oleh

Jelang Kongres, 9 Caketum Suarakan Perlawanan

JAKARTA – Sabtu ini (2/11), PSSI menggelar Kongres di Hotel Shangrila, Jakarta. Agendanya, pemilihan ketua umum, dua wakil ketua umum, dan 12 anggota komite eksekutif (Exco) periode 2019-2023. Untuk posisi ketua umum diperebutkan 11 orang, kemudian 15 orang perebutkan posisi dua wakil ketua umum, dan 71 orang berebut menduduki 12 kursi anggota Exco.

Salah satu calon anggota Exco dari Sumatera Selatan, Nirmal Dewi, memiliki harapan di Kongres PSSI kali ini. Rapat tertinggi anggota PSSI itu berjalan lancar. “Semoga Kongres berjalan lancar dan normal. Memang ada protes yang dilakukan calon ketua umum tapi saya yakin semua akan baik-baik saja. Mereka itu semuanya orang hebat. Punya semangat yang sama untuk membawa sepak bola ke arah lebih baik,” ungkap mantan Direktur Marketing Sriwijaya FC ini.

Kemarin (1/11) atau sehari sebelum kongres, sembilan calon ketua umum melakukan jumpa pers di sekitar Senayan. Mereka adalah Arief Wicaksono, Aven Hinelo, Bernhard Limbong, Benny Erwin, Fary Djemy Francis, Rahim Soekasah, Sarman El Hakim, Vijaya Fitriyasa, dan Yesayas Oktavianus. Sementara Mohammad Iriawan dan La Nyalla Mattalitti tidak ikut ambil bagian. Mereka bersatu memprotes tata cara pelaksanaan kongres yang dijalankan ala kadarnya. Mereka juga mencium ada aroma permainan uang di kongres ini.

“Kita bersepakat mengajak voters agar tergerak hatinya bersama-sama berjuang agar Kongres berjalan sebagaimana yang kita mimpikan. Kita sudah tahu, kita sudah dengar, kita punya pengalaman di kongres sebelumnya, dimana terjadi ya kita katakan juga tercium permainan money politik, ada semacam indikasinya, pergerakan dari Exco yang masih terus mempertahankan ya,” ujar caketum Fary Djemy Francis.

Atas kondisi ini, dia menghimbau yang pertama kepada voters agar betul-betul mengkritisi, supaya kongres ini berjalan dengan bersih. Yang kedu, kita juga menginginkan supaya proses pemilihan ini berjalan sebagaimana Statuta FIFA. Mengingat, apa yang sudah dijanjikan menyangkut sosialisasi, voters, menyangkut tata cara pemilihan, semua tidak dilaksanakan. Kemudian janji dipertemukan dengan voters untuk menyampaikan visi dan misi juga tidak dilaksanakan.

“Yang paling penting juga sampai sekarang pun dalam masa kampanye kita tidak tahu siapa votersnya, dan yang kedua kita tidak tahu tata cara pemilihannya. Ini yang kita ajak kepada voters untuk mencoba mendalami proses pemilihan ini. Kita juga mengimbau kepada FIFA untuk betul-betul melakukan observasi sehingga perjalanan kongres ini bisa berjalan sesuai dengan apa yang menjadi harapan kita semua,” jelasnya.

Djemy juga menyinggung pemerintah agar tidak terlalu intervensi. Dia berharap, Kemenpora mengawal, mengawasi, dan membina federasi. “Kami bersepakat yang 9 ini, kita maju tanpa ada iming-iming, tanpa ada gerakan-pergerakan yang berkaitan dengan money politik, itu komitmen kami. Kami mau sama-sama maju dalam satu gerbong menuju PSSI baru, soal nanti siapa yang akan memimpin, siapa yang akan menjadi ketua umum itu kemudian. Kita mau kongres ini berjalan sesuai apa yang diharapkan. Tapi niat kami untuk memperbaharui PSSI itu yang kami utamakan sehingga kami berkumpul di sini,” tukasnya.

Vijaya menambahkan, ketum PSSI baru diserahkan kepada dinamika saat berkongres. Semua diserahkan kepada voter yang memiliki kedaulatan. “Kita menghimbau voters untuk tidak lagi terjebak pada lingkaran setan yang selama ini sudah berlangsung turun menerus di kongres PSSI. Kit mulai dengan suatu semangat, inilah momentum kita untuk memperbaiki PSSI. Kita berkomitmen kenapa 9 orang yang di sini bersepakat untuk maju bersama menghadapi kongres ini karena kita tidak mau lagi pengurus-pengurus lama yang sudah jelas-jelas gagal sebagai pengurus, yang sudah jelas terlibat dalam kasus mafia bola untuk tidak lagi duduk di PSSI, itu aja komitmen kita,” ujar pemilik saham mayoritas Persis Solo ini. (kmd)

Komentar

Berita Lainnya