oleh

Jagung Triono yang Berbuah Manis Berkat KUR Bank Sumsel Babel

Sumeks.co – Mewarisi lahan orangtuanya, Triono (53), warga RT 06/01 Kelurahan Sukamulya, Kecamatan Sematang Borang telah belajar bercocok tanam sejak kecil. Sepeninggal orangtuanya, Triono bersama adiknya mulai membangi warisan tanah itu dan mengembangkan usaha pertanian yang digelutinya.

Seiring waktu, usaha pertanian yang digeluti Triono di atas lahan seluas sekitar 1,5Ha mulai menampakkan hasil. Dari sanalah ia mulai bisa menghidupi keluarganya. Menyekolahkan kedua anaknya dan berbagi kepada sesama. Triono yang kini menjabat sebagai Ketua RT di tempat tinggalnya termasuk sebagai salah satu petani sukses.

Wartawan sumeks.co yang mendatangi kediaman Triono diajaknya melihat langsung lokasi lahan yang kini tidak lagi difungsikan untuk menanam sayur-mayur. “Sudah sejak 2017-an saya mulai beralih. Menanam jagung, labu dan sekarang ada tambahan melon. Dari sini mulai kelihatan untungnya,”kata Triono membuka penjelasannya.

Pupuk Semangat Berkebun : Eman, Pegawai memberikan pupuk kebun Jagungyang berumur 2 minggu, kebun milik Pak triono Petani yang memanfaatkan KUR Bank Sumsel Babel.

Kontur lahan memang cocok untuk bertanam jagung yang menjadi tanaman utama di lahan yang berada tak jauh dari lokasi Agrowisata Sukamulya itu. Lalu, kenapa jagung? Rupanya setelah lebih dari dua tahun bertanam jagung, Triono yang mulanya belajar kini telah memahami jagung yang memiliki nama latin Zea Mays L.

Jagung sendiri lebih dulu dikenal sebagai tanama asli Benua Amerika. Selama ribuan tahun tanaman ini telah menjadi konsumsi utama suku asli Amerika yang kita kenal dengan suku Indian. Dilansir dari beberapa referensi, jagung dan beberapa tanaman asli lain dari Amerika mulai tersebar ke penjuru dunia melalui penjelajah Spanyol, Christoper Columbus.

Bawa Selang Air: Tejo, menarik selang air untuk sirami kebun melonnya. Anggota kelompok Tani (Gapoktan) Marjasuma sekaligus adik Pak Triono petani Palembang, pengguna layanan KUR Bank Sumsel Babel

Jagung kemudian dibudidayakan oleh petani di berbagai negara. Dari skema penjelajahan ini pula tanaman jagung tiba di Indonesia karena dibawa oleh bangsa Portugis sekitar abad ke-17. Hadirnya jagung menjadi jawaban bagi petani nusantara yang kala itu diceritakan mengalami gagal panen padi karena hama.

Seperti yang dilakukan Triono saat ini, menanam jagung lebih menghasilkan. “Bisa dua kali lipat dari sayur untungnya. Dengan masa panen yang relatif singkat, dalam waktu 60-75 hari,”jelasnya. Jika kembali ke cerita sejarah, jagung kemudian menampakkan nilai ekonomis sehingga tidak lagi menjadi substitusi. Malah menjadi pilihan utama masyarakat sebagai panganan (Wirawan dan Wahab,2007).

Rawat Kebunku: Tejo sirami kebun melonnya, Anggota kelompok Tani (Gapoktan) Marjasuma adik Pak Triono petani Palembang, pengguna layanan KUR Bank Sumsel Babel

Tidak hanya di Jawa, jagung juga digemari di wilayah lain seperti Madura, Nusa Tenggara, Sulawesi, hingga Sumatera. Dimana hampir semua wilayah sudah bertanam jagung. Bukan tanpa sebab. Kemudahan dalam budidaya, tidak perlu perawatan ekstra dan memberikan banyak manfaat, seakan menjadi jawaban untuk petani pada musim paceklik.

Bicara soal manfaat jagung tentu sangat banyak. Seperti yang kita ketahui, di negara maju, jagung diolah dan diambil saripatinya untuk menjadi gula rendah kalori. Dari sisi kesehatan, kandungan gizinya juga dipercaya baik untuk penderita diabetes, menjaga berat badan dan mampu mengatasi konstipasi. Sebagai panganan dan camilan, jagung merupakan bahan dasar popcorn yang kita makan di bioskop.

