oleh

Keliling Genting, Kunjungi Sekolah dan KBRI

-Edukasi-195 views

Tour edukasi para rombongan pemenang guru favorit dan lomba jurnalistik tingkat SMP se Kota Palembang di Negeri Jiran Malaysia pada hari kedua, Minggu (13/10) tidak kalah seru dengan hari pertama.

Hendro – Kuala Lumpur

Para rombongan sebanyak 16 orang terdiri dari 2 orang pejabat Dinas Pendidikan Kota Palembang, Drs A Haris Basid MSi Kasi Ketenagaan SMP Bidang Guru dan Tenaga Pendidikan dan Nawawi SPd SIp Staff PGTK.

Guru favorit ada 5 yakni Nyimas Yurita SPd dari SMPN 8 Palembang, Hj Liana Meilawati dari SMPN 13 Palembang, Iin Sainah Sadali MPd dari SMPN 20 Palembang, Hj Tri Suyatmi SS SPd dari SMPN 21 Palembang dan Reni Zainal Abidin SPd dari SMPN 10 Palembang.

Sedangkan pelajar 5 orang, Alisya Deka dari SMAN 6 Palembang, Aurellia Hayatunisa dari SMAN 1 Palembang, Risvi Yeoransyah dari SMAN 4 Palembang, Masayu Aulia Ramadhani dari SMAN 22 Palembang, Aurora Anastasia dari SMA Muhammadiyah 1 Palembang.

Ikut juga 2 orang tua yang mendampingi anaknya, Sri Kirana Meidiani ibu dari Alisya Deka dan Richa Maya Sari ibu dari Aurellia Hayatunisa.

Selanjutnya 1 orang dari agen travel Nusa Tour (Sumeks Grup), Yenny Des Indra dan 1 orang Jurnalis Sumeks, Hendro SEI.

Guide perjalanan kali ini diganti Ismail, perjalan di mulai dari Hotel di Kuala Lumpur menuju Genting Highlands. Sampai disana rombongan naik Awana Skyway atau kereta gantung biayanya 16 RM bolak balik.

“Fasilitas di Genting ini pihak swasta yang mengelolanya dan kereta gantung ini baru sekitar dua tahun beroperasi,” kata Ismail.

Pemandangan di dalam kereta gantung sangat bagus karena bisa melihat kawasan Genting dari atas. Namun ada sebagian rombongan yang takut ketinggian.

Di puncak Genting fasilitasnya lengkap, mulai dari mall, restoran, hotel, tempat bermain, casino dan lainnya. Cuaca disana cukup dingin, guide menyarankan untuk membawa jaket.

Setelah puas berkeliling, rombongan kembali turun menaiki Skyway atau Cable Car. Ada 3 tempat pemberhentian Cable Car, rombongan turun di tempat terakhir.

Ismail menjelaskan, tahun depan ada wahana baru 20th Century Fox World yang rencananya selesai 2020 nanti. “Mungkin bisa tahun depan ke sini lagi,” katanya saat di dalam Cable Car dan menunjuk ke arah wahana baru tersebut.

Selanjutnya makan siang bersama dan setelah itu Ismail mengajak rombongan ke Genting Strawberry Leisure Farms dengan biaya 15 RM per orang. Rombongan bisa petik sendiri Strawberry dan terdapat berbagai macam bunga.

Rombongan lanjut ke Colmar Tropicale, Berjaya Hills jaraknya cukup jauh dari taman Strawberry dan masuknya 16 RM. Di dalam terdapat bangunan seperti di Prancis. 

Malamnya rombongan makan di Restoran Warisan Batu Caves karena bersebelahan dengan Batu Caves namun tidak mampir ke sana. Setelah itu pulang ke hotel untuk istirahat.

Esoknya, Senin (14/10) mengunjungi sekolah di Malaysia, Greenview Islamic School, sekolah ini terkenal elit di Malaysia. Para rombongan antusias mengikuti pertemuan dengan pihak sekolah dan melihat sekolah-sekolah.

Pertemuan singkat diberikan pihak sekolah yang dipimpin Principal,

Dr. Seyyid Hussein dan didampingi Teacher, Mr Chaibou. Siswa dan guru antusias berdialog dengan kepala sekolah dan guru di sana.

“Di sekolah kita maksimal ruang kelas 15  orang dan fasilitasnya lengkap, ada ruang perpustakaan, laboratorium dan sekolah kami mulai dari tingkat dasar hingga menengah (SMA),” ujar Seyyid menggunakan Bahasa Inggris.

Lanjutnya, kurikulum hanya satu, Cambridge International dan mengutamakan Bahasa Inggris. Namun pelajaran Agama Islam juga ditekankan sehingga setara.

“Ada dua siswa kita yang berasal dari Indonesia disini,” jelasnya.

Peserta rombongan, Alisya Deka SMAN 6 Palembang mengaku senang bisa berkunjung ke sekolah di Malaysia. “Banyak pengalaman yang kami dapat dan bisa memotivasi kami untuk lebih giat lagi sehingga bisa mengejar cita-cita kedepan,” katanya.

Selanjutnya rombongan ke Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Kuala Lumpur, Malaysia. Banyak pengetahuan yang didapat siswa dan guru mengenai pendidikan di Malaysia.

Rombongan disambut perwakilan KBRI Devisi Pendidikan dan Budaya, Erwinsyah SH LLM dijelaskannya, negara lain tidak pakai nilai namun prestasi sehingga yang masuk di universitas bersaing prestasi.

“Kalau di Indonesia, siswanya hanya 2 yang ditakuti, ujian dan penerimaan raport. Tapi kalau di Malaysia tidak,” katanya.

Bahkan di Singapura lebih susah lagi, lebih ketat. Namun saat mereka keluar sudah ada keahlian.

Di KBRI ini seminggu sekali ada program paket A B C untuk edukasi, keahlian komputer, bahasa inggris bagi WNI.

“Tidak itu saja jika berhasil dilanjutkan ke universitas. Sumber masalah TKI di sini bukan dokumen tapi pendidikannya, maka itu harus diberi edukasi,” jelasnya.

Ketua rombongan, A Haris Basid mengucapkan terima kasih kepada KBRI telah mengizinkan berkunjung ke KBRI. “Banyak pengetahuan yang didapat dari KBRI ini. Mengenai informasi sekolah dan universitas di sini. Banyak pengetahuan yang didapat oleh siswa dan guru,” ucapnya. 

Setelah itu Ismail mengajak rombongan untuk berbelanja oleh-oleh di Plaza Sungei Wang. Lalu makan malam dan pulang ke hotel. (eno)

Komentar

Berita Lainnya