oleh

Juara Dunia Pencak Silat Jadi Tukang Suwun di Pasar Badung

Habis manis sepah dibuang. Pepatah ini banyak dirasakan para mantan atlet Indonesia. Diperlakukan istimewa pemerintah pada masa jayanya. Namun, terlupakan begitu saja ketika masuk usia senja.

NI WAYAN BADENGWATI sangat wellcome ketika menerima Bali Express (Jawa Pos Grup) berkunjung ke rumahnya, di Jalan Indrajaya, Gang III Nomor 9, Banjar Tegal Kangin, Desa Uma Anyar, Ubung Kaja, Denpasar Utara.

Senyumnya semringah saat disinggung mengenai pencak silat. Namun tak banyak memori-memori indahnya soal pencak silat, yang bisa dia ingat. Namun, cerita indah Badengwati layak menjadi salah satu bagian indah dari perkembangan dunia pencak silat Bali.

Ya, dia adalah Badengwati. Ibu empat anak yang sangat sederhana. Dia adalah mantan juara dunia pencak silat dan juga juara nasional. Kini, di usianya yang sudah 58 tahun, Badengwati seperti ‘terlupakan’. Padahal, kerja kerasnya dulu sempat membanggakan nama Bali dan juga Indonesia di dunia bela diri pencak silat.

Dan yang membuat hati terenyuh, meski statusnya atlet berprestasi, justru kehidupannya jauh dari kata layak. Badengwati sempat menjadi tukang suwun di Pasar Badung.

“Waktu remaja saya hijrah ke Badung (sekarang Denpasar). Asal saya dari Desa Angantelu Karangasem. Pada saat itu saya diajak saudara kerja jadi tukang suwun. Ongkosnya Rp 5-15. Nah, waktu jadi tukang suwun itu, saya sempatkan berlatih silat Bhakti Negara saat waktu luang. Yang mengajak namanya pak Nengah Oncegan yang sekaligus menjadi guru saya,” ujar Badengwati yang sama sekali tidak pernah belajar baca-tulis ini.

Getol berlatih silat, Badengwati sampai di level atas, dimana namanya dimasukkan dalam persiapan Bali menghadapi Pra-PON ke-X pada tanggal 8-11 Januari tahun 1981 di Denpasar dengan turun di kelas 55-60 kg dewasa putri. Tanpa diduga, Badengwati sukses menjungkalkan lawannya dan ia berhak mengantongi tiket PON X. Berlanjut di olahraga multi event bergengsi nasional itu, nama Badengwati mencuat. Wakil dari Aceh, Sumatera Utara dan Jawa Barat ia libas yang otomatis menasbihkan namanya menjadi sang jawara.

Berkat prestasinya itu, Badengwati dilirik oleh PB IPSI (Ikatan Pencak Silat Indonesia) yang dipersiapkan menjadi bagian dari timnas Indonesia untuk kejuaraan dunia tahun 1982 di Jakarta. Setali tiga uang, Badengwati kembali menunjukkan keperkasaannya dan sukses meraih medali emas untuk Indonesia.

“Seingat saya, lawan di final kejuaraan dunia itu dari Malaysia. Waktu dulu belum ada kategori seni, yang ada hanya kelas laga. Lawan sparring saya dulu justru laki-laki setiap kali latihan. Saya hanya mengandalkan tenaga saja,” tegasnya.

Sayang, kehidupan Badengwati tak semulus prestasinya. Kerasnya kehidupan dan kurangnya perhatian dari pemerintah, membuat Badengwati kembali ke dunia awalnya. Ya, menjadi tukang suwun di Pasar Badung.

Mengingat ia tidak pernah mengenyam pendidikan, juga membuat kehidupannya tak semulus teman seangkatannya dulu yang ia sebutkan sudah menjadi orang kantoran.

“Dulu pernah saya dikasih uang hadiah atau istilahnya bonus sebesar Rp 300 ribu. Zaman itu, sudah sangat banyak. Saya pernah bertemu dengan Pak Presiden Soeharto dan juga Gubernur Bali saat itu, Bapak Ida Bagus Mantra. Baru-baru ini, saya sempat dapat bantuan dari Pemprov Bali dan juga sembako,” kenangnya.

Sekarang, tak banyak yang bisa ia kerjakan. Bisa dibilang kerjaannya serabutan. Kadang, ia sering diajak setiap ada event-event kejuaraan pencak silat kelas lokal. Seperti merapikan matras, membawakan snack untuk tamu dan kerjaan kasar lainnya.

“Semenjak kaki saya patah, saya sudah selesai jadi tukang suwun. Kadang buat porosan di rumah, ya biar ada tambahan saja,” terangnya.

Kini, dalam menikmati usia tuanya, Badengwati hanya berdiam diri di rumah sembari mengurus cucu-cucunya. Namun, ilmu beladiri pencak silat dalam dirinya diturunkan keempat orang anaknya serta cucunya. (bx/dip/man/JPR)

Komentar

Berita Lainnya