Melansir alodokter.com, jagung mengandung karbohidrat, protein, serat, sejumlah vitamin yang baik untuk kesehatan. Seperti folat, vitamin A, vitamin, C, dan vitamin B, dan mengandung mineral seperti mangan, kalsium, zat besi, kalium, fosfor, magnesium, seng, dan tembaga. Berdasarkan penelitian, jagung juga diketahui mengandung lebih banyak antioksidan dibanding tanaman biji-bijian lain.

Seiring perkembangan zaman dan hadirnya tekonologi, budidaya jagung di Indonesia kemudian mengalami perkembangan yang pesat. Awalnya, petani jagung di Indonesia menggunakan benih Open Polinated (OP) yang merupakan hasil persilangan terbuka dua galur murni atau lebih yang terjadi dengan bantuan angin atau serangga. Benih ini berasal dari biji jagung hasil panen musim tanam sebelumnya.

Namun kini telah muncul benih jagung hibrida yang juga dipakai oleh Triono dan beberapa rekannya di Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Marjasuma Kelurahan Sukamulya. Dengan benih jagung hibrida, banyak keunggulan yang didapat oleh para petani ini. “Panen lebih cepat, kualitasnya juga lebih baik,”ungkap Triono. Sehingga wajar rasanya jika Triono beralih dari bertanam sayur menjadi bertanam jagung.

Siap Panen: cek jagung menjelang panen. Pak Triono petani Palembang, pengguna layanan KUR Bank Sumsel Babel sejak 2019.

Bukan berarti tak punya kelemahan. Benih hibrida ini, meski lebih cepat panen dan berkualitas, namun hanya bisa digunakan dalam sekali tanam. Tidak seperti benih OP yang bisa sampai lima kali tanam. Sebab, turunan dari benih hibrida ini tidak lagi memiliki sifat unggul dari sang induk. “Kebetulan kondisi lahan sesuai. Paling tidak dalam setahun tiga-empat kali panen,”bebernya.

Dari 1,5 Ha lahan milik Triono, 1 Ha digunakannya untuk bertanam jagung sementara sisanya digunakan untuk bertanam melon. Menguntungkan. “Jelas menguntungkan,” ujarnya. Permintaan pasar akan jagung cukup tinggi. Ia mencontohkan misalnya untuk perayaan malam pergantian tahun, sampai untuk pakan ternak, jagung telah memberinya penghidupan yang baru.

Tidak langsung berhasil. Triono juga bercerita tentang kesulitan yang dialaminya semenjak bertanam jagung. Seandainya tak bergabung dengan Gapoktan, mungkin Triono tidak bisa menjadi seperti sekarang. Dengan bergabung ke Gapoktan Marjasuma, ia belajar. Di kawasan ini ada 10 kelompok tani yang memiliki kesamaan tujuan dan latar belakang.

Disini mereka dibantu oleh Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Palembang melalui Balai Penyuluhan Sekojo. Fasilitas yang diberikan diantaranya adalah penguatan kelembagaan, pembinaan organisasi, mendorong dan membimbing para petani termasuk Triono dengan tujuan meningkatkan kapasitas SDM melalui penyuluhan dan pelatihan.

Seiring pengalaman yang dimilikinya sejak SMA, pengetahuan Triono tentang bercocok tanam dan bertani juga mulai bertambah dan terasah berkat ilmu baru. Hanya saja memang untuk mendapatkan hasil yang maksimal, ia dan petani lain membutuhkan modal usaha. Dukungan modal ini sangat penting agar hasil pertanian dan pendapatannya meningkat.

Di Gapoktan Marjasuma sebetulnya sudah ada bantuan dari pemerintah. Hanya saja, dengan jumlah petani yang ada, bantuan itu tidak signifikan mengembangkan usaha pertanian Triono dan rekannya sesama petani. “Dana bantuan yang diterima harus dibagi. Jadi masih belum maksimal,”katanya. Hal inilah yang membuat Triono putar otak.

Bersama rekannya pula, Triono mencari informasi. Beruntungnya, ia langsung diarahkan untuk memaksimalkan program Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari PT Bank Pembangunan Daerah Sumatera Selatan dan Bangka Belitung (Bank Sumsel Babel). Bantuan inilah yang kemudian dimanfaatkan Triono mengembangkan usaha taninya sejak dua tahun kebelakang.

“Awalnya mencoba pada tahun 2018, disitu saya diberi bantuan Rp10 juta,”terang Triono.  Cerita suksesnya baru saja dimulai. Modal yang sudah dimiliki sedikit banyak membantu pengembangan lahannya. Untuk pembelian benih, pupuk, dan perawatan lahan. Sebagian lagi bisa untuk memenuhi kebutuhannya.

