oleh

Jaga Jarak 2 Meter Itu Hal Biasa, ”Kebebasan” di Tengah Pandemi di Swedia

INI Ramadan saya yang kedua di salah satu negara Skandinavia, Swedia. Tahun lalu kami berpuasa 19 sampai 20 jam sehari. Tahun ini kami mendapatkan diskon satu jam sehingga cukup berpuasa 18 hingga 19 jam saja.

Sahur sekitar pukul 02.30, berbuka pukul 22.00. Meski persentase muslim di Swedia hanya 8 persen, saya merasa aman tanpa diskriminasi.

Saya bahkan merasakan Ramadan di Swedia dengan di Indonesia hampir tidak ada bedanya. Dulu, saat masih kuliah S-1 di ITS, saya dan kawan-kawan sengaja berkeliling dari satu masjid ke masjid lain untuk mencari mana yang menu takjilnya paling komplet. Mulai yang terdekat di kompleks kampus ITS hingga melebar ke sekitar kampus tetangga, Unair.

Kebiasaan itu ternyata masih bisa dilestarikan ketika saya kuliah S-2 di Swedia, hehehe. Tentu jumlah masjid yang menjadi target safari takjil kami jauh lebih sedikit. Tidak semua masjid menyediakan menu iftar dan menyediakan ruang bagi perempuan, saking kecilnya bangunan. Setidaknya ada tiga masjid besar yang rutin berbagi takjil: Masjid Sentral Stockholm (Central Moske), Masjid Aysha, dan Khadijah Center.

Gara-gara kebiasaan itu, saya hampir tidak pernah memasak selama Ramadan. Setiap hari berangkat ke masjid pukul 22.00, baru kembali sekalian menanti Subuh pukul 02.00. Saya pun tidak perlu takut untuk kembali pulang ke apartemen di tengah pagi buta karena transportasi umum beroperasi 24 jam.

Favorit saya adalah Masjid Aysha, milik komunitas orang Urdu alias Pakistan. Begitu azan Magrib berkumandang, kami berbuka dengan fruit chaat (salad buah dengan bubuk masala dan madu) serta susu yang dicampur sirup merah bernama Rooh Afza. Seusai salat jamaah, alas plastik digelar memanjang dan takmir masjid mulai mengedarkan piring berisi lauk khas Asia Selatan. Kadang menu kari ayam, kari chickpeas, olahan bayam dengan keju panir, atau nasi biryani kambing.

Pandemi lantas mengubah segalanya. Sejak pertengahan Maret kasus korona mulai merebak di Swedia. Semua masjid di Stockholm berangsur-angsur menutup pintu. Itu semua dilakukan untuk mengurangi persebaran virus di antara jamaah. Tidak perlu kata-kata larangan atau polisi yang menakut-nakuti untuk membuat warga ambil bagian dalam usaha itu. Cukup imbauan yang dikeluarkan Folkhalsomyndigheten (Public Health Agency/PHA).

Meski hanya imbauan, warga Swedia secara tidak langsung menganggap itu sebagai sesuatu yang harus ditaati. Perdana menteri dan raja Swedia beberapa kali muncul dengan pidato heroik namun tenang mengajak warga agar ”menjadi orang dewasa”, punya tanggung jawab individu yang besar dan kewajiban bersama.

Sebab, tingkat kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah dan ilmuwan amat tinggi. Apalagi, PHA adalah lembaga independen berisi ilmuwan, pakar kesehatan, dan epidemiolog yang bisa dibilang ”paling sakti”. Gimana nggak sakti, wong pemerintah tidak bisa intervensi.

Imbauannya bermacam-macam. Sebagian besar sesuai arahan WHO. Mulai physical distancing alias menjaga jarak, mengurangi bepergian jika tidak diperlukan, stay at home, hingga imbauan untuk tidak mengunjungi kakek-nenek di pantai jompo. Para pekerja kantoran juga diimbau untuk bekerja dari rumah.

Bedanya, Swedia memperbolehkan toko-toko, restoran, bar, mal, dan sekolah tetap buka. Tujuannya, perekonomian tak remuk-remuk amat. Hanya siswa secondary school alias SMA dan kuliah yang belajar dari rumah. Alasannya, belum ada bukti ilmiah penularan di antara anak-anak kecil dan remaja. Juga, agar kesehatan mental mereka tetap terjaga selama pandemi dengan tetap berinteraksi dengan kawan-kawannya. Masker pun tak wajib dikenakan.

Swedia menilai pilihan tanpa lockdown lebih sustainable alias berkelanjutan dalam jangka waktu yang lama. Lagi pula, mau sampai kapan mengurung warga dengan lockdown yang ketat jika virus itu bakal tetap berada di luaran sana? Begitu pendapat epidemiolog dari PHA, Anders Tegnell, yang saya baca di media massa.

Sebagai pendatang, awalnya saya juga merasa kebingungan dengan langkah unik Swedia. Di saat semua negara di Eropa, termasuk negara-negara tetangga seperti Denmark, Finlandia, dan Norwegia, menutup perbatasan dan menerapkan pembatasan, Swedia terlihat paling santuy. Orang masih jalan-jalan ke luar atau berlari untuk olahraga. Jika satu jam saja matahari bersinar cerah, tiba-tiba banyak orang terlihat berjemur di halaman. Sesuatu yang mungkin bisa dimaklumi mengingat musim dingin di belahan bumi utara ini hampir 10 bulan lamanya. Kemunculan matahari yang bersinar cerah benar-benar terasa anugerah.

Saya pun terbawa suasana kebebasan yang bertanggung jawab ala bangsa Viking ini. Iya, saya masih bebas keluar dan menikmati hari bila dibandingkan dengan warga Eropa lainnya. Namun, kebebasan itu idak berarti bebas diambil seenaknya tanpa konsekuensi dan kesadaran diri. Kalau nggak kepepet banget belanja, saya tak akan keluar. Kalau ingin jalan-jalan biar nggak stres, saya memikirkan baik-baik mana lokasi yang sepi dan aman.

Ditambah, jauh sebelum virus korona mulai menyebar ke seantero dunia, warga Swedia sudah terbiasa mengantre sembari menjaga jarak satu sama lain hampir 2 meter. Entah itu di halte bus atau dalam kondisi apa pun. Mereka sangat menjunjung tinggi privasi dan personal space. Duduk di kendaraan umum saja jangan sekali-sekali sok pede duduk di sebelah penumpang lain jika masih terlihat kursi kosong.

Akhirnya, physical distancing terlihat lebih mudah dilakukan. Lantaran, lebih dari separo rumah tangga Swedia adalah penghuni tunggal alias tinggal sendirian tanpa orang tua atau anak. Proporsi itu paling tinggi di Uni Eropa. (Oleh ARTIKA RACHMI FARMITA/jawa pos)


*) Mahasiswa S-2 di Stockholm

 

Komentar

Berita Lainnya