oleh

Jam Sekolah, Besok Masuk Pukul 8 Pagi dan Pulangnya 13.30 

Turut prihatin dan merasakan hal yang sama dengan siswa-siswi pelajar di kota Palembang dalam menghadapi kabut asap, Wakil Walikota Palembang Fitrianti Agustinda secara langsung bertindak.

Caranya, dengan membagikan masker kepada peserta didik Sekolah Sekolah Menengah Pertama (SMP) 53.

Mengantisipasi kabut asap, Wakil Walikota juga menyatakan bahwa besok akan diberlakukan jam masuk sekolah yaitu pukul 08.00 Wib. 

“Jika di hari normal (tidak ada kabut) tetap pukul 6.30 Wib. Nah, disaat musim kabut ini sekolah akan masuk lebih siang,” ungkapnya. 

Untuk SD dan SMP pukul 8, dan pulangnya akan direncanakan pukul 13.30 sesuai keputusan Dinas Pendidikan yang akan mengeluarkan.

“Kalau memang keadaan sangat berbahaya maka sekolah akan diliburkan,” tegasnya.

Itu pun harus mengingat arahan dinas terkait yang sudah melakukan dan memberikan keterangan dengan hasil penelitiannya.

“Untuk guru tetap  lebih awal masuk sebelum siswa melakukan kegiatan belajar-mengajar,” jelas Wawako, Senin (16/9) saat berkunjung ke SMP 53 Palembang.

Jika keadaanya semakin memburuk maka guru juga diberlakukan untuk masuk siang sesuai aturan dari Dinas terkait.

Ia juga menambahkan, tidak hanya di SMP 53 dibagikan masker. Ada banyak sekolah yang mendapatkan masker, yaitu di  SD, SMP negeri dan Swasta.

“Untuk SMP 53 sudah kita bagikan sebanyak 800 masker dan di titik lain rencana akan kita bagikan di simpang DPRD Provinsi  untuk masyarakat pengguna jalan,” ungkapnya. 

Menurut Wawako, sampai saat ini kondisi udara di kota Pembang masih baik.

“Untuk sekolah yang memberlakukan jam pengajaran siang, saya akan koordinasi kepada Dinas Pendidikan untuk dibahas lebih lanjut bagaimana pembagian sistem belajar mengajarnya,” tambahnya.

Disamping soal masker Fitri juga mengimbau kepada sekolah yang menerapkan sistem uang infak kepada setiap murid untuk tidak lagi diberlakukan.

Karena metode yang diterapkan kurang efektif, pasalnya jika kita ingin mengajarkan ilmu agama kepada siswa tidak harus seperti ini metodenya karena saya melihat nilai nominalnya sudah ditetapkan sebesar 3 ribu rupiah.

“Alangkah baiknya jika kita melakukan pelatihan dengan mengajari mereka untuk bersedekah dengan menyisihkan berapa saja uang saku mereka untuk dimasukan ke kotak amal musolah yang ada di sekolah mereka masing-masing,” tutupnya. (ril/jul)

Komentar

Berita Lainnya