Jual Online: Anak dan keluarga Pak Triono layani pembelian hasil kebunnya secara online,Pak Triono merupakan petani Palembang, pengguna layanan KUR Bank Sumsel Babel

Dikatakan Triono, setidaknya ada 125 petani yang ikut memanfaatkan program ini termasuk dirinya, dengan bantuan KUR sebesar rata-rata Rp 20 juta. Mereka ada yang bertanam jagung, melon, semangka, ubi dan lain-lain yang sesuai dengan  mulai dari petani jagung, melon, semangka, ubi, Laos dan lainnya saat ini telah menjadi mitra binaan Bank Sumsel Babel.

Hal yang membuat Triono senang saat menerima bantuan ini adalah kelebihan yang dimilikinya. Untuk petani, pihak Bank memperbolehkan pembayaran setelah panen. Hal inilah yang menjadi nilai lebih yang membuat Triono dan beberapa rekannya terbantu. Ia menjadi lebih fokus untuk bertani, tanpa memikirkan angsuran pembayaran.

“Jadi bantuan itu biasanya kami gunakan untuk modal awal di musim tanam pertama,”jelasnya. Dalam dua kali panen, bantuan KUR itu berhasil dilunasinya. Sehingga melalui keuntungan panen yang bisa sampai empat kali dalam satu tahun, Triono bisa menabung dan mencukupi kebutuhan keluarganya, termasuk menyekolahkan anak pertamanya hingga tamat kuliah.

Pada tahun kedua, melihat hasil panen yang cukup baik, Bank Sumsel Babel kemudian menggelontorkan dana bantuan KUR sebesar Rp25 juta bagi Triono. Dengan memanfaatkan dana inilah, Triono tidak hanya meningkatkan produksi lahannya, tetapi juga penjualan yang dilakukan secara online. “Anak saya tadi yang membantu menjual online,”ungkapnya.

Beri Pupuk: Eman, memberikan pupuk kebun jagung, pegawai Pak Triono petani Palembang, pengguna layanan KUR Bank Sumsel Babel

Pilihan berjualan hasil tani secara online ini merupakan salah satu inovasi yang dilakukannya, sehingga saat masa pandemi Covid-19 ini, Triono merasa tidak terlalu terdampak. Saat panen, penjualan juga bisa ditingkatkan sebab di dekat lokasi lahannya itu terdapat wisata edukasi Agrowisata dimana masyarakat tidak hanya datang dan belajar, tetapi juga belanja hasil tani dari Triono dan petani lain.

Melihat peran perbankan yang dimanfaatkan oleh Triono dan rekannya sesama petani, beberapa waktu lalu Dirut Bank Sumsel Babel, Achmad Syamsudin saat diwawancara awak media pada awal Oktober 2020 lalu pernah mengungkapkan, pihaknya menyiapkan dana KUR sebesar Rp500 Miliar. Jelang akhir tahun, dana itu telah diserap dan dimanfaatkan masyarakat sehingga tersisa Rp200 Miliar.

Tidak hanya petani, tetapi juga pelaku usaha menerima KUR dari Bank Sumsel Babel yang berdampak pula kepada jumlah serapan tenaga kerja di Sumsel dan Babel. “Jadi kalau KUR-nya hidup maka semua orang bisa terbantu,”katanya. Ada tiga produk KUR UMKM di Bank Sumsel Babel, yaitu KUR Supermikro, KUR Mikro dan KUR Small atau Biasa.

KUR Super Mikro memiliki plafon maksimal Rp10 juta, KUR Mikro memiliki plafon Rp10 juta- Rp50 juta dan KUR Small atau Biasa memiliki plafon Rp50 juta- Rp500 juta. Dijelaskan pula oleh Achmad Syamsudin jika Bank Sumsel Babel ingin membantu dam memudahkan masyarakat, dimana untuk petani pembayaran bisa dilakukan setelah panen atau dikenal dengan sistem bayar panen.

Upaya Bank Sumsel Babel ini, lanjutnya merupakan komitmen untuk meningkatkan produksi dan kesejahteraan masyarakat. Di Sumsel, sektro pertanian, perkebunan menjadi yang utama dalam menyerap KUR ini. sebentara di Babel, sektor perdagangan sedikit lebih besar. “Ini merupakan komitmen kami kepada masyarakat,”ungkapnya.

Cerita Triono menunjukkan jika ekosistem pertanian disini telah terbentuk. Kerjasama antara pemerintah, perbankan dan petani telah memberikan harapan bagi warga Sematang Borang, khususnya di Kelurahan Sukamulya tempat Triono yang sebagian besar berprofesi sebagai petani, untuk meningkatkan taraf ekonominya.(aja)

 

Komentar

Berita Lainnya