oleh

Jebolan ASG Bisa Berkiprah di Olimpiade

JAKARTA – Ada ekspektasi besar dari Deputi IV Kemenpora Bidang Peningkatan Prestasi Olahraga terhadap pelaksanaan ASEAN School Games (ASG) 2019 pada17-25 Juli 2019 di Semarang. Diharapkan, jebolan dari ASG ini bisa menjadi andalan Indonesia di Olimpiade Tokyo 2020 atau Olimpiade Paris 2024. Karena itu, multieven antaratlet pelajar se-Asia Tenggara itu diharapkan jadi candradimuka para atlet muda kembangkan skil.

“Kami berharap ASG ini angkat pamor atlet kita. Kami berharap atlet yang mewakili di ASG ini menjadi bibit unggul nantinya mewakili Indonesia di event internasional. Sesuai program Kemenpora, ASG diharapkan menghasilkan atlet berkualitas yang kemudian menjadi andalan Merah Putih di Olimpiade 2020 dan Olimpiade 2024 bahkan Olimpiade 2032,” ungkap Sekretaris Deputi IV yang juga Waketum Badan Pembina Olahraga Pelajar Seluruh Indonesia (Bapopsi) Marheni Dyah Kusumawati pada Rapat Koordinasi Pelatnas dan Peliputan ASG 2019 di Gedung PPITKON Kemenpora Senayan, Jakarta Pusat, Rabu (3/7).

Hadir dalam rapat ini CdM ASG Yayan Rubaeni, Sekretaris Panpel ASG Bambang Siswanto, dan Direktur Media ASG Isa Asyhari. Menurut CdM ASG Yayan, di ASG atlet bisa mencapai transisi dari junior ke senior. Namun, prestasi di ajang ini nomor dua. Yang lebih utama dari ajang ini adalah mempererat solidaritas dan persahabatan antar atlet di ASEAN.

“Ini yang menjadi pembeda dari even lainnya. Semua peserta di ASG dilarang pulang setelah selesaikan game. Mereka diwajibkan stay di Semarang sejak 17 sampai 15 Juli. Selama di sana, selain bertanding mereka juga akan ditanamkan nilai-nilai ke-ASEAN-an dan pengenalan budaya tuan rumah akan jadi program utama. Kemudian ada juga jumpa fans dengan interaksi pelajar bersama pelajar Semarang kemudian kunjungan ke museum tekstil, lawang sewu, dan Candi Borobudur,” ucap Yayan.

Pada ASG edisi ke-11 ini, ada 1.600 atlet dari 10 negara yang ikut dalam ajang ini. Sementara ofisial ada 1.200. Total ada 2.800 untuk atlet dan ofisial. Ke-10 negara itu adalah Malaysia, Thailand, Singapura, Brunei Darussalam, Vietnam, Filipina, Laos, Kamboja, Myanmar, dan Indonesia sebagai tuan rumah.

Indonesia sendiri mengirimkan 250 orang terdiri 183 atlet, 38 pelatih, 9 manajer, dan 20 ofisial. Untuk atlet rata-rata berusia 17 hingga 18 tahun. Kemudian ada yang berusia 14 tahun empat orang. ASG memang menjadi panggung atlet berusia maksimal 18 tahun. Nanti juga akan diberikan suntikan motivasi dari para mantan atlet berprestasi macam Suryo Agung.

Demi mengejar juara umum kali kedua di ASG, Indonesia menargetkan 36-38 emas dari 117 nomor yang dipertandingkan. Keran emas diharapkan bisa disumbangkan dari atletik (8-10), renang (12-14), bulu tangkis (4), bola voli (1), bola basket (1), tenis (2), pencak silat (6). Total ada 9 cabang olahraga yang dipertandingkan. Acara ini akan dibuka pada 18 Juli di stadion sekolah kemudian penutupan di Pelataran Candi Borobudur pada 24 Juli.

“Atlet butuh aklimatisasi di Semarang. Karena itu, nanti atlet akan ke sana lebih cepat. Bahkan saat ini cabor bola basket dan bola voli sudah TC di Semarang. Kemudian menyusul pencak silat 5 Juli, tenis pada 7 Juli, lalu renang, sepak takraw, tenis meja rombongan ke Semarang pada 11 Juli. Diharapkan 11 Juli semua atlet sudah di Semarang untuk adaptasi cuaca dan pengukuhan dilakukan di Semarang pada 17 Juli,” terang Yayan.(kmd)

Estimasi Medali Emas di ASG 2019
Atletik 8-10 emas
Renang 12-14 emas
Bulu Tangkis 4 emas
Bola voli 1 emas
Bola basket 1 emas
Tenis 2 emas
Pencak silat 6 emas
Tenis meja?
Sepak takraw?

Komentar

Berita Lainnya