oleh

Kasus Jembatan KTM, Tanda Tangan Manajer Dipalsukan

SUMEKS.CO,PALEMBANG – Majelis hakim Pengadilan Tipikor Palembang, Senin 3/5) kembali menggelar sidang lanjutan perkara dugaan korupsi proyek pembangunan jembatan Kawasan Terpadu Mandiri (KTM) Sungai Rambutan Kabupaten Ogan Ilir tahun 2017 dengan agenda menghadirkan saksi-saksi dari penuntut umum pidsus Kejari Ogan Ilir (OI).

Sebanyak empat orang saksi dihadirkan langsung di ruang sidang dihadapan majelis hakim Tipikor diketuai Sahlan Effendi SH MH, untuk pembuktian perkara yang menjerat tiga terdakwa yakni mantan Kadisnaker serta Kadisnaker nonaktif Ogan Ilir Ir H Asmiran dan Ahmad Saili ST, kontraktor proyek PT Wilko Jaya Chris Sunardi.

Hampir keseluruhan saksi yang dihadirkan dalam persidangan terkait dengan kontraktor proyek pembangunan jembatan yang diduga merugikan keuangan negara sebesar Rp 2,9 miliar dari nilai total proyek Rp 6,9 miliar bersumber dari APBN tahun anggaran 2017.

“Saya selaku manager utama PT. Lebong Karang Sakti tidak mengetahui bahwa perusahaan saya ternyata mengikuti proses penawaran tender pembangunan jembatan, saya baru mengetahui saat diperiksa oleh tim penyidik,” ungkap salah satu saksi bernama Syarifudin berikan keterangan di hadapan majelis hakim.

Dirinya menduga data serta berkas perusahaan PT. Lebong Karang Sakti untuk ikut lelang proyek tersebut dipalsukan oleh seseorang, menurutnya berkas perusahaan miliknya tersebut hanya diketahui oleh temannya bernama Zainal itupun dipinjam jauh sebelum adanya proyek itu.

“Saya perintahkan kepada pak Jaksa pada persidangan selanjutnya hadirkan saksi bernama Zainal di persidangan,” pinta Zunaidah SH MH salah satu hakim anggota.

Hal senada diungkapkan saksi lainnya manajer PT Lebong Karang Sakti bernama Hafrida menambahkan stempel serta tanda tangan pada berkas penawaran sebagaimana barang bukti penyidik itu semua dipalsukan oleh seseorang.

“Setahu saya perusahaan tidak pernah memberikan kuasa penawaran pada proyek itu kepada siapapun, dan setelah dicek dalam berkas nama saya dicatut dan tanda tangan saya pun berbeda,” ungkap Hafrida.

Atas keterangan saksi-saksi, penasihat hukum masing-masing terdakwa tidak keberatan dan persidangan akan dilanjutkan pada pekan depan dengan agenda masih mendengarkan keterangan saksi dari penuntut umum Kejari OI.

Ditemui usai sidang, Arief Budiman SH penasihat hukum untuk terdakwa Asmiran mengatakan penuntut umum Kejari Pali menghadirkan saksi yang tidak ada hubungan sama sekali dengan kliennya dan tidak membuktikan apapun.

“jelas tadi saksi yang dihadirkan seluruhnya dari adalah perusahaan kontraktor pendamping dari PT. Wilko Jaya atas nama terdakwa Chris Sunardi yang tidak ada keterkaitan sama sekali dengan klien kami,” sebut Arief.

Dalam keterangan saksi juga menurut Arief, ada semacam salah informasi ke pihak penyidik kala itu yang menyatakan terdakwa Asmiran adalah orang dari Dinas Pekerjaan Umum (PU) padahal bukan orang PU. (fdl)

Komentar

Berita Lainnya