oleh

Jurai Suku Semidang Ungkap Makna Terpendam “Ngumah baghi” di Desa Plang Kenidai, Pagaralam

SUMEKS.CO – Plang Kenidai merupakan desa warisan budaya dari masyarakat Pagaralam, Sumatera Selatan yang masih terjaga.

Desa yang dihuni suku semidang itu masih menyimpan ragam kearifan lokal. Seperti satu yang masih bisa dijumpai, Ghumah Baghi (rumah lama).

Tersisa 17 unit rumah yang masih utuh 80 persen. Lengkap dengan ornamen-ornamen buatan masyarakat suku semidang. Seperti, pahatan di dinding kayu, sekat tanpa paku, interior dan juga ruang-ruang di dalam rumah lainnya.

Diungkapkan oleh Jurai (ketua suku semidang) Plang Kenidai, Chozali (72). Rumah panggug yang membumbung tinggi ke angkasa itu diperkirakan berusia dua abad.

Chozali (72), keturunan ke 43 Sipahit Lidah

Representasi adat masyarakat Pagaralam yang menjunjung tinggi nilai ketaqwaan, kebersamaan dan kehormatan diri.

Itu tersirat dalam pahatan di dinding rumah yang terbuat dari kayu. Seperti pahatan melingkar dibadan rumah yang dinamakan kencane mandulike.

Pahatan kencane mandulike itu mengartikan, lingkaran masyarakat yang menciptakan kehangatan rumpun berkeluarga.

Begitupun pahatan yang terdapat di kayu pasak yang ada pada setiap siku rumah. OMengartikan kelas dan identitas pemilik rumah.

“Dulu bila mana semakin besar rumah ialah petinggi di suku itu. Orang tidak sembarang masuk kesana. Ada tingkatan, mana ruang tamu, anak gadis, anak laki, dan kepala keluarga,” ungkapnya kepada SUMEKS.CO saat dibincangi dirumahnya. Jumat (19/10/2020) Malam.

Pahat kayu rumah Pagar Alam

Keturunan ke 43 dari Serunting Sakti (Sipahit Lidah) itu menuturkan desa yang berada di kaki gunung api dempo (GAD) pada zaman itu cukup maju.

Dimana masyarakat sudah menerapkan ilmu pertanian, berdagang, pendidikan, kesenian, adat istiadat bersosial secara mandiri.

“Lihat saja bagaimana cara mereka bertani, hamparan sawa membentang luas tertata rapi. Desain rumah mereka modern pada saat itu, pantas bila di sebut maju. Seperti juga halnya tersedia batu sumpah, yang di jadikan pengadilan masa itu. Mereka telah mengenal hukum,” kata Kepala suku.

Berkat keberadaan peninggalan yang masih terjaga desa plang kenidai masuk nominasi tiga besar Anugerah Pesona Indonesia (API) 2020 kategori kampung budaya.

Akan tetapi dia menyayangkan, generasi penerus para remaja di zaman yang sudah serba ada ini seraya mulai meninggalkan nilai adat istiadat sukunya.

“Seharusnya tidak demikian. Cerita ini harus berlanjut kesetiap generasi. Betapa hebatnya kakek buyut mereka yang telah lebih dulu memandang kemajuan,” pungkasnya. (Bim)

Komentar

Berita Lainnya