oleh

Kasus WO Bodong, Pemilik Wedding Organizer Resmi Tersangka

CIANJUR – Polisi akhirnya menetapkan pemilik wedding organizer ‘High Level Cianjur’, Bintang Juwita Maghfirli, sebagai tersangka penipuan dan penggelapan kasus WO bodong.

Penetapan status tersangka dilakukan setelah polisi menerima laporan dari dua pasangan pengantin dan pemeriksaan sejumlah saksi serta pemeriksaan terhadap tersangka sebelumnya.

“Benar, sudah kami tetapkan sebagai tersangka. Sekarang kami masih terus mendalami apakah tersangka bekerja sendiri atau ada orang lain,” ungkap Kasatreskrim Polres Cianjur, AKP Niki Ramdani, Kamis (20/2/2020).

Kendati demikian, pihaknya tidak menahan pelaku dengan alasan kemanusiaan. Pasalnya, perempuan cantik berhijab itu tengah mengandung delapan setengah bulan.

“Dari pemeriksaan dokter juga menyatakan tersangka akan melahirkan dalam waktu dekat. Jadi ini murni alasan kemanusiaan,” terangnya.

Pertimbangan lain adalah, penyidik meyakini bahwa tersangka tidak akan melarikan diri dan tidak akan menghilangkan barang bukti.

“Tersangka selama ini juga sangat kooperatif. Kami juga mempertimbangkan kondisi psikologis tersangka yang akan melahirkan,” jelas Niki.

Sampai sejauh ini, lanjut Niki, pihaknya baru mendapat dua laporan dari dua pasang pengantin yang merasa tertipu tersangka. Kedua korban, mengaku sudah menyerahkan uang kepada Bintang sebesar Rp30 juta dan Rp50 juta.

Pihaknya mengimbau, kepada warga yang merasa tertipu jasa yang ditawarkan Bintang, agar melapor ke Polres Cianjur agar bisa ditindaklanjuti.

“Kami tidak tahu persis total jumlah korbannya. Namun kami sudah membuka posko pelaporan dan mempersilahkan warga yang merasa tertipu agar membuat laporan,” imbaunya.

Atas perbuatannya, polisi menjerat pelaku dengan Pasal 378 dan Pasal 372 tentang penipuan dan penggelapan.

“Ancaman hukuman sampai dengan empat tahun penjara,” pungkas Niki.

Untuk diketahui, selama ini pelaku menawarkan jasa wesding organizer melalui Instagram dengan nama ‘High Level Cianjur’. Pelaku juga membandrol jasanya dengan sangat murah.

Bahkan, pelaku berani memberikan diskon sampai 50 persen jika pembayaran dilunasi di muka. Akan tetapi, setelah korban melunasi pembayaran, pelaku sulit dihubungi dan selalu menghindar.

Korban selama ini sudah berusaha menempuh penyelesaian secara kekeluargaan. Namun korban menilai pelaku sama sekali tak memiliki itikad baik untuk mengembalikan uang yang sudah diserahkan. (ruh/pojoksatu)

Komentar

Berita Lainnya