oleh

Karhutla, Danrem ini Kecam Perusahaan

PALEMBANG – Pusat Data Informasi Daerah Rawa & Pesisir bekerja sama dengan Harian Sumatera Ekspres menggelar diskusi pencegahan dan penanggulangan karhutla di Graha Pena (kantor Sumeks Grup), Selasa (24/9).

Hadir dalam diskusi Danrem 044/Gapo Kolonel Arh Sonny Septiono, Kabid Humas Polda Sumsel Kombes Pol Supriadi, perwakilan Badan Restorasi Gambut Dr Syafrul, perwakilan Kejaksaan, BMKG, Dinas Kehutanan Sumsel, BPBD, dan instansi lainnya.

Sonny yang mendapat kesempatan pertama menjadi narasumber mengatakan bahwa upaya yang dilakukan pemerintah, TNI, Polri, dan pemda dalam memadamkan api di lapangan sudah maksimal. Seluruh petugas bekerja hampir 24 jam. Hanya saja karena luasnya lahan yang terbakar dan terbatasnya peralatan, api sulit dipadamkan.

“Saya ini hampir setiap menit menerima WA dari Pak Pangdam (Mayjen TNI Irwan) yang bertanya penanggulangan api di Sumsel,” kata Sonny.

Dikatakannya, petugas dalam memadamkan api, membuat parit atau pemisah lahan yang mudah terbakar dengan jarak 15 meter. Alat milik perusahaan dikerahkan untuk membuat galian sehingga api tidak bisa meloncat. Kalau sekat jaraknya kurang dari 15 meter, api bisa meloncat.

“Saya lihat sendiri api itu bisa meloncat,” ujarnya.

Dia menyesalkan kebakaran hutan yang terjadi karena perusahaan menyuruh masyarakat membakar lahan. Laporan intelijen yang diterimanya menyebutkan seperti itu.

“Perusahaan memang tidak menyuruh, tetapi usai lahan terbakar beberapa hektare, masyarakat meminta jasa kepada perusahaan,” tukasnya.

Seharusnya, sambung Sonny, masyarakat yang tidak memiliki pekerjaan itu, diberi usaha bercocok tanam. Sehingga tidak mengharap imbalan dari membakar lahan.

“Hanya karena uang Rp2 juta, masyarakat mendapat imbalan dari perusahaan,” pungkasnya. (dom)

Komentar

Berita Lainnya