oleh

Kantin Bersahaja, Sadar Lingkungan

PENGUNJUNG cukup menyusuri Jalan Sungai Sahang, Ilir Barat I, Palembang, untuk sampai ke Maatoa Eco Canteen and Sustainability Space. Kantin berkonsep lingkungan ini benar-benar merefleksikan pemikiran sang pemilik, Tasmania Puspita (66) atau lebih akrab disapa Ibu Tas, pensiunan dosen Pendidikan Biologi FKIP Universitas Sriwijaya.


Wendy Fermana Putra, Palembang

Tempatnya sederhana. Lingkungannya teduh dipayungi beraneka ragam pohon. Pengunjung bakal disambut dengan bangunan serbakayu yang bersahaja. Mulai dari tiang bangunan, perabotan seperti meja dan tempat duduk, semuanya terbuat dari batang kayu.

“Tiga tahun jelang pensiun saya mulai ‘mulung’. Ada banyak batang kayu besar yang ditebang dan dibuang tetangga begitu saja. Itulah yang kemudian saya ambil dan simpan. Akar pohon itu saya bersihkan. Saya bikin jadi kaki meja. Batangnya saya minta bantuan seorang tukang untuk dibikin tempat duduk,” ujarnya.

Sebetulnya tujuan awal Ibu Tas selepas pensiun adalah membuka galeri. Namun, ia sadar Palembang belum memiliki iklim berkesenian seperti layaknya Jogja atau Bali. Ia kemudian teringat empat puluh tahun silam, saat masih mahasiswa di Jogja, ia memiliki keuangan dan akomodasi yang sulit. Tiga hari jelang akhir bulan, ia kerap tak punya uang lagi buat makan. Beruntungnya, ia mahir menjahit, menyulam, merenda, menukang, dan lainnya. Keterampilan itulah yang dijajakannya kepada tetangga agar dapat ditukar dengan seporsi makanan.

“Tidak bisa ngebon lagi di warung. Takut kebanyakan tidak bisa bayar. Sejak itu, saya berniat, saya ingin membantu memberi makan mahasiswa dengan harga yang semurah-murahnya,” kenang Ibu Tas.

Karena itu, jangan heran di Kantin Maatoa pengunjung bisa mendapatkan makanan murah meriah dengan kandungan gizi yang lengkap. Misalnya, paket mahasiswa dihargai Rp5 ribu saja. Pengunjung sudah bisa menyantap nasi, tempe/tahu, ikan asin, sayur asem, sambal, lalapan, dan kerupuk.

Ibu Tas menyebut, Maatoa sangat menjaga kualitas bahan makanan. Ia setiap pagi berbelanja sendiri memastikan semua bahan makanan segar. Sebab tidak boleh ada bahan makanan yang masuk kulkas. Semua harus habis hari itu juga. Di Maatoa juga tidak ada menu daging, ayam broiler, tidak ada tepung gandum. Alasannya faktor kesehatan.

“Saya selalu bilang, yang kita jual itu healthy food. Kalau rasanya enak, itu cuma bonus. Kita juga gunakan minyak kelapa. Biarpun mahal yang penting sehat. Terasi dibuat dari ikan, bukan udang. Saya produksi sendiri dari ikan kecil untuk pastikan tidak ada bahan kimiawi buatan,” ujarnya.

Kantin Maatoa punya visi untuk meminimalkan penggunaan plastik. Di sini tak ada peralatan makan terbuat dari plastik. Yang digunakan adalah piring dan gelas dari stainless, alumunium, porslen, keramik, atau beling. Yang organik gunakan bakul dari anyaman lidi dan rotan atau mangkuk dari batok dan batang kelapa. “Mulai dari belanja kita bawa wadah sendiri. Memang tidak bisa nol plastik, tapi kita usahakan betul untuk hindari,” ujarnya.

Selain merusak lingkungan, dijelaskannya, partikel Polietilena tereftalat (PET) yang berukuran nanometer tidak bisa terurai dan sangat membahayakan kesehatan makhluk hidup. Oleh sebab itu, pengunjung yang ingin membawa makanan dari Maatoa ke rumah, ia menganjurkan untuk membawa sendiri wadahnya. “Terutama untuk makanan berkuah, kita tak siapkan plastik. Kalau yang kering, kita bisa bungkuskan dengan daun,” jelasnya.

Lalu apa makna Maatoa? Ternyata ini nama salah satu pohon buah yang ditanam Ibu Tas. Tangannya gemar merawat alam. Beragam pohon yang jarang ditemui, tumbuh di pekarangannya. Seperti pohon matoa dan pohon buah nasi-nasi. Jika musim panen, buah-buahan ini dihadiahkan secara cuma-cuma buat pengunjung, kerabat, dan rekan sejawat. “Banyak sekali yang belum tahu, belum pernah lihat, dan belum pernah mencicipi. Biar jadi amal, memberi orang kebahagiaan,” tuturnya.

Diakuinya dengan harga makanan yang ditawarkan sangat murah ini untung yang didapat sangat kecil. Menu-menu seperti nasi gado-gado, nasi sop ayam kampung, nasi telur ayam kampung, nasi pecel lele, nasi ayam geprek, dan nasi ayam kampung goreng, yang serba lengkap dibanderol mulai Rp8 ribu-18 ribu saja. “Cukup untuk menggaji empat pegawai, kita numpang makan, bayar-bayar rekening tagihan, dan lainnya,” katanya.

Maatoa pun kini banyak dilirik untuk dijadikan tempat alternatif untuk gelar acara dalam skala kecil. Seperti arisan, diskusi, gathering hingga reuni. Saat ini, di atas kolamnya ia tengah membangun ruangan untuk mengakomodasi tempat seminar kecil dan kantor konsultasi psikologi anaknya. Sengaja tak ditimbun tanah agar tetap ada kolam resapan air. Ia berharap, konsep eco canteen and sustainability space ini bisa menginspirasi orang lain untuk membangun ruang alternatif semacam ini. “Saya ini pensiun sehat karena itu saya ingin bermanfaat. Apa yang bisa saya lakukan untuk jaga lingkungan, saya kerjakan,” pungkasnya. (cj16)

Komentar

Berita Lainnya