oleh

Jenazah Korban Covid1-19 Dimakamkan Mandiri Pihak Keluarga

Telantar 4 Jam Dalam Mobil Ambulan

MUARA ENIM – Keseriusan pemerintah menangani Covid-19 perlu dipertanyakan. Soalnya sesuai protap pemakaman pasien meninggal Covid-19 harus dimakamkan oleh petugas gugus tugas tanpa mengikutsertakan pihak keluarga. Namun, berbeda cerita dengan pasien positif Covid-19 di Kabupaten Muara Enim, tepatnya di Desa Suban Jeriji, Kecamatan Rambang Niru, yang meninggal Jumat (3/7) malam lalu.

Penanganan pasien meninggal yang juga merupakan nenek salah seorang anggota DPRD Kabupaten Muara Enim itu diduga tak sesuai protap karena tanpa didampingi petugas medis dari rumah sakit dan tim gugus tugas Covid-19 saat pengantaran jenazah serta proses pemakaman.

Akibatnya jenazah pun dimakamkan inisiatif secara mandiri oleh pihak keluarga dan perangkat desa setelah jenazah sempat terlantar hingga 4 jam didalam mobil ambulan.

Berdasarkan informasi yang didapat dari keluarga korban, pasien positif dengan nomor kasus 1910, perempuan usia 66 tahun meninggal di rumah Sakit dr HM Rabain Muara Enim pada Jumat (4/7) sekitar pukul 21.00 WIB dan dinyatakan positif Covid-19 oleh pihak rumah sakit.

Lalu pihak rumah sakit langsung mengantarkan pasien meninggal ke rumah duka di Desa Suban Jeriji, Kecamatan Rambang Niru, Muara Enim diduga tidak mengkonfirmasi terlebih dahulu dengan keluarga pasien dan kesiapan di lapangan kapan waktunya jenazah akan diantar.

Ironisnya, pasien yang meninggal tersebut diantar tanpa didampingi petugas medis satupun dan tim gugus tugas penanggung jawab terhadap proses penguburan jenazah. Jenazah hanya diantar oleh seorang sopir ambulan.

“Mobil jenazah berangkat dari rumah sakit Rabain jam 1 malam dan tiba di rumah duka sekitar jam 5 subuh. Jenazah tidak diturunkan dari ambulan hingga 4 jam, kerena tidak ada petugas medis dan petugas penanggung jawab terhadap proses penguburan jenazah. Hanya diantar sopir ambulan dari rumah sakit,” ujar Dery Firmansyah Putra keluarga pasien yang juga anggota DPRD Kabupaten Muara Enim kepada awak media, Sabtu (4/7).

Setelah tiba dirumah duka, kata dia, jenazah sempat terlantar hingga 4 jam karena pihak keluarga bingung tidak ada petugas medis dan tim penanggung jawab penguburan yang ikut serta. Sehingga keluarga menunggu kedatangan tim medis dan gugus tugas sampai jam 7 pagi. “Sampai jam 7 pagi belum juga datang tim medis. Saya coba minta bantuan puskesmas Kecamatan Niru. Namun pihak puskesmas Niru mengaku mengalami kekosongan APD.

Kemudian saya mengubungi pihak puskesmas Emburung, kurang lebih jam 10 datang tiga orang petugas dari puskesmas Emburung,”ucapnya.

Ternyata ketiga petugas puskesmas yang datang tidak sanggup untuk melaksanakan memakamkan dengan alasan kurang tenaga dan menyerahkan proses pemakaman kepada pihak keluarga. Namun, petugas tersebut membekali sebanyak 10 pakaian APD kepada pihak keluarga untuk melakukan proses pemakaman.

“Proses pemakaman seluruhnya ditangani pihak keluarga pasien, memang saat proses pemakaman berlangsung ada petugas dari puskesmas yang mengarahkan saat pelaksanaan proses pemakaman. Selain itu ada juga anggota koramil dan polsek, kepala desa Suban Jeriji serta gugus covid kecamatan tapi mereka hanya pendampingan dan pemantauan,”ungkapnya.

Atas peristiwa tersebut, Dery pun menyayangkan tindakan tim Satgas Covid-19 yang dinilainya ceroboh bahkan terkesan menyepelehkan protap penanganan pasien meninggal Covid-19 yang dibuat pemerintah. “Mulai dari pemeriksaan, penanganan hingga pemakaman semua ada protap covid yang dibuat pemerintah. Dalam kejadian tersebut menunjukan pemerintah tidak serius dalam penanganan Covid-19,” tegas Deri dengan nada tinggi.

Lanjutnya, seharusnya tim gugus tugas Covid-19 memberikan contoh yang baik bagi masyarakat yang notabenenya memiliki peran penting dalam penanganan Covid-19. Jika pasien dinyatakan positif meninggal, kata Deri, maka harus dimakamkan dengan protap covid.

“Kejadian ini kami harap tak terulang lagi, apalagi saat ini kondisi wilayah Kabupaten Muara Enim sudah dua kecamatan zona merah artinya penanganan kasus demi kasus harus serius jangan malah memperburuk kondisi yang berpotensi penyebaran lebih luas,”tegasnya.

Senada, anggota DPRD Muara Enim dari Fraksi Golkar Bonny Noprian Pratama SH, turut menyayangkan dengan fakta terkait buruknya penanganan pasien meninggal Covid-19 di Desa Suban Jeriji. Terlebih pasien yang meninggal tersebut merupakan keluarga salah seorang anggota DPRD Muara Enim.

“Sangat disayangkan kalau penanganan pasien meninggal seperti itu. Bagaimana kalau kejadian tersebut menimpah masyarakat tidak mampu,” tegas Bonny.

Menurutnya, harusnya proses pemakaman dilakukan seutuhnya oleh petugas gugus tugas Covid-19 yang lebih paham protap bukan menyerahkan kepada pihak keluarga. Padahal Pemerintah Kabupaten Muara Enim telah gelontorkan anggaran Covid-19 cukup besar. “Atas kejadian ini, dalam waktu dekat dewan akan panggil perwakilan tim gugus tugas Covid-19 Muara Enim untuk dimintai klarifikasi langsung,” terangnya.

Sementara Juru Bicara Satgas Covid-19 Kabupaten Muara Enim, Panca Surya Diharta membenarkan pengantaran jenazah positif Covid-19 tersebut tanpa didampingi petugas medis. “Pengantaran jenazah oleh pihak rumah sakit menggunakan mobil jenazah dengan sopir,”kata Panca, dihubingi via Whatapps, Sabtu (4/7).

Menurutnya, hal tersebut terjadi karena adanya miss komunikasi antara petugas dan keluarga pasien sehingga tim satgas belum siap termasuk juga petugas dan keluarga pasien berada didesa. Pihaknya juga membantah pemakaman dilakukan tanpa sesuai protokol Covid-19 dan dihadiri petugas dilapangan.

“Jenazah telah dimakamkan sesuai protokol Covid-19 yang juga dihadiri dari anggota Koramil 5 orang, dari Polsek 3 orang dan dari puskesmas Muara Emburung yang melaksanakan penguburan dari keluarga dan masyarakat,”jelasnya.(ozi)

Komentar

Berita Lainnya