oleh

Istri ‘Nyusul’ Suami Nyalon Pilkada, Pesan Suami Siap Siap Dibully

Suaminya masih menjabat, tapi kata Ipuk Fiestiandani, bukan faktor keluarga yang mendorong dirinya maju dalam pilkada Banyuwangi. Di Sleman, Kustini Sri Purnomo, istri bupati petahana, lebih memilih media sosial dalam berkampanye.

SANG suami, Abdullah Azwar Anas, memimpin Banyuwangi dua periode. Tapi, bukan faktor keluarga itu yang disebut Ipuk Fiestiandani sebagai pendorong dirinya maju dalam pemilihan bupati di kabupaten paling timur di Jawa tersebut.

’’Saya maju didasari dorongan masyarakat dan kepercayaan yang diberikan partai politik,” katanya kepada  Radar Banyuwangi seusai mengikuti pengundian nomor urut pasangan calon (paslon) yang digelar Komisi Pemilihan Umum (KPU) Banyuwangi kemarin (24/9).

Ipuk yang kemarin mendapat nomor urut 2 itu tak sendirian di jalurnya: istri yang berusaha menapaktilasi jejak suami. Di Sleman, Kustini Sri Purnomo, yang berpasangan dengan Danang Maharsa, juga demikian. Salah satu rivalnya adalah Sri Muslimatun yang berduet dengan Amin Purnama. Sri Muslimatun adalah wakil bupati petahana alias wakil suami Kustini, Sri Prunomo.

Ipuk mengatakan, pihak keluarga, termasuk sang suami, tidak mendorong dirinya untuk maju sebagai cabup. ’’Butuh waktu yang panjang untuk memikirkan itu. Kalau seandainya dari awal ingin mencalonkan diri, pasti persiapan saya lebih matang. Saya bisa menggunakan kegiatan-kegiatan saya untuk berkampanye,” ujarnya.

blank
Ipuk Fiestiandani. (RAMADA KUSUMA/RADAR BANYUWANGI)

Bahkan, lanjut Ipuk, pihaknya tidak memasang baliho atau media promosi lain sampai Juli lalu. ’’Dalam perkembangannya, memang dukungan warga semakin besar yang meminta saya untuk maju. Banyak yang berharap kemajuan serta berbagai perubahan ke arah yang lebih baik di Banyuwangi ini bisa diteruskan,” katanya.

Partai politik pertama yang mencalonkannya adalah Partai Nasdem. Surat rekomendasi itu diberikan langsung kepada Ipuk pada 22 Maret lalu. ’’Saat itu saya mulai berpikir apakah saya bisa maju atau tidak,” tuturnya.

Hanya, imbuh Ipuk, Bupati Anas pernah menyampaikan kepada dirinya, jika ingin berbuat baik yang lebih besar, salah satu caranya menjadi pemimpin. Namun, kala itu Anas juga menyampaikan bahwa menjadi pemimpin tidak mudah, harus siap di-bully, difitnah, dan sebagainya.

’’Semua keputusan diserahkan kepada saya,” beber cabup yang berpasangan dengan calon wakil bupati (cawabup) Sugirah tersebut.

Duet Ipuk-Sugirah akan berhadapan dengan Yusuf Widyatmoko-Muhammad Riza Aziziy. Mereka akan memperebutkan suara sekitar 1,3 juta pemilih.

Mengenai tudingan politik dinasti atau nepotisme, Ipuk menyebut itu sebagai risiko politik. Menurut dia, dinasti berlaku pada sistem kerajaan. Jabatan raja, misalnya, bisa diturunkan atau diserahkan.

’’Sedangkan saya dan Pak Sugirah harus melalui pemilihan. Jadi, saya rasa istilah dinasti itu kurang tepat,” terangnya.

Di Sleman, seperti dilansir  Radar Jogja, Kustini Sri Purnomo mengaku akan memaksimalkan media sosial dalam masa kampanye mendatang. ’’Kami juga akan memaksimalkan jaringan dari partai politik dan simpatisan yang ada untuk lebih mengenalkan visi-misi,” kata Kustini yang bersama pasangannya mendapatkan nomor urut 3 itu.

Untuk urusan istri yang berusaha menapaktilasi jejak suami tersebut, barangkali sulit mencari tandingan Klaten, kabupaten yang bertetangga dengan Sleman meski berbeda provinsi.

Sri Mulyani, bupati incumbent, adalah istri Sunarna, bupati Klaten 2005–2015. Tapi, dia tidak menjabat sejak awal. Dulu dia wakil bupati mendampingi Sri Hartini yang kemudian ditangkap KPK.

Nah, Sri Hartini dulu wakil bupati di periode kedua kepemimpinan Bupati Sunarna. Jangan lupa juga, suami Sri Hartini, Haryanto Wibowo, dulu juga bupati di kabupaten yang masuk wilayah Jawa Tengah tersebut.

Di Banyuwangi, Ipuk berjanji jika dirinya bersama Sugirah terpilih sebagai bupati dan wakil bupati, pihaknya akan membuat skema pemerintahan terbuka. ’’Sedang kami matangkan skemanya. Jadi, penasihat kami adalah seluruh warga,” tuturnya.

Bagaimana dengan sang suami? ’’Soal Bapak, beliau dengan pengalamannya pasti memberikan saran. Saya juga pasti sering berdiskusi dengan beliau. Intinya, siapa pun bisa memberikan saran dan nasihat,” katanya. (SIGIT H., BanyuwangiSEVTIA E.N., Sleman, Jawa Pos)

Komentar

Berita Lainnya