oleh

Kampanye Positif Penanganan Covid-19 Melalui Foto

SUMEKS.CO- Fotografer Arbain Rambey mengatakan foto sangat berperan dalam memberikan kontribusi dalam penanganan Covid-19. Saat talkshow bertema “Covid-19 dalam Foto” di Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Gedung BNPB Jakarta, Sabtu (19/9) pagi, pensiunan wartawan foto Harian Kompas itu menceritakan hasil esai fotonya saat pemakaman jenazah Covid-19 di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Pondok Ranggon, Jakarta Timur.

Arbain mengisahkan foto aktivitas pemakaman jenazah di kavling khusus muslim yang diabadikannya menggunakan drown camera berketinggian sekitar 30 meter. Dalam jepretannya itu ia menggambarkan padatnya makam jenazah korban Covid-19 dengan dua buah mobil ambulance yang berdekatan.

“Saking padatnya ambulance yang satu belum selesai sudah datang lagi ambulance baru. Betapa mengerikan situasinya saat motret di sana,” ujar Arbain Rambey yang lagi sibuk jadi juri lomba foto yang diselenggrakan BNPB.

Arbain menjelaskan konten foto pemakaman jenazah Covid-19 itu sebenarnya negatif. Tapi, momentum pemakaman dengan menunjukkan betapa padatnya makam dan derasnya mobil ambulance yang terus berdatangan bisa menjadi pelajaran bagi masyarakat bahwa faktanya Covid-19 itu ada.
Bahkan kata dia, jepretannya itu diambil oleh media dari Australia dengan keterangan foto Jakarta menghadapi kesulitan lahan pemakaman korban Covid-19.

Selain kedatangan ambulance, Arbain yang mengikuti prosesi pemakaman selama satu jam di TPU Pondok Ranggon itu mengambil kerumunan keluarga pengantar jenazah Covid dijarak 50 meter dari lubang galian yang dinilainya berpotensi menjadi klaster baru.

Di lain sisi Arbain juga mencontohkan hasil jepretan rekan sesama fotografer yang dinilainya kurang produktif dalam mengangkat isu Covid-19. Ia menyebutkan foto tersebut menceritakan seorang fotografer profesional menggunakan alat pelindung diri (APD) lengkap saat mengambil gambar dan di sebelahnya beberapa orang berdiri tanpa mengenakan masker. Baginya, karya itu menjadi ironi.

“Foto seperti ini akhirnya menimbulkan bahan tertawaan saja. Masyarakat jadi menilai untuk apa menggunakan alat pelindung diri lengkap kalau yang disebelahnya sama sekali tidak peduli, tanpa masker,” ujarnya.

Pada momentum lain Arbain pun melayangkan kritik tentang karya rekan fotografer di lapangan yang mengambil foto pemberian sanksi sosial bagi pelanggar Covid-19 berupa hukuman push-up. Momen tersebut dianggap hanya menunjukkan kecerobohan dalam penanganan Covid-19.

“Sebagai fotografer jangan mengambil yang receh-receh, seperti anak-anak muda yang disuruh push up karena tidak menggunakan masker. Itu hanya jadi bahan tertawaan saja,” ujarnya.

Talkshow itu ditutup dengan ajakan Arbain terhadap para fotografer Indonesia untuk memotret semua yang bisa memberikan penerangan kepada orang lain. “Pesan moral yang disampaikan dengan menunjukkan fakta-fakta di lapangan saja. Seperti ini loh situasi makam Covid-19,” ujarnya. (timkomunikasi/covid19))

Komentar

Berita Lainnya