oleh

Jubir Covid-19, Orang Bikin Petisi Tidak Paham Kesehatan

MURATARA – Tanggapi 18 point petisi yang disampaikan paramedis RSUD Rupit, juru bicara tim gugus tugas Covid-19 Pemda Muratara, menuding petisi itu dibuat orang yang tidak paham kesehatan.

Susyanto Tunut Juru bicara tim gugus tugas Pemda Muratara, Selasa (28/4) sekitar pukul 15.00 WIB, saat ditemui di ruangannya mengungkapkan. Petisi yang ditandatangani 251 tenaga medis RSUD Rupit mengenai mekanisme penganan pasien covid-19 itu tidak jelas.

“Ini ibarat kata menepuk air di dalam dulang dan kena ke muka mereka sendiri. Semua point yang di sampaikan ini sudah dipenuhi semua, jadi yang buat petisi ini tidak paham kesehatan dan tidak pernah ke rumah sakit,” ucapnya.

Dia menyampaikan, point isi petisi menjalin kerjasama dengan TNI dan Polri dalam penanganan Covid-19 dan pemenuhan APD Copid-19 di RSUD Rupit. “ini yang bikin petisi orang yang tidak paham. Tim gugus tugas sendiri wakilnya dari Polri dan TNI, untuk APD di RSUD rupit sudah kita berikan lebih banyak dari pusat kesehatan lainnya,” ujarnya.

Sebelumnya, dia menyampaikan Bupati dan tim gugus tugas sebelum menyiapkan RSUD Rupit dalam penanganan Covid-19, sudah membuat sekenario penanganan. Jika pasien Covid-19 harus di tangani bagaimana, masuk keruangan dan isolasi di mana.

“Semua itu sudah disampikan sangat jelas, pasien PDP yang di sana kita taruh di ruang VIP yang steril dan di isolasi secara khusus. Artinya ini ditunggangi, yang bikin petisi inisialnya B binnya B (orang sama, red),” timpalnya.

Dia menegaskan RSUD Rupit merupakan pusat pelayanan kesehatan milik Pemerintah. Sehingga tidak etis jika petugas medis membuat aturan sendiri di luar wewenang Pemerintah.

“Ada poitn menolak keras limbah gugus tugas Covid-19, RSUD itu pemerintah yang punya. Kita ada MOU pengangkutan limbah medis ke Jambi, jadi libah itu sengaja di taruh sementara untuk di musnahkan di jambi,” tegasnya.

Susyanto meminta, petugas medis di RSUD rupit tidak terpancing dengan suasana panik buying covid-19. Sehingga menolak penanganan pasien Covid-19. “ini ada mekanisme, warga kita sakit datang minta pelayanan ya harus dilayani. RSUD kita itu seperti kotak P3K, berikan pertolongan pertama. Jika gawat, rumah sakit rujukan Covid-19 ada,” tutupnya.

Sementara itu, isi 18 point petisi para medis itu diantaranya meminta di penuhinya APD Covid-19, memberikan suplemen gizi tambahan untuk paramedis, menempatkan petugas scening, menjalin kerjasama dengan TNI dan Polri, rapidtes seluruh pegawai RSUD rupit.

Membuat SOP penanganan pasien Covid di RSUD rupit, memisahkan alat x-ray pasien covid-19, menolak RSUd rupit jadi lokasi penampungan limbah gugus tugas Covid-19, tidak tersediannya ruang isolasi yang layak pasien covid-19.

Transfarasi hasil rapidtes dan swabtes tanpa intervensi pihak manapun, pengawasan PDP dan ODP di ruang kusus dn diawasi petugas Covid-19, pasien covid OTG harus di temoyatkan di rumah sehat bukan di Ruah sakit, penugasan tim Covid-19 di RSUD Rupit harus sesuai kompetensi petugas.

Memperjelas hak petugas Covid-19, menyiakan rumah singgah untuk petugas Covid-19, adanya kebijakan RSUD Rupit untuk kerjasama dengan TNI dan Polri dalam penanganan pasien covid-19.(cj13)

Komentar

Berita Lainnya