oleh

Kecolongan Karhutlah, Gubernur Minta Pemkab OI dan Muba Serius

SUMEKS.CO, PALEMBANG – Pemprov Sumsel  bukan tanpa persiapan, bahkan dapat dikatakan cukup responsive mengantisipasi adanya kebakaran hutan dan lahan (Karhutlah) diantara Provinsi-provinsi lain. Sumsel berstatus siaga darurat sejak Maret 2021 lalu.

Tapi ternyata Sumsel masih kecolongan. Betapa tidak, di musim peralihan antara musim penghujan dan musim kemarau seperti sekarang, telah terjadi tiga kasus kebakaan. Skalanya pun cukup besar, total belasan hektare yang terbakar. Semua terjadi di Kabupaten Ogan Ilir dan Musi Banyuasin.

Yakni Kebakaran pertama terjadi di pada Februari 2021 lalu, menghanguskan sembilan hektare (Ha) lahan gambut di Desa Mekar Jaya, Kecamatan Bayung Lencir, Kabupaten Musi Banyuasin (Muba).

Lalu, dua Ha lahan di Desa Talang Pangeran Ilir, Kecamatan Pemulutan Barat, Kabupaten Ogan Ilir hampir lima jam saat mendekati dini hari pada 26 Mei 2021.

Terbaru kebakaran terjadi di kawasan Desa Talang Pengeran Ulu (TPU) dan Desa Talang Pengeran Ilir (TPI) Kecamatan Pemulutan Barat Kabupaten Ogan Ilir (OI) berkisar seluas 1,5 Hektare. Petugas dari Menggala Agni, BPBD, TNI-Polri, kesulitan, karena lokasi kebakaran sangat sulit dijangkau. Selain tidak ada jalan setapak menuju lokasi, kondisi areal masih berair dan berlumpur. Hingga Selasa (1/6) dini hari belum berhasil dipadamkan.

Gubernur Sumatera Selatan (Sumsel), H Herman Deru membenarkan saat ini mulai timbul titik panas dimana-mana. Disusul curah hujan sudah mulai menurun. Oleh sebab itu perlu adanya perhatian serius dari struktur pemerintah di daerah.

“Saya menghimbau kepada seluruh struktur pemerintahan daerah sampai tingkat desa dan RT serius terhadap pencegahan kebakaran lahan. Masyarakat diingatkan jangan menyalakan api. Bila harus menyalakan api dalam kegiatan mereka harus diawasi,” ujar Deru, dikutip SUMEKS.CO, pada Rabu (2/6)

Ia menjelaskan, kebakaran terjadi di daerah yang sudah terinventarisir. Ada 10 daerah yang menjadi prioritas pemerintah. Tapi ganjilnya dengan adanya kasus tersebut membuktikan karhutlah masih menjadi ancaman yang sulit dihentikan atau bahkan lemah pengawasannya.

“Maka untuk itu minta juga kepada petugas TNI – Polri tingkatkan pengawasan dilokasi yang terintinventarisir tersebut. Karena mengatasi permasalahan kecil lebih mudah dari pada apinya sudah membesar dan sulit terpadamkan. Termasuk penindakan bila mana ditemukan unsur kesengajaan manusia didalamnya,” tandasnya. (Bim)

Komentar

Berita Lainnya