bahwa pentingnya membaca dan menulis. Apalagi kini kita mempunyai banyak waktu berharga untuk memanfaatkannya sebaik mungkin. Masa pandemi covid-19 ini banyak informasi yang mudah dan dapat kita akses, serta banyak pula berbagai informasi yang bermanfaat. Namun dari itu, ada beberapa informasi yang keliru atau hoaks. Maka dalam situasi pandemi inipun kita harus selektif dalam memilih sumber informasi, dan menyampaikan informasi kepada orang lain. Dari informasi positif yang kita dapat, diinformasikan lagi dengan cara kita kemas, agar menjadi lebih menarik. Sehingga kita juga dapat menciptakan informasi yang bermanfaat dengan tampilan berbeda.

Berdasarkan pernyataan tersebut, sependapat dengan Mahfudz Junaidy (pustakawan UIN Jakarta),  bahwa apa yang kita tulis, kita harus membacanya kembali, agar kita dapat mengevaluasi dan mengoreksi dari apa yang telah kita tulis. Lalu dari apa yang kita baca, kita harus menuliskannya kembali, dengan begitu akan membantu ingatan kita lebih kuat akan sesuatu yang telah kita baca. Dengan menuliskan kembali maka akan menjadi suatu arsip dokumen untuk peradaban manusia selanjutnya, apalagi di masa pandemi covid-19 ini kita harus benar-benar mencari informasi yang tepat dan bermanfaat.

Menulis dan membaca merupakan hal yang sangat penting dalam kehidupan kemanusiaan. Dengan menulis apa yang kita baca, suatu saat nanti bila kita ingin atau lupa kita dapat membuka kembali tulisan kita, dan bila kita membaca apa yang kita tulis, kita akan dapat lebih memahami sesuatu yang ada lebih baik. Karena menulis merupakan suatu simbol peradaban masa yang akan datang, sebagai suatu bukti nyata dan budaya membaca merupakan suatu konsep dalam membangun peradaban manusia yang akan datang.

Sesuatu yang kita tulis dan bermanfaat adalah sebuah informasi, yang pada suatu saat nanti diperlukan oleh umat manusia. Dengan informasi tersebut akan menciptakan kecerdasan umat manusia, sehingga memberikan manfaat bagi peradaban kemanusiaan. Membaca tidak hanya melihat pada huruf, melihat akan situasi juga merupakan membaca. Membaca tak hanya yang nampak, akan abstark pun kita mesti belajar membaca, yaitu memahami sesuatu tanpa dari kata-kaat dan tulisan, lebih pada perasaan.  Karena membaca merupakan kunci kemajuan, yang tak selalu membaca itu mengenai teks. Akan rasa kepekaan empati dan simpati mengenai kemanusian bisa juga dikatakan membaca.

Masa pandemi covid-19 ini kita dapat membaca situasi dengan meningkatkan rasa sosial akan kepekaan kita terhadap sesuatu. Dengan kita peka kita dapat berbagi dengan sesama, menolong bagi mereka yang membutuhkan, memberikan bantuan bagi yang meminta pertolongan. Karena pada masa pandemi covid-19 inilah saat rasa kemanusiaan kita diuji. Ini juga hikmah yang perlu kita pahami bersama, bahwa Allah SWT ingin hamba-Nya memiliki kepedulian akan sesama. Karena selain mendekatkan diri pada Allah SWT, juga kepada menjaga hubungan sesama makhluk ciptaan-Nya. Habblum miinanass dan Habblum Miinnallah.

Membaca membuat kita mengerti, membaca membantu kita untuk memahami sesuatu. Al-qolam menulis berarti menyimpan dan membuat informasi baru, iqro’ membaca berarti mengetahui, mengingat dan memahami sesuatu. Jadi, dapat dimengerti, dimana dengan menulis adalah suatu tanda simbol peradaban manusia, sedangkan membaca merupakan suatu budaya dalam membangun peradaban manusia. Membaca dan menulis merupakan bagian dari tiap kehidupan. Dengan kita membudayakan membaca dan menulis dimulai dari diri sendiri.

Membudayakan membaca dan menulis, apalagi dimasa pandemi covid-19 ini akan dapat meningkatkan minat baca kita, untuk menghadapi peradaban yang semakin maju, membaca segala yang kita lihat, membaca untuk memahami apa yang kita lihat, membaca dari apa yang kita tulis. Dan kita juga dapat menulis dari segala apa yang telah kita baca, menulis dari berbagai informasi yang kita baca, menulis dari informasi yang kita lihat, yang merupakan suatu simbol dalam peradaban kemanusiaan yang akan datang. Karena Menulis membantu kita mengingat sesuatu, membaca membuat kita memahami sesuatu.

Saat pandemi covid-19 ini, kita ambil saja hikmah dibalik kehendak Allah SWT. Apapun yang terjadi kini adalah atas kuasa-Nya. Kita hanya hamba-Nya, hadapi apa yang terjadi dengan ikhlas dan ikhtiar, tetaplah berpikiran positif, dan melakukan hal-hal yang berguna serta bermanfaat bagi kehidupan dunia, tak lupa jua akan akhirat. Tetap menjaga protokol kesehatan, mengikuti peraturan yang ada untuk kebaikan kita bersama. Insya Allah semua ini akan membaik atas kehendak Allah SWT. Aamiin Allahumma Aamiin ya Allah Ya Rabbal Allamiin, salam literasi.

Penulis :  Susita

Penulis adalah Mahasiswa Peserta KKN dari Rumah (KKN-DR) Angkatan 73 Pandemi Covid-19 Tahun 2020, LP2M UIN Raden Fatah Palembang.

Komentar

Berita Lainnya