oleh

Kebijakan Menteri Perikanan dan Kelautan Pukul Industri Perikanan

-Nasional-242 views

JAKARTA – Hampir lima tahun Susi Pudjiastuti menjabat sebagai menteri Perikanan dan Kelautan (KKP). Tidak banyak yang berubah dalam sektor perikanan, akibatnya banyak industri perikanan yang gulung tikar.

“Sebanyak 14 pabrik surimi di Pantura mati suri, sentra industri pengolahan perikanan di Belawan, Muara Baru, Cilacap Benoa, Bitung, Ambon, Kaimana dan Sorong juga mati suri akibat kekurangan bahan baku,” kata Ketua Umum Masyarakat Akuakultur Indonesia (MAI), Rokhmin Dahuri kepada Faja Indonesia Network, pekan lalu.

Menurut mantan Menteri KKP periode 2001-2004 itu kinerja ekonomi kelautan dari nelayan dan masyarakat kelautan lain, pertumbuhan ekonomi, kontribusi terhadap produk domestik bruto (PDB), nilai ekspor, pemerataan pembangunan, dan penyediaan lapangan kerja masih jauh dari harapan.

“Masalah utamanya di ekonomi sektoral hancur lebur. Walaupun dari sudut penegakan hukum saya kira sudah cukup membuahkan hasil. Paling tidak, ada efek jera soal illegal fishing, soal konservasi juga,” uja dia.

Selain itu, lanjut Rokhmin, Susi juga kurang menangkap peluang pengembangan industri perikanan. Salah satunya budidaya perikanan. Padahal, potensinya di Indonesia sangat besar. Belum lagi mengenai value edit process, industri pengolahan dan industri bioteknologi juga dinilai belum dikembangkan dengan baik.

Catatan dia, potensi ekonomi akuakultur Indonesia mencapai 3 juta hektar lahan pesisir yang cocok untuk dijadikan tambak udang. Dia mencontohkan, untuk 500 ribu hektar lahan tambak dengan produktivitas 40 ton/hektar/tahun maka dapat dihasilkan produksi sekitar 20 juta ton udang dengan harga udang sekitar 5 dolar AS per kg, maka dapat dihasilkan 100 miliar dolar AS per tahun setara dengan 100 persen PDB nasional.

Menanggapi tudingan Rokhmin, Badan Riset dan SDM Kelautan dan Perikanan KKP, Sjarief Widjaja mengklarifikasinya bahwa kehidupan nelayan meningkat dengan stok ikan yang berlimpah. “Tahun 2013 masih 6,5 juta ton, sekarang sejak 2017 bisa mencapai 12,54 juta ton,” kata dia.

Dia menjelaskan, peningkatan stok ikan otomatis meningkatkan penghasilan nelayan. Selain itu, nilai tukar nelayan juga melesat dari yang semula 102-103 ke 113-114. Di sisi lain, nilai tukar usaha perikanan juga naik menjadi 127. Dengan demikian, klaimnya nilai kesejahteraan nelayan saat ini meningkat.

Terpihsa, pengusaha perikanan, Thomas Darmawan mengeluhkan berbagai kebijakan yang dikeluarkan Menteri Susi yang lebih banyak merugikan ketimbang berpihak pada pengusaha dan nelayan.

“Kami berharap KKP dapat berdampingan dengan pelaku usaha untuk mendorong kemajuan sektor perikanan karena sektor ini punya potensi yang besar termasuk dari sisi hilirnya, kita harusnya bisa menjadi eksportir ikan terbesar dunia, yang seharusnya mampu mendorong PDB perikanan menjadi lebih besar,” tegas Thomas kepada Fajar Indonesia Network (FIN), kemarin (11/8).

Faktanya menunjukan PDB sektor perikanan pada triwulan III 2018 mencapai Rp98,07 triliun. Dengan pertumbuhan PDB konstan dari 2010 PDB perikanan sebesar Rp59,98 triliun tumbuh 3,7 persen dari triwulan yang sama tahun sebelumnya. Artinya capaian tersebut lebih rendah dari pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,17 persen.(ds/din/fin)

Komentar

Berita Lainnya